SIMPANG LIMO BENGKULU

AvatarTempat berbagi cerita tentang Bengkulu. Berharap menjadi salah satu sumber informasi mengenai daerah ini. Selamat membaca...

Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

CRYSIS, CRYSIS & CRYSIS OH MY POOR CITY

oleh: Sev Pascal

Ketika Kemajuan yang didamba menjadi kemunduran, apalah arti sebuah perubahan. Perubahan ternyata malah kearah kemunduran. Memang berubah tapi ternyata perubahan yang berbalik perubahan yang terlihat megah hanyalah sekedar kamoflase yang penuh kebobrokan. oh Malangnya nasib kota ini.


This pict- property of sunarto.files.wordpress.com


Bengkulu kini, (sampai detik tulisan ini dibuat) ternyata semakin berubah menjadi Kota Bengkulu yang full of crysis.

Mungkin pembaca mau tahu kenapa aku menulis postingan macam ini. Alasannya sederhana tapi sungguh menjengkelkan bagiku. Bagaimana tidak, dari hari kehari ternyata kota ini semakin mengalami krisis di berbagai bidang. contoh sederhana dari mulai kekurangan air bersih akibat pasokan air PAM yang sudah hampir seminggu ini di wilayah Sawah Lebar dan sekitarnya yang tidak mengalir bahkan di sukamerindu di rumah kakakku air dari PDAM telah berbulan-bulan sulit mengalir hal ini sangat memaksaku benar-benar kerepotan karena kurangnya air bersih krisis air ini juga diperparah dengan aliran listrik yang selalu mati hampir setiap hari. Benar-benar membuatku sangat kecewa pada kinerja PLN di sini apa mungkin akan seperti PLN di Bengkulu Selatan khusunya Kota Manna yang sudah terbukti amat jarang hidupnya daripada matinya? Padahal kita ketahui bersama bahwa Listrik dan air ini merupakan kebutuhan yang mendasar dewasa ini, bukan itu saja yang merepotkan kadang-kadang aliran listriknya hidup tapi tegangannya melorot hingga dibawah ambang batas, tentu saja hal ini membuat banyak peralatan elektronik menjadi rusak. Terutama aku yang hampir tiap hari tak pernah lepas dengan benda kesayanganku " komputer 'PC' ku" sehingga kerjaan ku yang berhubungan dengan ketik mengetik dan cetak mencetak menjadi amburadul tak tentu arah.

Di lain pihak fasilitas umum seperti jalan dan jembatan dari hari kehari bukannya semakin baik tapi tambah parah. lihat saja jalan-jalan yang ada di kota Bengkulu ini rata-rata kerusakkannya amat sangat parah dan tidak sebanding dengan perbaikan jalan yang menurutku sebatas tambal sulam sebagai contoh jalan Sawah Lebar hingga simpang Panorama menurutku adalah jalan yang amat sangat parah kerusakkannya terutama depan Bank Safir Bengkulu, kerusakan ini ternyata bukan hanya karena kualitas jalan atau aspalnya saja yang jelek melainkan memang diperparah dengan kendaraan yang melewatinya yang beratnya di luar ambang batas tonase jalan itu sendiri. Akibat dari jalan yang buruk ini sudah barang tentu adalah kecelakaan bagi pengguna jalan itu sendiri, seperti beberapa hari terakhir banyak sekali kendaraan terguling ketika hujan turun, dan banyak seklai kendaraan roda dua yang masuk ke dalam lobang seperti halnya yang pernah aku alami di tahun 2008 yang lalu ketika kendaraanku terperosok ke dalam lobang jalan yang ada di dekat Simpang Bandar Raya-Rawa Makmur hingga terpaksa aku tak dapat beraktifitas untuk sekian waktu karena tulang bahu ku mengalamai cedera. Perlukah korban-korban lainnya berjatuhan? lalu ke mana anggaran perbaikan jalan yang ada? Aku tak tahu yang jelas bagiku pembangunan itu bukan sekadar membangun Ruko, bukan sekadar membangun jogging track atau sebatas mempercantik pesisir pantai atau bukan juga sekedar mengganti nama kota dari Bengkulu menjadi Bencoolen tapi bagiku pembangunan adalah juga memperbaiki sarana dan prasarana yang langsung berhubungan dengan kepentingan rakyat kecil seperti aku ini.

Sesungguhnya bukan aku ingin menjelek-jelekkan kota dimana aku tinggal tapi ini murni ungkapan perasaan seorang rakyat kecil macam aku yang melihat dari kacamata seorang rakyat kecil. Ternyata bengkulu benar-benar berubah.

Baca selengkapnya....

Perlukah Bengkulu menjadi Bencoolen?

Beberapa hari ini usulan pergantian nama Bengkulu menjadi Bencoolen menjadi topik hangat di mailing list Blogger Bengkulu. Karena mailing list ini bersifat tertutup, maka hanya anggotanya saja yang dapat berpartisipasi di dalam diskusi. Perdebatan hangat ini, saya pikir perlu dinikmati oleh sanak-sanak lain dari Bengkulu atau mereka yang pernah memiliki kenangan tersendiri terhadap Bengkulu. Silahkan menanggapi. | herman

03/30/2009 09:27 AM
Rezi:

Kepada semua sanak bengkulu,

malam tdi ketika membaca running text di tv one, saya kaget krna ada berita bahwa nama bengkulu berubah menjadi bencoolen, saya penasaran juga krn hanya running text aja, sampai akhirnya pagi ini menemukan artikel di sini mungkin bisa jadi referensi

Ada berbagai macam pendapat yang muncul, bagaimana dengan sanak semuanya...



03/30/2009 02:55 PM
Suharyanto:

Yah seperti kebanyakan komentar, rasanya kurang kerjaan dengan mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Kalo kita kaji dari berbagai aspek, Bencoolen hanyalah sebutan untuk Bengkulu, sama dengan Netherlan = Holand = Belanda, dll. Kalo memang merujuk kepada nama asli, semestinya BANGKAHULU, atau pakai aja namo kerajaan besar di Bengkulu tempo dulu, SILEBAR misalnnya.

Jika logikanya sama dengan Ujung Pandang menjadi Makassar tidaklah tepat, soalnya Makasar memang nama salah satu etnis di kota tersebut dan memang ada kerajaan Makasar. Yang jelas tidak diganti menjadi Maccassar (ucapan orang bule). Jika menggunakan logika "pejabat" kota Bengkulu tsb, maka Jawa bisa menjadi Jawadwipa, Kalimantan menjadi Borneo, Sulawesi menjadi Celebes, Maluku menjadi Molucas dan ha ha ha... lucu.

Bencoolen, terus melafalkannya apa. Bengkulen, atau ben-cu-len, atau beng-cu-lun... ha ha ha bisa-bisa kita dianggap sebagai orang "culun"...(just kidding).

Saya rasa ini memang kurang kerjaan....


03/30/2009 03:26 PM
H. Musiardanis:

(Tulisan saya ini sudah dimuat di Harian Bengkulu Ekspress beberapa minggu yang lalu dan karena jengkel dengan kekerasan kepala para pejabat Kota Bengkulu, maka Insya Allah besok tulisan saya yang berjudul "Lagi-lagi Bencoolen" akan dimuat lagi).
----------

Beberapa hari ini kita membaca polemik hangat mengenai satu gagasan luar biasa mengenai nama Kota Bengkulu. Salah satu dinas di kota Bengkulu mempunyai keinginan untuk mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Alasan yang dikemukakan untuk melakukan perubahan itu antara lain karena nama Bencoolen lebih dikenal di manca negara ketimbang Bengkulu, dan ini dapat dijadikan wahana untuk mempromosikan wisata di daerah ini.

Ironis, sungguh sesuatu yang menyedihkan apabila kita lebih menghargai nama yang diberikan oleh orang asing (British) daripada nama yang diberikan oleh nenek moyang kita sendiri. Seseorang yang pernah mempelajari bahasa Inggris seharusnya tahu bahwa ada satu norma dalam bahasa tersebut dalam memberi nama bagi sebuah kaum, suku atau bangsa. Biasanya dalam melakukan ini orang Inggris menambahkan suku kata -an, ian, -er atau -nese di ujung nama asli tempat suku itu berdiam, misalnya : Sundanese untuk orang Sunda; Javanese untuk orang Jawa; Chinese untuk orang Cina; Washingtonian untuk orang Washington; New Yorker untuk orang New York, dan sebagainya.

Norma bahasa ini juga tampaknya dilakukan oleh kolonial Inggris terhadap orang Bengkulu, ketika mereka berada di Bengkulu pada abad ke 18 dan 19. Menurut norma tersebut “orang Bengkulu” akan mereka sebut dengan kata “BENGKULUAN”. Kata ini kemudian dalam tulisan mereka tertera menjadi “BENKULUAN”, kemudian karena pengucapan kata tersebut di lidah mereka keluar dengan bunyi “BENKULUEN” maka lama kelamaan kata itu berubah total, baik dalam bunyi maupun dalam tulisan, menjadi “BENCOOLEN”. Nah, dari sini jelas bahwa kata Bencoolen lebih mengacu pada sebutan untuk orang atau suku Bengkulu (ingat juga kata Singaporean untuk orang Singapura).

Nama Bengkulu sendiri memang belum begitu jelas berasal dari benda atau peristiwa apa. Ada beberapa versi yang mencoba menjelaskan asal muasal nama Bengkulu. Ada yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari peristiwa berdarah ketika Bengkulu terlibat perang dengan kerajaan Aceh. Kata sumber ini, saking banyaknya orang yang tewas dalam pertempuran, bangkai-bangkai manusia berserakan sampai ke hulu sungai. Dari sini muncul kata “Bangkai ke Hulu” yang akhirnya menjadi
Bangkahulu. Sumber lain menyatakan bahwa nama Bengkulu adalah pemberian Demang Lebar Daun (Petinggi Kerajaan Palembang) yang melihat bahwa keindahan pantai Bengkulu sama persis dengan keindahan pantai di pulau Bangka. Berdasarkan itu Demang Lebar Daun kemudian mengatakan bahwa daerah ini adalah “BANGKA DI HULU”, yang kemudian berubah menjadi BANGKAHULU.

Terlepas dari sumber mana yang lebih layak kita percaya, kita semua pantas menganggap bahwa nama BANGKAHULU atau BENGKULU adalah nama yang benar dan asli dari kota/daerah ini, bukan BENCOOLEN. Kata Bencoolen hanyalah sebutan orang-orang Inggris terhadap penduduk asli atau suku yang tinggal di Bengkulu pada saat itu dan nama Bengkulu sendiri pasti sudah lama ada, jauh sebelum bangsa Inggris datang. Kembali, mengapa kita harus lebih memilih kata Bencoolen? Sedangkan saat ini kata Bencoolen hanyalah sebuah jalan kecil tak dikenal di kota Singapura (Bencoolen Street).

Sepatutnyalah kita berhati-hati, janganlah terlalu mudah melemparkan gagasan perubahan apabila hal itu belum terlalu mendalam kita fahami. Sama halnya dengan keinginan mengubah nama Bumi Rafflesia menjadi Bumi Merah-Putih. Semua orang tahu Rafflesia pertama kali diketemukan di Bengkulu, sehingga wajar apabila daerah ini disebut Bumi Rafflesia. Kalau daerah/kota ini diubah menjadi Bumi Merah-Putih, daerah/kota-kota lain akan tersenyum, dan mungkin juga marah, karena dari Sabang sampai ke Merauke semuanya adalah Bumi Merah-Putih!

Bengkulu, 15 Februari 2009.


