Mencari Keluarga, hanya foto ini petunjuknya
Sanak,
dari group LEMBAK Community di facebook, seorang sanak kito asal Bengkulu yang saat ini bermukim di Malaysia sedang mencari keluarganya. Ia hanya memiliki foto ini, yang menurut informasinya merupakan gambar yang diambil pada tahun 1980-an. Jika ada diantara sanak-sanak yang membaca blog ini mengetahui keberadaan sanak di Bengkulu yang dimaksudkan, sudi kiranya menginformasikan ke:
Ali Azwan
nawza_ila@yahoo.com
Telp +60 13378 2847
fb: Ali "gaban" Azwan
----------
Hari Rabu, 16 Maret 2011, Pak Ansar Ali pertama kali mengabarkan informasi ini melalui LEMBAK Community di facebook:
Assalamualaikum ww
Ade sanak kite wang Bengkulu Malaysia jak Sungai Choh nalak keluarganye di Bengkulu, terputusnye komunikasi dan terbatasnye informasi singgonye beliau kesulitan nak nemu ke keluarganye to.
Cuma ade photo ikak yg nye punye sebagai petunjuk, beliau mohon pertulungan adik sanak segalenye. Seandainye adik sanak LC kak ade nang kenal atau tahu ngan keluarganye yg ade di photo itu sudilah kirenye untuk menghubunginye di alamat yg tertera di photo tsb. Baca selengkapnya....
Perlukah Bengkulu menjadi Bencoolen?
Beberapa hari ini usulan pergantian nama Bengkulu menjadi Bencoolen menjadi topik hangat di mailing list Blogger Bengkulu. Karena mailing list ini bersifat tertutup, maka hanya anggotanya saja yang dapat berpartisipasi di dalam diskusi. Perdebatan hangat ini, saya pikir perlu dinikmati oleh sanak-sanak lain dari Bengkulu atau mereka yang pernah memiliki kenangan tersendiri terhadap Bengkulu. Silahkan menanggapi. | herman
03/30/2009 09:27 AM
Rezi:
Kepada semua sanak bengkulu,
malam tdi ketika membaca running text di tv one, saya kaget krna ada berita bahwa nama bengkulu berubah menjadi bencoolen, saya penasaran juga krn hanya running text aja, sampai akhirnya pagi ini menemukan artikel di sini mungkin bisa jadi referensi
Ada berbagai macam pendapat yang muncul, bagaimana dengan sanak semuanya...
03/30/2009 02:55 PM
Suharyanto:
Yah seperti kebanyakan komentar, rasanya kurang kerjaan dengan mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Kalo kita kaji dari berbagai aspek, Bencoolen hanyalah sebutan untuk Bengkulu, sama dengan Netherlan = Holand = Belanda, dll. Kalo memang merujuk kepada nama asli, semestinya BANGKAHULU, atau pakai aja namo kerajaan besar di Bengkulu tempo dulu, SILEBAR misalnnya.
Jika logikanya sama dengan Ujung Pandang menjadi Makassar tidaklah tepat, soalnya Makasar memang nama salah satu etnis di kota tersebut dan memang ada kerajaan Makasar. Yang jelas tidak diganti menjadi Maccassar (ucapan orang bule). Jika menggunakan logika "pejabat" kota Bengkulu tsb, maka Jawa bisa menjadi Jawadwipa, Kalimantan menjadi Borneo, Sulawesi menjadi Celebes, Maluku menjadi Molucas dan ha ha ha... lucu.
Bencoolen, terus melafalkannya apa. Bengkulen, atau ben-cu-len, atau beng-cu-lun... ha ha ha bisa-bisa kita dianggap sebagai orang "culun"...(just kidding).
Saya rasa ini memang kurang kerjaan....
03/30/2009 03:26 PM
H. Musiardanis:
(Tulisan saya ini sudah dimuat di Harian Bengkulu Ekspress beberapa minggu yang lalu dan karena jengkel dengan kekerasan kepala para pejabat Kota Bengkulu, maka Insya Allah besok tulisan saya yang berjudul "