03/31/2009 06:43 AM
H. Musiardanis:

Menyimak berita-berita koran beberapa hari terakhir ini saya benar-benar prihatin dan bersedih. Menurut berita, salah satu dinas di Kota Bengkulu masih tetap ngotot ingin mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen. Sudah banyak tanggapan yang diberikan oleh berbagai orang dari latar belakang yang berbeda tentang hal ini, rata-rata mereka tidak setuju kita mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen! Mengapa kita masih tetap ingin mengubah itu?

Secara sederhana saja, coba kita fikirkan bagaimana kita melafadzkan kata Bencoolen. Apakah Bencoolen kita ucapkan dengan bunyi Bencoolen (huruf C di tengah), atau berbunyi Benculin (juga dengan huruf C di tengah), atau berbunyi Benkulen (seperti bahasa Belanda). Begitu juga agar keseimbangan dalam tata bahasa tetap terjaga, apakah kita menyebut Kota Bencoolen atau Bencoolen City ? Ingat kata Bencoolen berasal dari pengucapan bahasa Inggris terhadap kata BENGKULUAN, yang
artinya Orang Bengkulu.

Saya fikir untuk apa kita mengubah nama asli yang telah diberikan oleh para pendahulu kita, dengan nama yang diberikan oleh orang-orang asing, yang datang belakangan. Alasan untuk lebih marketable juga tidak bisa diterima, selama ini kita sudah gencar mempromosikan Bengkulu dengan kata Bengkulu, bukan Bencoolen! Pergantian nama ini akan membawa dampak kita harus mulai dari awal lagi dalam memperkenalkan Provinsi dan Kota yang kita cintai ini. Nama Bencoolen di jaman kini lebih tidak dikenal dari pada nama Bengkulu.

Hal lain yang lebih prinsip dan mutlak harus dipertimbangkan adalah masalah aspek hukum tata-negara. Nama Provinsi Bengkulu dan Kota Bengkulu itu ditetapkan berdasarkan Undang-Undang NKRI, yakni dalam Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu. Kalau ingin mengubah nama Kota Bengkulu, ubah dulu bunyi Undang-Undang tersebut, tidak cukup hanya dengan mengajukan Perda baru. Mengubah undang-undang negara bukan wewenang daerah tapi adalah wewenang pemerintah Republik
Indonesia!

Sudah selayaknya kita menghimbau pemerintah Kota Bengkulu agar tidak usah mengubah nama Bengkulu, yang betul-betul trade-mark bangsa kita sendiri. Banyak tugas-tugas lain yang lebih penting dan bermanfaat yang perlu mendapatkan perhatian. Misalnya soal Warung Remang-Remang, soal jalan dalam kota yang rusak, soal Pedagang Kaki-Lima, soal penghijauan dan juga soal pengembangan taman-taman yang dapat berfungsi sebagai paru-paru kota. Prioritaskan dulu kegiatan pada hal-hal yang bermanfaat langsung terhadap warga kota, tunda dulu kegiatan-kegiatan yang terkesan hanya sensasional dan kurang bermanfaat secara langsung bagi kehidupan warga.

Bengkulu, 30 Maret 2009.


03/31/2009 09:05 AM
Ade Ferianty:

Salut Pak Danis,

Tulisan Bapak sudah memberikan informasi yang cukup mendalam. Dari awal mendengar isu perubahan nama ini, saya pribadi merasa tidak setuju, walaupun dengan alasan yg tidak "ilmiah" seperti yang diuraikan Pak Danis (saya merasa kata bencoolen kok terlalu mirp bahasa gaulnya Debby Sahertian :D)...dan setelah saya baca tulisan Pak Danis, memang sepatutnya kita menghimbau pemerintah kota Bengkulu untuk tidak mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen.

Masih banyak hal lain yang jauh lebih perlu diperhatikan dan diurus oleh pemda Bengkulu seperti yang pak Danis uraikan.

Semoga pemda Bengkulu juga akses blogger ini dan membaca masukan dari putra-putri Bengkulu.

Wassalam,
Ade.


03/31/2009 09:36 AM
Suharyanto:

Saya sangat setuju dengan pak Danis. Kita lihat, apakah para petinggi pemkot benar-benar mau mewujudkan mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Jika iya, saya pikir kita semua orang Bengkulu wajib menolaknya. Buat "petisi keberatan". Kita orang Bengkulu, bukan orang Bencoolen.

Baca selengkapnya....

Orang Rumah

oleh: Herman

Inilah ungkapan dalam masyarakat Jawa mengenai posisi perempuan: Awan thèklèk, mbengi lèmèk. Terjemahannya secara harfiah lebih kurang berarti "Siang hari sebagai alas kaki, malam hari sebagai alas tidur." Kita pun lebih sering mendengar ungkapan konco wingking, yang berarti mahluk yang hanya berada di belakang. Tidak pernah berada di depan sebab itu hanya posisi laki-laki atau sang suami. Budayawan dan sastrawan Umar Kayam menceritakan dengan baik kisah perempuan Jawa sebagai konco wingking dalam novelnya Para Priyai.

Lain lagi di masyarakat Batak. Di sini ada ungkapan parsonduk bolon atau partalaga. Parsonduk bolon berarti sendok besar, yang menunjuk pada peran perempuan yang menyendokkan nasi, menyediakan makan buat keluarga. Partalaga sendiri mengandung makna duduk dekat tungku dapur, yang berarti siap melayani.

Di Bengkulu, di masyarakat di mana saya dilahirkan dan mengenyam nilai-nilai sosial sekitar sejak lahir hingga masa remaja, ada pula ungkapan yang bermakna sama. Istri dikenal sebagai "orang rumah" yang memiliki pengertian mahluk yang hanya di rumah, melayani suami, mengurus anak-anak dan tidak memiliki akses yang baik terhadap dunia luar.

Ketika bertemu dengan teman-teman lama dari Bengkulu, saya sering mendapat pertanyaan, "orang rumah apo kegiatannyo?" atau "orang rumah kerjo dimano?". Terus terang, saya agak terganggu dengan pertanyaan ini, meski ia sulit dihilangkan sebab sudah menjadi budaya yang melekat dalam alam bawah sadar siapa saja yang sudah sekian lama menyerapnya. Meski demikian, baik ungkapan konco wingking, parsonduk bolon atau partalaga, apalagi "orang rumah" bukanlah sesuatu yang tak dapat dirubah bahkan dihilangkan demi lebih menghargai perempuan.

Dalam satu tulisan di the Jakarta Post (JP) tahun lalu (saya tak berhasil melacaknya di dokumen imel komputer), menceritakan bagaimana seorang lelaki mengasuh anak sementara istri sibuk bekerja. Istri memang memiliki kesibukan yang lebih daripada suami. Namun suami tidak pernah merasa terbebani ketika mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, mengasuh anak, bahkan mencuci pakaian.

Cerita mengenai suami melakukan pekerjaan domestik bukanlah hal baru bagi saya. Sejak kecil saya perhatikan bagaimana bapak bisa memasak. Saat mak (ibu) pulang ke dusun di Bengkulu selatan sana, ia bahkan mencuci pakaian kami. Waktu itu kami anak-anaknya masih kecil-kecil dan adik saya yang bungsu belum lagi lahir. Kami lima bersaudara dan yang bungsu lahir di tahun '85. Juga, sejak kecil saya terbiasa membantu orang tua mencuci piring, mencuci pakaian, menggosok (menyetrika), menemani mak memasak, bahkan membersihkan rumah. Pun, saya perhatikan tetangga kami biasa melakukan itu semua. Karena itulah, artikel di JP yang kalau tidak keliru ditulis oleh Julia Suryakusuma--sekali lagi--bukanlah hal baru.

Kembali ke soal "orang rumah". Saya merasakan betul hebatnya istri saya mengasuh anak kami. Metode parenting yang begitu bagus ia tunjukan sebagai bukti ia seorang guru profesional hampir sepuluh tahun terakhir yang bekerja untuk sekolah mahal meski gajinya kecil. Ia juga berpenghasilan yang sama dengan penghasilan saya bekerja. Dalam keagamaan, ilmu agamanya jauh lebih baik daripada saya sebab ia jebolan pesantren yang cukup disegani di selatan kota Solo. Ibadahnya lebih tekun. Saya menimba banyak hal dari dia. Ketidakpandaiannya memasak sesuai selera saya sebagai orang Sumatera tidaklah dapat membuat saya meremehkannya begitu saja. Ia adalah perempuan yang selain istri juga merupakan teman yang begitu baik. Lantas, pantaskah ia disebut "orang rumah"?

Saya yakin, bahkan di Bengkulu sendiri perempuan yang bekerja tidaklah sedikit. Kalaupun di rumah, cukup banyak dari mereka mengenyam pendidikan tinggi namun memilih di rumah untuk, misalnya, berkonsentrasi pada perkembangan anaknya. Ada pula perempuan lebih sering di rumah namun dengan bantuan teknologi internet menyebabkan mereka memiliki jaringan yang luas di luar sana. Berdagang secara online, misalnya. Apakah mereka masih pantas kita sebut sebagai "orang rumah"?

Ah, sayo rindu mak di Bengkulu.

Baca selengkapnya....

Mempertahankan bahasa (Bengkulu)

Oleh: Yansen

Ketika berkenalan dengan seorang dari Zambia, Afrika, karena mengetahui saya dari Indonesia, ia kemudian bertanya, “Do you speak Dutch?” “No, why should I speak Dutch” saya jawab. “I speak Bahasa,” saya tambahkan lagi. Loh, kan Indonesia dijajah Belanda ratusan tahun, kok Bahasa Belanda tidak menjadi Bahasa nasional. “Itulah hebatnya Indonesia,” saya berbangga. “Sisa-sisa kolonialisme sudah kami buang semua. Kami tak ingin punya keterikatan dengan bangsa yang pernah menjajah kami,” tegas saya lagi.


Memang persoalan bahasa seperti ini jadi 'agak' aneh di Benua Afrika. Sejarah kolonialisme masih meninggalkan bekas, paling tidak bahasa. Banyak negara jajahan Inggris, semisal Afrika Selatan, Zimbabwe dan Zambia, menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Jajahan Perancis, semacam Pantai Gading dan Mali, menjadikan Bahasa Perancis sebagai bahasa kenegaraan. Atau Mozambique yang berbahasa Portugis. Sebagian lagi di Afrika bagian utara berbahasa Arab sebagai imbas dari perluasan kekhalifahan Islam abad pertengahan.

Ketika merdeka, Timor Leste juga mengalami masalah bahasa yang pelik. Ketika mereka menjadikan Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi, masalah tak selesai begitu saja. Waktu menjadi bagian dari Indonesia, sebagian besar generasi muda mereka tak mengenal lagi Bahasa Portugis yang dikuasai oleh orang-orang seangkatan Ramos Horta. Alhasil, dokumen resmi di Timor Leste, saat ini dibuat dalam 4 bahasa: Tetum, Indonesia, Portugis dan Inggris.

Ternyata bahasa bisa saling membunuh. Globalisasi bahasa ditenggarai menjadi ancaman bahasa-bahasa lokal. Hasil riset menunjukkan ada banyak bahasa lokal dunia yang telah punah atau terancam punah. Bahasa Indonesia pun tak terhindari juga melakukannya. Ada banyak bahasa daerah yang terancam punah, terutama yang digunakan hanya oleh komunitas kecil.

Bengkulu pun tak urung juga setidaknya mengalami masalah serupa. Kita beruntung memiliki Bahasa Melayu Bengkulu, yang entah bagaimana asalnya dipakai sebagai lingua franca secara umum di provinsi ini. Namun tak urung lingua franca lokal ini juga sedikit banyak mempengaruhi eksistensi bahasa-bahasa lokal lainnya. Kepahiang dan Curup, misalnya, yang sebenarnya merupakan salah satu Kota Rejang tak menjadikan Bahasa Rejang sebagai bahasa percakapan ‘pasaran’.

Mungkin ini terlalu menggeneralisasi keadaan. Namun, saya yakin ada pergeseran-pergeseran yang tak mungkin terhindari. Ini kemudian berimbas pada kemampuan generasi selanjutnya mewarisi kekayaan khazanah intelektual kebahasaan yang dimiliki suku tertentu.

Akulturasi budaya memang hal yang tak terhindari. Pernikahan dua orang dari suku dengan dua bahasa berbeda saja melahirkan kompromi terhadap ‘bahasa resmi’ yang akan dipakai dalam komunikasi keluarga. Keluarga saya mengalami hal seperti ini. Bak yang Rejang dan Mak yang dari Suku Serawai sepertinya membutuhkan komitmen tertentu dalam berbahasa. Namun, apakah sebuah keputusan yang dibicarakan atau hanya bersifat alami, akhirnya Bak dan Mak memutuskan membuat variasi. Dari enam anaknya, tiga yang tertua berbahasa Rejang sebagai bahasa pengantar komunikasi di rumah. Sedangkan tiga yang kecil, termasuk saya, menggunakan ‘Bahasa Bengkulu pasaran’ sebagai pengantar berkomunikasi dengan orang tua.

Saya bisa berbahasa Rejang sangat lancar, demikian juga Bahasa Serawai. Namun, entah mengapa, saya merasa ‘kadar ke-Rejang-an’ saya tidaklah seperti tiga kakak tertua saya yang memang berbahasa Rejang sebagai pengantar. ‘Kadar ke-Serawai-an’ kami pun cuma terasa ketika berkumpul dengan saudara dari pihak ibu.

Disini saya menyetujui hipotesis bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, namun lebih jauh lagi ia adalah identitas. Bahasa menunjukkan struktur pikiran masyarakat dan perkembangan peradaban masyarakat itu sendiri. Ketika saya tak diajak berkomunikasi dalam Bahasa Rejang oleh bapak, maka sesungguhnya ‘identitas ke-Rejang-an’ juga tak menurun alami dan total ke diri saya. Jika menginginkan identitas tersebut, saya harus menemukannya sendiri. Inilah juga yang saya simpulkan ketika mendengarkan Puan Maharani, putri Megawati, yang mencoba ber-ambo-ambo ketika berkampanye untuk ibunya di tahun 2004. Tapi, rasanya kok kurang membumi ke-Bengkulu-annya.

Ini pun bukan hanya masalah internal, tapi juga eksternal. Secara subjektif, komunitas saudara Rejang saya lebih mengakui ke-Rejang-an kakak saya daripada saya. Memang tak secara langsung, namun dapat dirasakan, walaupun saya berbahasa Rejang dengan mereka. Namun, ada sisi positifnya: perasaan entitas Bengkulu sebagai sebuah agregat bisa lebih dimaknai.

Maka, perjuangan menyelamatkan bahasa-bahasa lokal, menurut saya, bukanlah sebuah perjuangan sederhana. Lebih jaub dari itu, ini merupakan perjuangan penyelamatan identitas. Penurunan bahasa-bahasa suku setidaknya merupakan bagian penting dari pengikatan secara maknawi generasi selanjutnya. Walaupun, ditengah-tengah arus globalisasi saat ini, seakan terasa 'jadul' (out of dated) menurunkan bahasa primordial kepada anak. Namun itulah tantangannya: menjadi warga Indonesia dan dunia tanpa kehilangan akar primordial.

Ini hanya sebuah pandangan subjektif, termasuk pilihan menggunakan Bahasa Indonesia, bukan Malayu Bengkulu, sebagai pengantar posting. Cak mano kecek sanak galonyo?

Baca selengkapnya....

Rantau

Oleh: Yansen

Mungkin kita kadang berpikir mengapa Bengkulu tak terkenal. Walaupun popularitas itu relatif, tapi saya yakin satu dua kita pernah bertemu orang-orang yang bertanya dimana Bengkulu. Atau, apa ciri khas Bengkulu yang dapat diperkenalkan dengan orang luar, seperti yang menjadi diskusi di milist kita ini baru-baru lalu. Tapi, pentingkah menjadi terkenal? Mungkin.

Namun tak perlu kecil hati, saking luasnya negara ini, kita pun kalau ditanya daerah Indonesia yang lain belum tentu tahu. Kita tahu Majene, misalnya, karena kecelakaan Adam Air tahun lalu. Tanpa ada kejadian itu, kita rasanya tak akan kenal. Lalu, kita pun jadi tahu bahwa ada propinsi baru yang namanya Sulawesi Barat, dimana Majene berada. Bengkulu diingat orang karena ada gempa bumi. Namun, ingatan ini tak berjangka lama, dan seringkali tak positif. Mungkin nama-nama propinsi yang berasosiasi dengan nama pulau lebih mudah diingat. Jadi, karena propinsi kita tak berasosiasi dengan Sumatera, orang jadi tak mudah ingat. Tak apalah. Atau, dalam konteks yang lebih luas, saya baru saja tahu ada negara yang bernama Tuvalu, Tokelau, Wallis & Futuna, dan Solomon Island misalnya. Ya, mereka adalah tetangga pasifik kita. Ada juga Maldives Island di Lautan Hindia, tak sekalipun terdengar namanya. Seorang teman lalu berkata, Maldives itu Bahasa Indonesianya Maladewa.

Saya jadi tersentak, Pelajaran Geografi sebenarnya pelajaran yang penting. Dalam konteks kenegaraan, pelajaran ini sebenarnya sangat menunjang semangat cinta tanah air dan memunculkan wawasan kebangsaan. Kalau Benedict Anderson mengatakan bahwa masyarakat bangsa adalah “komunitas imajiner.” Sebagai peneliti nasionalisme di Asia Tenggara, Ben Anderson mengatakan bahwa basis utama nasionalisme adalah “perasaan bersaudara yang diimajinasikan.” Karena ini imajinasi, maka ia harus terus dipelihara. Saya membaca buku Komunitas Imajiner Ben Anderson ini ketika masih kuliah di UNIB, tanpa meresapi secara mendalam maknanya. Namun setelah bertemu dengan saudara-saudara setanah air di perantauan, saya lebih merasa sebagai orang Indonesia. Imajinasi saya terbangun menjadi realitas bahwa saya yang Sumatera memang bersaudara dengan orang Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan yang lainnya, bahkan dengan orang Papua. Bahkan, ketika bertemu seorang aktivis Papua merdeka, saya masih merasa ia adalah saudara saya. Walaupun saya merasakan pancaran kekecewaan sekaligus kemarahan di matanya. Sepertinya ia tak begitu merasa bersaudara dengan saya.

Kembali ke keterkenalan tadi. Kalau kita ambil contoh di Sumatera, maka Sumatera Barat dan Sumatera Utara mungkin paling terkenal. Tapi, apa sebabnya. Mungkin kita akan menjawab warung makan Padang ada dimana-mana. Atau, di setiap kantor pengacara, institusi kejaksaan dan kehakiman pasti ada orang Bataknya. Tentu jawaban ini tak salah. Tapi, mengapa ada orang Minang dan Batak ada dimana-mana? Tentu karena mereka adalah para perantau ulung.

Ternyata disinilah kuncinya kalau menurut saya. Para perantau secara tak langsung merupakan aset daerah yang tak ternilai. Tentu kita tak perlu menyebutkan ratusan orang minang yang telah merantau dari sejak pra-kemerdekaan. Akhirnya mereka pun menjadi tokoh nasional dalam semua bidang: politik, ekonomi, sastra, maupun ilmuwan. Demikian juga orang Batak. Tak lengkap rasanya menceritakan periode sastra Indonesia tanpa memasukkan berpuluh-puluh orang dengan marga Batak. Mengagumkan memang.

Karena itu, saya melihat semangat teman-teman di milist blogger Bengkulu, dimana sebagiannya adalah perantau, merupakan hal yang sangat positif. Teruslah berkarya. Keberhasilan teman-teman semua, langsung tak langsung akan berdampak pada Bunda Bengkulu yang menjadi garis takdir kita. Namun, juga harus diacungkan jempol untuk teman-teman yang menetap dan berkiprah di Bengkulu.

Ke-Bengkulu-an mungkin bisa kita jadikan semangat kemajuan. Dan tentu saja spirit ini tak hanya terbatas Bengkulu sebagai tempat kelahiran atau tumbuh berkembang, tapi lebih luas dari itu. Ke-Bengkulu-an adalah ikatan nilai bagi siapa saja yang berkeinginan untuk bersumbangsih dan berbuat untuk kemajuan daerah ini.

Cak mano kecek sanak galonyo?

Baca selengkapnya....

Petisi Menolak Pembongkaran

oleh: Herman


Saya coba merespon komentar dari Geulugoo pada posting "Heritage Bengkulu Dalam Ancaman", baik yang ada pada kolom komentar posting di blog Simpang Limo Bengkulu maupun yang ada pada Shout Box di sana.

Saya pikir tidak ada salahnya kalau kita mau melayangkan petisi penolakan pembongkaran Monumen Thomas Parr. Pertama, monumen ini merupakan situs yang menyangkut sejarah perjuangan rakyat Bengkulu terhadap penjajahan Inggris awal abad ke-19. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai perjuangan para pahlawannya? Kedua, situs ini merupakan simbol perlawanan pada kesewenang-wenangan manusia pada sesama yang harus lenyap dari muka bumi. Penjajahan, dalam bentuk apapun adanya, merupakan pelanggaran pada kemanusiaan. Ketiga, ia merupakan aset wisata yang patut dilestarikan.

Pengajuan petisi adalah salah satu cara menyalurkan aspirasi. Contoh terdekat yang saya ikut terlibat adalah Petisi Menolak Roy Suryo, yang beberapa waktu lalu menuduh Blogger Indonesia berada di balik pembobolan celah keamanan beberapa website lembaga pemerintah dan salah satu organisasi partai politik di tanah air. Pada Petisi itu disebutkan siapa saja blogger yang ikut (tentu saja dengan nama jelas), juga alamat blognya (disebut blogger tentunya karena memiliki blog, kan?). Untuk kasus Rencana Pembongkaran monumen Thomas Parr, saya pikir bisa mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengajukan petisi. Pertama, jika ini memang akan menamakan suara blogger Bengkulu, ada berapa blogger yang merupakan orang Bengkulu sendiri? Menurut saya, karena sedikit jumlahnya, maka akan lebih baik kalau menyatakan diri sebagai blogger Bengkulu yang didukung oleh blogger Indonesia.

Kedua, seingat saya ada kelompok pecinta situs-situs bersejarah yang sangat membenci kebijakan pemerintah yang membongkari situs-situ itu. Padahal banyak diantara situs itu nilai sejarahnya akan lenyap begitu saja ketika diganti dengan bangunan yang baru. Pembongkaran situs bersejarah, meski saya tidak tahu persisnya, pernah terjadi di Yogyakarta untuk rumah-rumah di kawasan Kotabaru, serta Jakarta Kota di daerah Glodok dan sekitarnya (maaf, data persisnya perlu ditelusuri kembali, dan saya akan sangat berterima kasih kalau ada yang membantu memberi informasi lengkap mengenai ini). Kebijakan pembongkaran oleh pemerintah sesungguhnya lebih banyak dilatari oleh kepentingan ekonomi pihak tertentu. Untuk itulah, Petisi menolak pembongkaran monumen Thomas Parr harus pula mendapatkan dukungan dari kelompok pecinta situs-situs peninggalan sejarah itu.

Ada pula mailing-list LISI (Lingkar Ilmuan Sosial Indonesia). Terdapat banyak ilmuan sosial terkenal di Indonesia yang ikut di dalam mailing-list ini. Mungkin akan lebih baik kalau ada diantara mereka yang bisa memberikan pendapatnya tentang masalah pembongakaran situs-situs bersejarah dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat kita. Tentunya perspektif ilmuan sosial perlu pula menjadi pertimbangan bagi kita sebelum mengajukan Petisi.

Ketiga, seperti komentar Geulugoo di blog Simpang Limo, sangat penting mengajak para tetua, pemuka masyarakat, dan petinggi adat di Bengkulu untuk bersama-sama mengajukan petisi. Tak lupa pula mengajak siapapun yang mau ikut bergabung, terutama tenaga pengajar (guru, dosen), mahasiswa dan pelajar, tokoh pemuda, juga perkumpulan masyarakat adat seperti Yayasan Lembak Bengkulu. Semakin banyak yang ikut mengajukan petisi, maka akan semakin kuat petisi ini untuk mendapat perhatian dari Pemerintah dan masyarakat luas.

Orang Rejang (tun jang) yang memposting masalah ini di blog Simpang Limo, juga teman-teman yang lain terutama yang tinggal di Bengkulu, perlu melengkapi informasi mengenai rencana pembongkaran mounumen Thomas Parr. Apa tujuan pembongkaran, apakah tidak ada cara lain yang bisa ditempuh pemerintah selain membongkar? Atas dasar apa pembongkaran ini, apakah SK Gubernur, SK Walikota, atau apa? Perlu juga memaparkan perdebatan mengenai masalah ini dari isi media massa lokal yang ada di Bengkulu, sudah sampai sejauh mana perdebatannya dan siapa sajakah yang terlibat dalam perdebatan? Siapa atau kelompok mana saja yang sudah menyatakan menolak rencana ini?

Bagi Anda yang membaca tulisan ini, jika ingin ikut memberikan masukan atau mendiskusikannya, silahkan tulisa di bagian komentar artikel atau kirim imel ke simpanglimo@gmail.com. Jangan lupa menyertakan nama jelas dan alamat blog atau imel Anda.

Pembaruan 28 Mei 2008:

Saya baru mendapatkan informasi dari Edi Hermanto, seorang teman yang bekerja di bagian pembangunan Pemda Kota Bengkulu. Menurutnya, Tidak ada informasi bahwa akan ada pembongkaran Monumen Thomas Parr melalui rencana pembuatan terowongan di bawah monumen itu. Memang ada rencana pembangunan terowongan dari Rumah Dinas Gubernur yang dekat dengan Monumen, dan terowongan itu akan melewati bawah tanah tempat di mana monumen berada. Terowongan itu sendiri, menurut Edi, merupakan sebuah tempat wisata bersejarah. Zaman dulu, pernah ada terongan itu, lalu sekarang hendak diperbaiki dan dijadikan tempat wisata. Kebijakan pembangunan ini berasal dari Pemda Propinsi.

Di Bengkulu sendiri, keramaian merespon pembangunan terowongan, terjadi bukan karena ada informasi pembongkaran aset sejarah itu, namun lebih karena pedagang di sekitar monumen merasa terganggu kalau pembangunan berlangsung lama. Makanya, pedagang menuntut supaya pembangunan tidak sampai mengganggu aktfitas ekonomi mereka.

Monumen Thomas Parr adalah situs bersejarah. Ia termasuk benda yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Tentunya adalah perbuatan "tercela" kalau pemerintah sampai merusaknya. Anda yang ingin membaca Undang-Undang mengenai Cagar Budaya itu, dapat melihatnya di sini.

Kembali ke informasi mengenai pembongkaran. Sesungguhnya, belum ada data yang detil mengenai rencana pembangunan itu. Atau paling tidak, sayalah yang belum memperolehnya. Tetapi, sejauh yang saya tahu, informasi mengenai pembongkaran Monumen Thomas Parr memang belum jelas. Tulisan Tun Jang di blog Simpang Limo mungkin perlu mendapatkan asupan informasi yang lebih baik dari pembaca sekalian. Kita selaku orang Bengkulu tentu akan sangat menyayangkan kalau pembongkaran itu betul-betul terjadi. Lebih sayang lagi kalau ada orang Bengkulu dan masyarakat luas lebih tidak peduli pada persoalan ini.

Baca selengkapnya....

(Mungkin) gempa lagi

Oleh: Yansen


Ada saat dimana pengetahuan tidak memberikan penjelasan mutlak terhadap sebuah masalah. Inilah ketika pengetahuan menemui jalan buntu. Pengetahuan yang dikategorikan pasti pun menjadi tidak pasti. Ternyata, kebenaran pengetahuan manusia bersifat relatif. Proses mendapatkan pengetahuan terdiri dari tiga hal pokok: ontologis, epistimologi dan aksiologi. Ontologis adalah apa yang dicari. Epistemologi adalah metode mencari pengetahuan. Sedangkan aksiologi bermakna untuk apa pengetahuan yang didapat.

Pertanyaan-pertanyaan ontologis tentang fenomena alam membuat banyak orang berpikir. Lalu lahirlah para ilmuwan. Pertanyaan-pertanyaan itu kemudian membuat para ilmuwan mengembangkan metode untuk mencari jawaban dan kesimpulan. Kemudian berkembanglah metode deduksi dan induksi sebagai pendekatan utama. Pada perkembangan lanjut, muncul klasifikasi ilmu, semisal ilmu pasti dan ilmu soial.

Kita mengangap, misalnya, Matematika adalah ilmu pasti. Argumennya sederhana, 6 ditambah 6 pasti sama dengan 12. Apakah memang demikian? Ternyata tidak juga. Konklusi di atas betul jika kita menggunakan skala penghitungan dengan digit tertinggi 9. Bagaimana jika kita menyepakati skala penghitungan dengan digit tertinggi 6. Tentu jawabnya 15. Makanya, ilmu adalah kesepakatan.

Jika anda tanya kepada ilmuwan sosial tentang resep memperbaiki keadaan Bangsa Indonesia, maka akan ada puluhan teori yang dikemukakan. Ada ratusan argumen yang dijelaskan. Ada ribuan contoh kasus yang diajukan.

Demikian juga dengan geoteknologi. Terminologi ini menjadi akrab dengan kita setelah peristiwa gempa bumi. Istilah ini menggabungkan antara geologi dan teknologi. Sebagai sebuah ilmu, geoteknologi mempelajari pergerakan bumi, termasuk lempeng, dan aspek-aspeknya. Dengan mengamati pola, siklus dan perilaku gempa, para ahli ilmu ini memprediksi kejadian-kejadian gempa. Prediksi terbaru mengungkapkan bahwa Patahan Mentawai belum bergerak. Jika patahan ini bergerak, maka akan terjadi gempa yang diperkirakan sangat besar. Tetapi, jika ditanyakan kapan terjadinya, tak seorang pun yang berani memastikan.

Gempa, terutama tektonik, memang gejala alam yang unik dan mengandung misteri. Karena itu, sikap dan manajemen terhadap bencana ini bisa dikatakan rumit. Ketidak pastian kapan terjadinya membuat tidak begitu banyak hal yang bisa diperbuat. Ternyata ada lorong gelap dibalik penjelasan ilmiah. Inilah yang dinamakan kebuntuan ilmu pengetahuan, scientific deadlock. Karena itu kondisinya menjadi dilematis. Bahkan, ketika ada orang yang berani mengatakan kapan terjadinya, seperti surat dari ilmuwan Brazil yang beredar belakangan ini, ia tidak memberikan ketenangan. Malah ia menimbulkan keresahan baru, antara pasti dan tak pasti.
Karena itu, jika urutan pengetahuan adalah ontologis (apa), epistimologi (bagaimana) dan aksiologi (untuk apa), maka dibalik konklusi seharusnya muncul lagi pertanyaan ontologis—apa dibalik ini. Atau bahkan subjektif—siapa di balik ini. Lalu sebatas manakah ilmu bisa menjelajah? Karena itu, ketika terjadi scientific deadlock, ada Subjek (dengan ’S’ besar) utama. Seringkali ilmuwan hanya berhenti pada subjek-subjek (’s’ kecil) antara. Maka, ada baiknya ketika ini terjadi kita mengembalikan semuanya pada subjek utama alam semesta, yakni Tuhan yang maha kuasa.

Keyakinan tentang entitas ketuhanan ini sangat dibutuhkan. Hal ini membuat ilmuwan bekerja pada koridor yang benar. Makanya, Einstein menyebutkan ilmu tanpa (bimbingan moral) agama adalah buta. Tanpa bimbingan ini, yang muncul adalah arogansi ilmu dan penggunaan ilmu untuk hal yang negatif. Nuklir adalah contohnya. Ia bisa menjadi sumber energi alternatif, tapi nuklir juga bisa menjadi senjata pembunuh massal paling menkautkan. Disamping itu, keyakinan akan entitas ketuhanan juga dibutuhkan oleh khalayak banyak sebagai pengguna ilmu. Dengannya, masyarakat tidak hanya menggantungkan pada kemampuan rasional manusia, tapi juga hal-hal irasional diluar kekuatan manusia. Demikian hendaknya kita berharap sikap masyarakat kita terhadap gempa.

Wallahu’alam bisshowab.

Baca selengkapnya....

T u g u

oleh: Yansen


Kata “tugu” sepertinya mempunyai tempat tersendiri di masyarakat Kota Bengkulu. Kemunculan kata ini selalu berujung dengan kontroversi. Tahun lalu, misalnya, kita disuguhi perdebatan mengenai renovasi tugu di Simpang Lima. Perdebatan itu melibatkan banyak komponen yang terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama menginginkan patung Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang dibangun. Sedangkan kubu kedua menginginkan patung kuda menjadi landmark di Simpang Lima. Masing-masing punya argumen, walaupun kemudian yang menang adalah “pasukan” kuda.


Beberapa waktu terakhir, tugu kembali menjadi headline. Keinginan pihak pemerintah kota untuk merenovasi tugu tabot dan tugu perjuangan ditentang banyak kalangan. Pihak pemerintah kota menginginkan Tugu Adipura didirikan sebagai pengingat keberhasilan Kota Bengkulu meraih Piala Adipura tiga kali berturut-turut. Tapi, pihak lain mengajukan keberatan dengan dibongkarnya Tugu Tabot yang merupakan penghormatan terhadap budaya. Apalagi tugu perjuangan yang merupakan apresiasi terhadap perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka juga mengungkapkan memenangi Piala Adipura tidaklah berarti banyak dan ironi dengan keadaan yang sesungguhnya.

Tingkat kemanfaatan bangunan berupa tugu atau monumen memang layak diperdebatkan. Ia dibangun hanyalah sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan manusia akan hal-hal yang bersifat transenden dibaliknya. Nilai dibalik inilah yang menjadi pangkal perdebatan bentuk tugu yang mesti dibangun. Bagi banyak pihak, tugu yang akan dibangun akan lebih berguna jika ia mengandung nilai yang layak dijunjung. Itu pulalah yang kemudian membuat keputusan kadang bernuansa politis. Tetapi, dalam konteks tata ruang kota, bangunan seperti itu adalah usaha mempercantik kota. Karenanya penampilan luar menjadi penting. Atas dasar ini, tentulah bentuk yang menarik mata yang menjadi pilihan. Tugu dengan air mancur dan sorotan lampu, misalnya, mungkin menjadi pilihan.

Lalu mana yang penting: penampakan atau substansi; kulit atau isi; bentuk atau filosofi. Ini merupakan perdebatan klasik tak berujung. Untuk mencapai isi, kita harus membuka kulit, ungkap Master Echart, sang pewarta kebaikan. Tapi, “Apalah arti sebuah nama,” ungkap Shakespare, pujangga Inggris. “Mawar tetaplah mawar. Keharumannya takkan berkurang walaupun kita tak menyebutnya mawar,” ujarnya lagi.

Bengkulu mungkin perlu Tugu Adipura untuk mengingatkan pentingnya nilai lingkungan. Tetapi, alangkah ruginya anggaran yang dikeluarkan jika hanya sekedar untuk kepentingan politik sesaat. Kita juga mungkin masih membutuhkan Tugu Tabot dan tugu perjuangan semisal Tugu Garuda. Tetapi, tanpa keinginan untuk menghayati nilai dibalik itu, semua tugu yang ada takkan berguna. Monumen adalah benda mati yang tak bersumbangsih apapun tanpa keinginan mencari makna dibaliknya.

Maka, bagi kebanyakan orang, Tugu Tabot ataupun Tugu Adipura tak terlalu bermasalah. Tapi menjadi masalah jika menjadi perdebatan berkepanjangan yang tak berguna. Tak elok terlalu sibuk dengan urusan “sepele.” Ada segudang masalah lain yang harus dipecahkan dan butuh energi besar. Alangkah baiknya jika energi tersebut digunakan untuk melayani rakyat yang semakin tak kuasa menanggung beban dunia.
Wallahu’alam bisshowab.

Dimuat di Harian Bengkulu Ekspress, 25 Agustus 2007.

Baca selengkapnya....

Filosofi Hidup Orang Bengkulu

oleh: Herman


Orang Bengkulu asli, terutama di kota Bengkulu, memiliki filosopi hidup yang unik. Sederhana tapi juga menarik, serta mengandung pandangan hidup yang dalam. Beginilah bunyinya:

Ikan sejerek
Bere secupak
Rokok Gudang Garam sebatang
Madar...


Ikan sejerek maksudnya adalah ikan hasil tangkapan (biasanya memancing di sungai, rawa, atau di laut), diikat dengan tali wi (rotan) yang masih kecil (seukuran lidi kelapa). Ikan pertama diikat dengan salah satu ujung wi dari lubang insang dan keluar dari mulutnya. Ikan-ikan lainnya disusun dengan cara memasukkan ujung wi satu lagi dari lubang insang menembus ke mulutnya. Lalu sejerek ikan itu terlihat susunan ikan yang dibawa dengan seutas tali wi. Jerek ini sebenarnya tidak hanya menggunakan wi, namun bisa juga dengan sebuah lidi nau (aren), dahan kecil semak-semak yang ditemui atau lainnya yang bisa menjerek ikan.

Bere adalah beras. Huruf e pertama diucapkan seperti melafazkan kata "belajar" atau "senjata". Huruf e kedua berbunyi seperti kita mengucapkan kata "ekologi" atau "pepes".

Cupak adalah ukuran yang setara dengan satu setengah liter. Secupak berarti satu setengah liter.

Dahulu, Gudang Garam merupakan salah satu merek dagang rokok yang diakrabi oleh kelompok masyarakat yang perokok. Untuk itulah ia menjadi salah satu merek yang diinginkan untuk dinikmati oleh kelompok masyarakat itu.

Madar berarti istirahat. Dalam bahasa Kaur atau Bintuhan berarti tulik. Atau tidur. Tapi madar ini memiliki makna beristirahat, melepas lelah, namun betul-betul melepaskan beban hidup setelah seharian menjalani dan menikmati.

Bagi saya, filosopi hidup ini menggambarkan kesederhanaan orang Bengkulu dalam menjalani hidup. Hidup selalu mengambil segala sesuatu dari alam secukupnya, tidak melebihi dari ukuran yang menjadi kebutuhan. Ikan sejerek menggambarkan orang mengambil kekayaan alam berupa ikan hanya sekedar untuk makan sekeluarga. Sejerek ikan jamak hanya sekitar lima sampai belasan ikan ukuran sedang (tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa).

Untuk ukuran keluarga batih, bere secupak cukup untuk makan dua tiga hari. Maka bere sebanyak itu cukuplah untuk menjalani hidup.

Bagi perokok, makna sebatang rokok bisa merupakan ungkapan bahwa dengan hanya merokok sebatang dalam sehari sudah terasa cukup. Tidak perlu menjadi perokok berat yang menghabiskan tidak kurang dari satu bungkus setiap harinya.

Setelah mendapatkan ikan sejerek, bere secupak, dan sebatang rokok, rasanya sudah cukup pencarian rezeki hari ini. Sehingga, selanjutnya adalah madar, beristirahat, atau memanfaatkan waktu untuk bercengkrama dengan orang di sekelilingnya.

Betapa sederhananya hidup. Tidak perlu ngotot bekerja membanting tulang mati-matian serta mengeksploitasi kekayaan alam tanpa henti dan tanpa hati nurani, namun demikian hidup ini bisa begitu indah dijalani. Apa yang diperoleh segera dinikmati. Jika memang ada lebihnya, maka itu bisa disimpan untuk beberapa hari kedepan. Dengan demikian pengelolaan penghasilan juga ada, memisahkan yang untuk dinikmati hari ini serta ada pula yang perlu disimpan (saving ). Tidak ada perilaku eksploitatif di dalamnya. Tidak pula ada keserakahan. Sangat sederhana bukan?

Mungkin sebagian besar orang akan menilai orang Bengkulu yang masih memegang filosofi hidup di atas adalah manusia-manusia primitif. Bertentangan dengan kehidupan orang moderen yang serba akumulatif dalam pencapaian (terutama dalam materi), selalu memacu percepatan, serta habiskan yang ada kalau perlu sampai tandas. Persaingan adalah satu sumber energi yang luar biasa dalam upaya memperoleh sebanyak-banyaknya. Tidak peduli kanan kiri, yang ada hanya memikirkan diri sendiri. Tak ada waktu untuk membangun relasi secara lebih intim, yang ada adalah relasi kepentingan dimana orang selalu politis dalam mengembangkan pergaulan terutama untuk kepentingan ekonomi.

Wajar saja ketika angka tekanan hidup (stres) masyarakat yang disebut moderen jauh lebih tinggi daripada mereka yang dinilai berada pada arah pendulum mendekati primitif. Masyarakat moderen terasosiasikan pada kota dan masyarakat primitif terasosiasikan pada masyarakat desa. Sayangnya,keserakahan orang kota dan moderen itu telah menimbulkan dampak buruk pula pada masyarakat primitif dan desa. Pembangunan vila-vila di pegunungan telah menyebabkan banjir dan longsor, kebijakan menekan harga beras di pasaran untuk orang kota telah menyebabkan petani tak mampu memetik keuntungan bertani karena harga produksi lebih tinggi daripada harga jual, ataupun gaya hidup orang kota yang dipaksa ditiru oleh orang-orang desa lewat tayangan-tayangan televisi yang menyerbu dari ruang-ruang keluarga.

Ah... filosofi hidup itu, masih adakah yang kukuh teguh menjalankannya?


Keterangan:
Orang Bengkulu kota, terutama di pesisir pantai, mengucapkan hurup r dengan sumber suara dari pangkal tenggorokan. Orang-orang di sini menyebutnya r berkarat. Untuk lebih jelasnya, silahkan unduh (download) file contoh lafalnya disini.

Baca selengkapnya....

Bengkulu Kota Parkir?

oleh: Sev Pascal

Ini bukan keluhan sempit apalagi pemikiran sempit, dan ini juga bukan berarti bahwa aku tak peduli atas apa yang sudah menjadi kebijakan pemerintah. Ya bicara mengenai parkir dan biaya parkir seakan menjadi sebuah inpirasi baru bagiku dalam mengeluarkan uneg-uneg dan ganjalan yang selama ini aku rasakan di kota ini.

Bagi pemerintah daerah biaya pungutan parkir merupakan sumber PAD yang cukup lumayan dan memang perlu guna membiayai pembangunan daerah yang bersangkutan, Hal ini lumrah menurutku dan wajar di kota manapun juga begitu. Namun yang jadi persoalan adalah jika biaya parkir ini diajadikan komodity oleh sebagian pihak tertentu dalam mencari keuntungan pribadi atau sebagai sarana baru mencari pendapatan dengan mudah yakni hanya dengan modal pluit atau tanda pengenal yang entah resmi atau buatan sendiri, karena aku sendiri pernah melihat seorong tukang parkir dengan lagaknya dan dengan tanda pengenal di kalungkan dilehernya di memaksa agar membayar pungutan parkir pada setiap kendaraan yang meskipun hanya sekedar parkir sesaat untuk duduk-duduk di pingir jalan, rupanya setelah kudekati dan kulihat lebih dekat tanda pengenal itu bertuliskan "PANITIA LOMBA JALAN SANTAI BLA BLA BLA BLA" lengkap dengan cap dan tanda tangan panita dan sektika itu juga dia membalikkan tulisan itu agar menghadap ke arah bajunya sehingga tak bisa di baca orang. ya ironis memang, jadi apa tujuannya, mungkin dia ingin merubah image bahwa dia sekaan-akan tukang parkir asli dan legal (mungkin..)........?

Kenapa aku biacara hal ini? ya karen aku merasa di Kota Bengkulu ini hampir di setiap sudut jalan dan depan pertokoan bahkan di tempat bersantai saja selalu ada saja yang menarik pungutan parkir, persoalannya bukan pada biaya parkirnya saja tapi pada pemungut parkirnya itu sendiri yang menjadi persoalan. Ternyat alangkah mudahnya sesorang untuk menarik pungutan parkir tanpa identitas jelas apakah orang itu menarik pungutan parkir resmi atau fiktif, dan atau apakah uang yang didapat itu masuk ke kas pemda atau kantong pribadi. Hal inilah yang menjadi perhatian aku selaku warga kota Bengkulu yang sedikit banyak harus memarkirkan kendaraan di tempat umum.

Pernah suatu sore di tahun 2006 aku pergi ke tempat wisata tapak paderi untuk bersantai dan menungu sun set menjelang. AKu duduk sendiri di dekat tugu tabot yang memang bisa dibilang cukup jauh dari tepi pantai dan arena wisata tetapi tiba-tiba seorang anak muda dengan tampang agak sedikit preman dengan bermodal pluit meminta agar aku membayar biaya parkir dengan tiba-tiba, aku berkeras "kenapa kamu minta duit parkir sementara aku saja belum beranjak dari tempat ini". Jawabannya cukup mengelikan karena dia bilang dia harus buru-buru pulang karena belum mandi. Aneh memang, namun akau tak mau berdebat dan ambil pusing maka aku serahkan sebuah uang receh lima ratus rupiah, namun tiba-tiba dia menolak karena katanya untuk kendaraan roda dua harus bayar 100 rupah, aku berfikir "lho bukannya kendaraan roda dua itu menurut PERDA biaya parkir hanya 500 rupiah saja?" Tapi dia tak peduli dan dengan sedikit memaksa diapun meminta agar aku memberinya 1000 rupiah. Meskipun hatiku agak sedikit tak rela tapi apa boleh buat daripada ribut (karena pada intinya aku peace lover dan bukan tak berani ribut tapi sebisa mungkin aku menghindari keributan) aku kasih saja lalu dengan santainya diapun menuju ke sebuah warung dan membeli rokok lalu pergi entah ke mana.

Kejadian seperti ini sebenarnya bukan hanya sekali dan sering terjadi di tempat lainnya dan dengan berbagai macam alasan mereka meminta uang parkir sesuka hati mereka tanpa memandang apakah tempat tersebut layak untuk dipungut bayaran parkir atau tidak.

Selain menjamurnya tukang parkir di hampir setiap sudut kota, yang tak kalah serunya adalah para tukang parkir itu kadang meminta parkir sekehendak perutnya saja misalnya ketika pada acara festival tabot, para tukang parkir itu meminta uang parkir yang nominalnya amat jauh dari apa yang telah diperdakan, seperti Roda Dua Rp2000, Roda Empat Rp5000. Kemanakah uang itu larinya? apa ke kas Pemda apa ke Kas pribadi. Jawabannya ada pada anda pelakunya.Halo Pemda yang mengurusi Parkir, halo...halo...halo...

Baca selengkapnya....

Malam Tahun Baru di Kota Manna

oleh: Sev Pascal


Ini cerita tentang perjalananku ke Kota Manna, kota Kenangan alias Bumi Sekundang Setungguan Kabupaten Bengkulu Selatan, aku menginjakkan kaki di sana tepatnya tiga hari sebelum malam tahun baru 2008, atau hari Sabtu 29 Desember 2007. Bicara tentang kota ini bagiku memberikan kenangan tersendiri karena sekitar 9 tahun yang lalu ketika aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di provinsi Bengkulu ya di kota inilah aku transit sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Bengkulu yang memakan waktu sekitar 4 jam (+/-200 Km) perjalanan darat atau hampir mirip jarak Jakarta-Sukabumi . Aku ingat ketika itu bulan Juli tahun 1998 kami berhenti tepat di depan tulisan SMPN 1 Kota Manna, saat itu aku mengira aku sudah sampai di kota Bengkulu rupanya ketika ku tanyakan pada kakakku yang lebih dulu tinggal di kota Bengkulu katanya belum sampai dan menyisakkan waktu beberapa jam lagi. Dan ketika aku kembali melihat papan tulisan itu aku seakan merasakan sebuah rendezvous pada kenangan sekitar 9 tahun lalu.

Ketika aku kembali ke kota ini, aku merasakan banyak sekali perbedaan dan perubahan dari mulai jalan yang sedang ditata dan diperbaiki hingga semakin banyak gedung-gedung baru yang muncul beserta lampu-lampu hias yang semakin menyemarakkan kota , aku menilai kota ini sedang berbenah, cuma aku berpendapat sedikit mengenai jalan dua jalur. Dengan menjadikan jalan di kota Manna menjadi dua jalur aku melihat ada dua segi positif dan negatif yang muncul. Segi positifnya kendaraan bermotor lebih tertib dan terarah sehingga bisa meminimalisir kecelakaan lalu lintas akibat mencuri jalur, namun segi negatifnya yang kulihat adalah semakin menyempitnya ruas jalan karena pembagi dua jalurnya banyak memakan badan jalan dan diperparah bahu jalan yang tidak rata membuat pengendara bermotor harus lebih waspada. Disamping itu juga aku belum melihat urgensi atas pembagian jalan menjadi dua jalur di kota ini sehubungan volume kedaraan yang melawati jalan-jalan protokol di kota ini juga belum begitu banyak dan mayoritas yang melewatinyapun hanyalah kendaraan roda dua.

Ada satu hal yang menarik di persimpangan jalan-jalan protokol di kota ini yakni dipasangnya lampu lalu lintas lengkap dengan penunjuk time counter-nya seperti yang ada di kota Bengkulu, namun sayang aku bahkan melihat para pengendara mayoritas tidak mengindahkannya sehingga dengan santainya menerobos lampu lalulintas yang sedang menyala merah. Meskipun demikian aku masih memakluminya karena memang jumlah kendaraan yang melintas belum begitu banyak sehingga mungkin di pikiran para pengguna jalan tersebut adalah, "Buat apa menunggu lampu merah berganti lampu hijau dimana nyata-nya tidak ada kendaraan yang melintas di depan jadi ya laju saja...,"

Seperti halanya di kota Bengkulu dan mungkin kota-kota dalam provinsi Bengkulu lainnya yang juga berada di tepian pantai di sinipun rupanya isyu gempa dan tsunami tanggal 23 Desembber 2007 (baca di sini) sama-sama mebuat warga kota Manna resah, sehingga banyak penduduk yang mengungsi ke tempat lain yang dianggap lebih tinggi. Memang isyu ini seakan menjadi suatu komoditas yang dihembuskan individu atau kelompok tertentu untuk memancing di air keruh, tapi disini aku melihatnya bukan dari segi negatif saja melainkan segi positifnya yaitu selalu waspada atas bencana yang mungkin menimpa pada seluruh masyarakat utamanya masyarakat yang memang tinggal di dekat pantai. Entah ada kaitannya dengan Isyu bencana atau tidak namun yang jelas tenaga listrik dari PLN yang ada di kota ini selalu byar-pet (istilah jawa) alias hidup mati tak tentu waktu, bahkan kadang-kadang listrik hidup tapi voltasenya melorot dari 220 V hingga 150 volt jelas membuat banyak alat elektronik cepat rusak, tapi apapun itu yang penting kota ini masih terbebas dari segala bencana. Alhamdulillah

Kembali ke cerita menjelang malam tahun baru di Kota Manna. Sebenarnya sore hari sebelum malam tahun baru aku mencoba jalan-jalan ke daerah pantai di kota Manna tepatnya di kawasan wisata pantai Pasar Bawah. Aku lihat meskipun isyu tsunami belum begitu reda tapi tidak membuat pengunjung takut datang dan melewati indahnya pantai meskipun jumlah pengunjung tidak ramai namun boleh dikatakan lumayan banyak untuk ukuran saat itu dan kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda yang menghabiskan sore hari di pinggir pantai. Satu hal yang aku catat mengenai kondisi pantai saat itu yaitu gelombanganya lumayan tinggi dengan tiupan angin yang cukup kencang, namun hal yang menarik adalah ketika lautan tersebut kulihat dari kejauhan tampak seakan laut tersebut terbagi kedalam tiga warna yakni dari mulai laut yang paling dangkal yang paling dekat pinggiran pantai warna laut tersebut adalah coklat dibaluri oleh buih-buih laut berwarna putih semakin ketengah warna laut menjadi biru tua dan semakin jauh dari pandagan mata warna laut adalah biru muda sunguh indah untuk diabadikan namun sayang aku terlupa membawa kamera digital kesayanganku sehingga momen ini terabaikan begitu saja.

Malam tahun baru di sana lumayan meriah meskipun tanpa ada acara khusus hanya sekedar acara-acara yang spontan diadakan oleh anggota masyarakat di kota ini dari mulai karaokean, organ tunggal dan band anak muda yang di pentaskan di tepi jalan-jalan protokol kota Manna, hal ini membuat banyak warga kota Manna yang sengaja keluar menghabiskan malam tahun baru dengan cara berkeliling kota sehingga sekitar pukul 20 ke atas keramaian sepanjang jalan protokol di warnai oleh banyaknya kendaraan bermotor yang menyesakkan jalan dan diperparah banyakanya pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang berhenti dan bergerombol sepanjang pinggir jalan menyaksikan pentas hiburan organ tunggal atau band anak muda namun untunglah aparat kepolisian banyak berjaga malam itu sehingga kesemrawutan jalan masih bisa terkendalai. Kemeriahan malam tahun baru di kota Manna ini juga disemarakkan oleh munculnya kembang api dan petasan yang di sulut oleh warga sekitar sehingga membuat suasana semakin riuh. Setealah aku coba berkeliling-keliling hingga lumayan larut malam tibalah detik-detik yang ditunggu oleh warga di sini yakni malam pergantian tahun 2007-2008. Dengan suara gemuruh petasan, cuaca yang sangat bersahabat meskipun malam-malam biasanya turun hujan tapi malam tahun baru itu hujan tidak menyapa meskipun sebelumnya ada sedikit "gerimis mengundang" dengan suhu udara yang relatif sejuk membuat masyarkat sekitar yang menunggu tahun baru semakin betah berlama-lama berada di pinggir jalan.

Pada hari senin tepatnya tanggl 1 Januari di tahun yang baru dimasuki ini yakni 2008, aku kembali pulang ke kota dimana aku menghabiskan aktifitas sehari-hari ya Kota Bengkulu Kota Semarak alias kota Selengek. Ketika melintas kembali di pusat kota Manna sekitar pukul 1 siang aku merasa terkejut, alangkah sepinya hari ini toko-toko sepanjang pinggir jalan banyak yang tutup dan kendaraan bermotor yang melintaspun bisa dihitung dengan jari saja itupun termasuk aku sendiri yang sedang melintas menuju kota Bengkulu "Ah mungkin masih banyak yang tertidur karena malamnya begadang itu yang ada di benakku". Farewell....

Baca selengkapnya....

Bicara Pariwisata, Bicara Fakta Tentang Bengkulu Tercinta

oleh: Sev Pascal

Pantai yang damai, danau yang memukau
Keadaanmu tak seindah panoramamu


Ketika rekan saya yang baru datang dari Pulau Jawa berkunjung ke daerah-daerah pariwisata di Bengkulu seperti Pantai panjang, Danau dendam, Tapak paderi dan lain sebagainya, dia merasa benar-benar takjub melihat pemandangan alam Bengkulu ini yang masih begitu asri dan menentramkan dan mempunyai ciri khas sendiri yang berbeda dari tempat-tempat sejenisnya di tanah air.

Cuma ada satu hal yang membuat rekan saya mengeluh. Menurutnya banyak sekali objek wisata yang ada di provinsi ini belum dikelola secara maksimal sehingga berimbas kepada jumlah pengunjung yang datang. Sebagai contoh, apabila pantai panjang dibandingkan dengan pantai kutanya Bali sebenarnya Pantai Panjang memiliki kelebihan tersendiri. Pantai panjang memiliki panjang pantai yang benar-benar panjang, karakteristik pasirnya yang masih alami dan kelandaian pantai yang cocok untuk tempat berjemur atau tanning yang biasa dilakukan oleh orang-orang kulit putih, namun sayang di balik keidahan pantainya yang begitu menawan menyimpan banyak sekali kelemahan seperti pada sebagian wilayah pantai terdapat begitu banyaknya sampah dan bahkan kotoran yang membuat pantai ini tampak tak terawat. Disamping itu belum tersedianya sarana rekreasi tambahan lainnya misanya speed boat atau lainnya. Hal ini diperparah oleh sarana transportasi umum yang memang jarang sekali melalui rute pantai, seharusnya sepanjang pantai sarana transportasi umum diperbolehkan mengangkut dan menaikkan penumpang sehinga masyarakat yang tidak memiliki kendaraan pribadi dapat dengan leluasa mengunjungi pantai ini. Coba bayangkan apabila semua ini bisa diperbaiki, sudah barang tentu peningkatan jumlah pengunjung baik pengunjung tempatan/lokal maupun pengunjung dari luar daerah dan bahkan mancanegara bisa lebih banyak berkunjung dan akibatnya PAD dari sektor ini pun bisa meningkat. Memang kondisi Pantai Panjang sekarang ini lebih baik dibandingkan keadaan 5 tahun yang lalu sebab banyak hal yang telah dilakukan pemerintah seperti membebaskan tiket masuk Pantai Panjang, memperluas jalan arteri sepanjang pinggiran pantai sehingga pengunjung dapat dengan nyaman berkendara sambil melihat indahnya tepi pantai, membenahi tepi Pantai dengan beton-beton yang membuat pengunjung dapat dengan nyaman duduk-duduk sambil melihat pemandangan pantai dan menunggu datangnya sun set ketika senja hari. Hal ini sudah barang tentu berkat kesadaran semua pihak untuk memperbaiki kondisi tempat wisata daerah ini.

Sebenarnya selain pantai panjang yang ingin aku kritisi juga adalah tempat wisata Danau Dendam Tak Sudah (menurut rekan saya dari namanya saja sudah membuat orang tertarik untuk berkunjung karena namanya benar-benar unik. Dan memang nama-nama tempat di Bengkulu ini banyak sekali yang unik dan membuat orang yang pertama kali berkunjung keheran-heranan sebut saja Pintu Batu, Pagar Dewa, Tanah Patah, Air Sebakul, Sungai Hitam, Sukamerindu dan lain-lain coba bayangkan bagi anda yang belum pernah menginjakkan kaki di bumi Raflesia ini). Bicara mengenai danau ini tentu saja bicara mengenai keindahan alamnya. Danau Dendam ini apabila dikelola dengan baik sudah pasti akan banyak mendatangkan PAD bagi daerah. Kenapa aku bilang belum dikelola dengan baik? Alasannya simple saja, coba ketika kita berkunjung ke danau ini alangkah banyak sampah yang orang buang ke danau ini, dan di sebagian pinggiran danau begitu banyaknya rerumputan liar yang tumbuh menutupi indahnya danau. Jumlah pengunjung yang sedikit sebenarnya juga diakibatkan oleh rute kendaraan umum yang melayani masyarakat ke wilayah ini juga sangat sedikit dan mayoritas kendaraan umum yang lewat pun hanyalah kendaraan antar kabupaten dan propinsi seperti yang ke curup , ke kepahyang dan ke luar provinsi jadi masayarkat lokal yang tempat tinggalnya agak jauh dan tak mempunyai kendaraan pribadi agak malas mengunjung tempat wisata ini meskipun tempat ini benar-benar menawan untuk kita dapat bersantai dengan keluarga atau sahabat sehingg otomatis pengunjung yang datang adalah orang-orang yang memiliki kendaraan pribadi dan atau orang yang tinggalnya dekat dengan daerah ini saja, selain itu fasilitas rekreasi yang minim juga membuat orang belum begitu tertarik dengan tempat wisata ini, seperti apa contohnya? Saya menyarankan untuk Danau Dendam ini kalau ingin banyak pengunjung buatlah semacam arena untuk perahu-perahuan, angsa-angsa yang menggunakan kayuh yang dapat dikayuh berdua atau sendirian atau kalau memungkinkan speed boat. Dan tentu saja pengunjung dengan rela antri untuk mendapatkan selembar tiket untuk menikmati fasilitas ini seperti halnya yang telah ada di tepi pantai Tapak Paderi dewasa ini yakni dengan hadirnya angsa-angsaan itu. Apakah ini semua tidak terpikirkan oleh yang berwenang? Apakah tidak ada pengusaha yang mau berinvestasi di sini? Apakah Tempat seperti Danau Dendam tidak dapat dijual untuk pariwisata? Apakah Jalur transportasi yang menuju tempat-tempat pariwisata macam pantai panjang tidak dapat ditata sedemikian rupa? Jawabannya ada pada kita sendiri. Tanya Kenapa?

Sebenarnya dua tempat wisata yang kutulis di sini hanyalah sebagian kecil saja dari sekian banyak tempat wisata yang dapat dijual oleh Kota Bengkulu pada khususnya dan provinsi Bengkulu pada umumnya yang masih belum mendapatkan sentuhan teknologi.

Aku sebagai warga kota Bengkulu meskipun tidak lahir di sini tapi sangat mencintai kota ini, ingin sekali rasanya dapat berperan untuk memajukan kota ini menjadi dapat sejajar dengan kota lain di Indonesia, namun aku tak dapat berbuat apa-apa yang siginifikan Karena ku hanya seorang anggota masyarakat yang tak punya kekuatan dan kewenangan yang ku miliki hanyalah sebuah idealisme dan gagasan yang entah siapa yang dapat mengejawantahkannya.

Baca selengkapnya....

Menjadi yang Pertama

oleh: Herman

Kemarin, saya melihat petunjuk waktu lampu lalu lintas di perempatan Taman Mini Indonesia Indah, pertigaan jalan Raya Bogor dari arah Taman Mini, dan di perempatan Cawang dekat kampus UKI. Mungkin karena baru dipasang, di perempatan Taman Mini ternyata petunjuk waktu yang seharusnya menyala dan memperlihatkan satuan detik yang terhitung mundur untuk penanda lampu hijau dan lampu merah menyala, hari ini hanya terlihat garis lurus berjajar sebanyak 3 garis (menunjukkan angka 3 digit). Kalau lampu menyala berwarna merah, yang telihat hanya tiga garis berwarna merah. Begitu pun dengan lampu yang berwarna hijau.

Di kota Bengkulu, penunjuk waktu itu telah lebih dulu ada. Meski menurut saya, jalanan Jakarta yang begitu ramai dan selalu macet lebih membutuhkan penunjuk waktu digital itu. Bukan berarti di Bengkulu tidak perlu ada alat itu, namun kelihatannya Bengkulu selalu ingin nomor satu dalam ketertiban lalu lintas. Sekitar tahun 1996, semua pengendara sepeda motor di Bengkulu telah diwajibkan mengenakan helm standar. Tentu saja helm standar ini untuk perlindungan pengendara sendiri ketika mengalami kecelakaan. Kalau tidak salah ingat, karena termasuk daerah pertama dalam penerapan aturan tersebut, Bengkulu mendapat penghargaan sebagai kota tertib lalu lintas.

Di bidang kependudukan, Bengkulu juga termasuk Kota pertama yang menerapkan penggunaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) nasional. KTP berwarna biru mudan dan mirip kartu ATM itu telah diberikan kepada penduduk sekitar tahun 1996 pula. Saat akan merantau ke Yogyakarta untuk melanjutkan studi perguruan tinggi pada tahun 1997, saya sudah memiliki KTP Nasional. Di Yogyakarta, teman-teman saya dari Yogya maupun yang berasal dari kota-kota lain merasa heran melihat saya memiliki KTP yang dari penampilan saja sudah "keren". Sayangnya, KTP itu pun tidak berlaku untuk mengurus administrasi di pemerintahan DI. Yogyakarta. Tetap saja saya harus mengurus surat keterangan kependudukan dari Ketua RT tempat saya tinggal.

Sejujurnya, saya suka melihat Bengkulu menjadi kota pertama dalam menerapkan sesuatu yang baru, yang positif tentu saja, dan juga secara teknologi "canggih", complicated, atau apalah namanya. Sekarang, saya menunggu saat Bengkulu menjadi kota pertama dalam membersihkan instansi-instansi pemerintah dari praktik korupsi, terutama di kantor-kantor yang langsung bersentuhan dengan masyarakat. Misalnya, mengurus kartu pencari kerja tidak perlu lagi "dipalak" oleh pegawai Disnakertrans, mengurus KTP di kecamatan tidak dimintai uang minimal 25 ribu rupiah saat mengurus KTP, atau mengurus Akte Kelahiran tidak dipaksa untuk membayar uang yang (bagi masyarakat kurang mampu) jumlahnya terhitung besar untuk sekedar mendapatkan surat keterangan. Pegawai-pegawai pemerintah itu telah dibayar dengan menggunakan uang negara untuk melayani masyarakat. Uang negara itu, salah satu sumbernya, berasal dari pungutan pajak dari masyarakat juga. Kalaupun masyarakat diwajibkan membayar sejumlah tertentu sebagai biaya administrasi, akan lebih baik dibuatkan satu surat keterangan resmi dari instansi terkait agar terlihat ada semangat transparansi dalam menjalankan pemerintahan. Juga, tentu saja uang "pungutan resmi" itu tidak boleh memberatkan, dapat dijangkau oleh masyarakat lapis ekonomi paling bawah yang justru paling membutuhkan layanan maksimal dari keberadaan Pemerintah.

Kelak, kalau Bengkulu telah berhasil mewujudkan layanan bagi masyarakat umum secara bersih, tentu penghargaan sebagai kota Teladan itu tidak hanya dari Pemerintah Pusat. Penghargaan itu akan datang sendiri dari masyarakat, baik sebagai pihak yang merasakan langsung manfaatnya, maupun sebagai warga yang memang selayaknya bangga pada Pemerintah mereka.

Baca selengkapnya....

Bengkulu.....? ya gempa. Gempa ya...... Bengkulu

oleh: Sev Pascal

Hehe......judul postingan di atas agak sedikit memvonis memang, tapi tak apa lah orang aku cuma mau cerita sedikit mengenai gempa khususnya yang terjadi di Bengkulu ni.

Terkadang aku heran kenapa Tuhan membiarkan Bengkulu pada jalur gempa, tapi itulah faktanya. Di bengkulu ini kata gempa bukan lagi hal yang aneh karena memang Bengkulu ini sering dan terbiasa diguncang gempa. Dulu waktu tahun 2000 ketika itu pada malam hari sekitar pukul 23 lewat, Bengkulu berguncang dengan dahsyatnya, banyak sekali bangunan yang rontok, rumah dan gedung-gedung roboh, jalan-jalan banyak yang retak dan ketika itu Bengkulu lumpuh. Setelah gempa 2000 entah barapa ratus kali bumi Raflesia ni di guncang gempa namun intensitasnya tidak besar, tapi........pada tahun 2007 kembali gempa ganas mengguncang Bengkulu, Masya Allah bengkulu porak poranda terutama di wilayah Bengkulu Utara dan Muko-Muko. Banyak perumahan dan gedung-gedung yang hancur serta rata dengan tanah.

Aku cuma sedikit mengingatkan , sehubungan Bengkulu ni rawan gempa jadi kita harus selalu waspada terhadap musibah ini dan jangan terpancing isyu yang menyesatkan, jika masyarakat panik bahaya akibatnya, perekonomian dan aktifitas masyarakatpun bisa ikut lumpuh.... seperti isyu terakhir yang menyebutkan bahwa pada tanggal 23 Desember 2007 diramalkan akan terjadi gempa yang lebih dahsyat dari gempa tahun 2000.

Sebenarnya siapa si yang tahu dengan pasti? Siapa yang dapat meramalkan dengan yakin? Kenapa harus tangal 23 Desember, kenapa tidak tanggal 25 saja misalnya? Sebagai perbandingan, banyak negara maju seperti Amerika pernah dilanda gempa yang dahsyat dan Jepang yang sudah kita ketahui teknologinya yang sudah tergolong sangat modern begitu seringnya dilanda gempa yang memporak-porandakan bangunan dan fasilitas yang telah dibangun dan juga berapa banyak korban jiwa yang melayang akibat korban gempa di Jepang sana.

Sekarang aku mau tanya apakah di sana tidak punya alat pendeteksi gempa? Apakah mereka tidak punya professor paling botak yang dapat memperkirakan gempa? Kenapa disana masih juga terdapat korban jiwa yang tidak sedikit?

Sebenarnya intinya berpulang kepada kita dalam menaggapi isyu tersebut. Dan menurut hemat aku sebaiknya kita dapat menyikapinya dengan sikap yang bijak, tidak terbawa arus tetapi harus tetap selalu waspada.

Baca selengkapnya....

Bahasa Bengkulu campur-campur

oleh: Herman

Kalau diperhatikan, sebenarnya propinsi Bengkulu memiliki bahasa daerah yang banyak. Itulah sebabnya, menurut guru Antropologi saya waktu di SMUN 5 dulu, Pemerintah Daerah tidak menetapkan satu bahasa daerah ini yang menjadi muatan lokal pelajaran “Bahasa Daerah” di sekolah.

Kalau teman saya dari Bekasi, Bandung, atau Garut bisa mendapatkan pelajaran bahasa Sunda sebagai satu mata pelajaran wajib bermuatan lokal waktu masa-masa sekolah dulu, tidak demikian yang saya alami di Bengkulu. Mau belajar bahasa daerah yang mana kalau nyaris di setiap kecamatan memiliki bahasanya sendiri-sendiri.

Saya, karena berasal daerah paling ujung selatan Propinsi Bengkulu, kemudian hidup berpindah-pindah di seputar Bengkulu Selatan hingga Kota Bengkulu, memahami beberapa bahasa yang ada. Emak berasal dari Alas (sekarang Kabupaten Talo) dan Bapak dari Kaur. Saya lahir di Kaur. Dari kedua orang tua saya itu, saya bisa memahami bahasa Alas dan bahasa Kaur.

Selain bahasa Kaur dan bahasa Alas, meski kurang lancar, saya bisa berbahasa Padang Guci, Kedurang, Manna, Tais, Bahasa Tanjung Agung dan Sekitarnya, bahasa Bengkulu Kota yang hampir sama dengan bahasa Palembang-Sumatera Selatan itu, serta Bahasa Bengkulu Pantai. Masih ada beberapa bahasa yang sama sekali saya tidak mampu memahami, karena saya memang belum pernah tinggal di daerah itu, yakni bahasa Kepahyang dan bahasa Bengkulu Utara. Bayangkan, bahasa mana yang mau diajarkan kepada anak-anak sekolahan di Bengkulu?

Sewaktu masih di Yoyga, sesekali saya menjenguk saudara sepupu yang nyantri di Mu’allimat Muhammadiyah. Ada dua orang, Betty dan Icha. Kedua adik saya ini memiliki bahasa yang berbeda. Mereka berdua saudara sepupu. Icha yang tinggal di Kota Bengkulu jelas terbiasa menggunakan bahasa Bengkulu Kota. Juga memahami bahasa Alas dimana kedua orang tuanya berasal. Betty berasal dari Seginim, daerah di bagian selatan Propinsi. Uniknya, Betty tidak bisa berbahasa Bengkulu Kota dan berbahasa Alas. Ia hanya mampu berbahasa Seginim dan bahasa Indonesia seperti yang dia dapatkan di sekolah. Icha dan Betty berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Kalau berbicara dengan Icha saya menggunakan bahasa Bengkulu Kota sembari sesekali diselingi bahasa Alas. Dengan Betty saya terpaksa berbicara dalam bahasa Indonesia dan menggunakan beberapa kosa kata bahasa Seginim.

Nyaris setiap kecamatan memiliki bahasa yang berbeda. Kalau satu kecamatan dengan kecamatan di sebelahnya mungkin masih bisa mengerti bahasan masing-masing. Namun jika letak satu kecamatan dengan kecamatan lain sudah diselingi oleh dua kecamatan atau lebih, penduduknya kadang saling tidak memahami bahasa satu dengan lainnya. Satu contoh dalam perbedaan bahasa ini adalah untuk kata “tidak” dalam bahasa Indonesia, bisa berarti de (Kaur), dide (Padang Guci dan Seginim), nido (Alas), ido (Tais), idak (Kota), col (Tanjung Agung), atau coa (Kapahyang).

Keragaman bahasa ada di masyarakat merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Sebagai sebuah hasil proses budaya yang berjalan ratusan hingga ribuan tahun, maka bahasa-bahasa daerah ini harus kita lestarikan. Dalam satu artikel yang pernah saya baca di majalah new internationalist, disebutkan bahwa setiap harinya ada 2 bahasa masyarakat di bumi ini punah melalui proses globalisasi yang berlangsung. Anak-anak muda lebih sering belajar menggunakan bahasa asing atau bahasa yang lebih global untuk berkomunikasi sembari melupakan bagaimana berkomunikasi dalam bahasa yang digunakan oleh kakek-neneknya.

Kakek dan nenek kami dulu sangat sedih kalau kami, cucu-cucunya, tidak bisa berbahasa daerah sebagaimana yang mereka pakai sehari-hari. Sekarang saya memaklumi mengapa demikian. Kalau tidak terbiasa menggunakan, maka bahasa moyang kita dahulu lambat laun tentu akan hilang. Dalam hal ini saya berpendapat, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris itu penting, namun kita juga harus membiasakan berbahasa daerah di mana kita dilahirkan. Begitulah salah satu cara untuk melestarikan budaya.

Saya menulis ini dalam bahasa Indonesia, terus terang, karena saya kebingungan akan menggunakan bahasa Bengkulu yang mana yang terasa enak dibaca. Bahasa Bengkulu saya terasa campur-campur: Alas, kaur, kota dan lainnya. Tetapi, kalau diantara Anda mengajak saya berbahasa Bengkulu yang mana saja, Insya Allah masih pacak, masih bisa, ndang khawatir sanak.

Baca selengkapnya....

Bila Presiden Kecewa

Oleh: Herman

Apa jadinya kalau Presiden memarahi bawahannya karena tidak beres melaksanakan tugas? Tentu saja bawahannya akan melaksanakan tugasnya dengan baik. Mudah-mudahan demikian.

Ini terjadi pada Gubernur Bengkulu saat kunjungan Presiden ke Bengkulu berkaitan dengan peristiwa gempa. Ketika menerima laporan dari Gubernur, Senin, 17 September 2007, Presiden menyatakan kekecewaannya. Saat itu, Gubernur melaporkan bahwa penanganan gempa menjadi terlambat karena satuan tugas, Camat, hingga Bupati ikut mengungsi.

Hal lain yang menurut saya cukup lucu, perhitungan mengenai kebutuhan para korban berupa tenda, kain sarung dan selimut yang menurut Presiden tidak sesuai dengan kebutuhan. Presiden mengatakan, jika dibandingkan dengan pengalaman penanganan korban gempa di Yogyakarta, Klaten, Pangandaran, Nabire, Nias, Aceh, dan Alor, jumlah yang disebutkan oleh Gubernur Bengkulu itu melebihi kebutuhan korban.

Saya jadi berpikir, mungkin ini adalah gambaran mental buruk birokrat kita: bekerja sangat lelet (bahasa Kaur: lilis) dan suka menaikkan anggaran yang dibutuhkan (mark up). Sungguh ini merupakan budaya yang susah hilang dan tetap melekat pada institusi birokrasi kita. Bekerja lelet tidak hanya terjadi pada saat bencana gempa saat ini. Juga tidak hanya terjadi di Bengkulu saja. Saat terjadi bencana gempa tahun lalu di Yogya dan Klaten, masyarakat juga mengeluhkan kinerja pemerintah yang lambat serta prosedur yang begitu panjang yang harus dilalui oleh korban untuk mendapatkan bantuan.

Sedih rasanya, buruknya kinerja birokrat tetap langgeng meski lengsernya Pemerintah Orde Baru 9 tahun lalu menjadi harapan titik berangkat pembenahan. Nyatanya, pembenahan kinerja itu tidak pernah membuahkan hasil yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Entahlah, barangkali saya yang terlalu muluk mengharapkan sesuatu yang berlebihan pada pemerintah daerah, sementara saya sendiri belakangan sering dibuat kesal oleh kinerja birokrasi di departemen-departeman pemerintahan pusat yang sama leletnya dalam bekerja, sama kebiasaan menaikkan anggaran, dan sama tidak pedulinya pada kebutuhan pelayanan yang baik bagi masyarakat.

Berikut ini adalah berita lengkap mengenai ungkapan kekecewaan Presiden Senin lalu. Sumbernya Koran Tempo, Selasa, 18 September 2007. Karena berita ini tidak ada dalam versi website, maka saya pindai langsung dari versi cetaknya.


Presiden Kecewa terhadap Kinerja Aparat Bengkulu

"Kalau tak mau ambil risiko, bukan pemimpin namanya."

BENGKULU - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kecewa terhadap kinerja sejumlah pejabat di Bengkulu yang ikut mengungsi saat gempa tanpa hirau nasib rakyatnya. "Saya tidak bisa menerima alasan, justru pada saat yang kritis pemimpinnya tidak menjalankan tugas kepemimpinan," kata Presiden di depan semua aparat pejabat lokal di Posko Satuan Koordinasi Pelaksana Provinsi Bengkulu kemarin.

Pernyataan itu disampaikan Presiden menanggapi penjelasan Gubernur Bengkulu Agusrin Maryono Najamudin, yang mengatakan penanganan korban gempa terlambat karena anggota satuan tugas, camat, hingga bupati ikut mengungsi. "Sehingga koordinasi di lapangan untuk membantu korban tak dilakukan," ujar Agusrin.

Presiden tampak menghela napas mendengar laporan itu. "Kalau pemimpinnya tidak ada, takut, tidak mengambil risiko, ya, itu bukan pemimpin," katanya. Presiden berulang kali menegaskan tidak bisa menerima alasan, karena pejabat mengungsi, penanganan bencana kurang baik. "Kalau masih ada kemungkinan gempa dan tsunami, saya tidak menyalahkan. Tapi tidak berarti tugas tidak dijalankan."

Beberapa kali Presiden menyela Agusrin yang tengah memaparkan penanganan bencana. Misalnya, ketika Agusrin menyampaikan kebutuhan 83 ribu helai kain sarung dan selimut. Yudhoyono menanyakan apakah harta benda warga ikut tertimpa bangunan.

"Kan bangunan yang roboh tidak banyak? Artinya, pakaian mereka yang ada di rumah masih bisa dipakai."

Agusrin mengangguk. "Siap, Pak. Akan kami lakukan."

Begitu juga saat Agusrin menyampaikan kebutuhan tenda plastik dan tenda regu tambahan 6.645 unit. "Tolong itu dihitung lagi oleh bupati dan camat," ujar Yudhoyono.

Presiden mengatakan, berdasarkan pengalaman menangani korban gempa di Yogyakarta, Klaten, Pangandaran, Nabire, Nias, Aceh, dan Alor, tidak sampai ada permintaan tenda sebanyak itu. "Ingin segera saya lihat di lapangan. Ini akan menjadi sulit kalau begini cara menghitungnya," kata Presiden.

Akibat gempa 7,9 skala Richter yang terjadi Rabu pekan lalu, Agusrin mengatakan Bengkulu mengalami kerugian Rp 3,5 triliun, dengan perincian bangunan pemerintah 400 unit Rp 2,4 triliun, rumah 27.882 unit Rp 576 miliar, dan fasilitas umum Rp 592 miliar.

Yudhoyono menginstruksikan Agusrin agar memastikan distribusi bantuan berjalan efektif. "Saya tidak senang ada warga yang membutuhkan tapi tidak mendapat bantuan," ucap Yudhoyono.

Setelah menyampaikan rasa kecewanya, Presiden langsung menuju ke Bandar Udara Fatmawati Soekarno untuk bertolak menuju Kabupaten Muko-muko dengan menggunakan helikopter. Yudhoyono menyatakan hendak melihat kinerja aparat di sana. "Kalau pemimpin tidak memimpin, hampir pasti (pendistribusian) tidak akan berhasil," katanya.

Kedatangan Presiden ke Bengkulu ini didampingi antara lain oleh Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, dan Sekretaris Kabinet Sudi Silalahi. NININ DAMAYANTI (BENGKULU)

Baca selengkapnya....
 

Mailing List Blogger Bengkulu

Sebelum mendaftar, silahkan membaca dulu persyaratannya di sini.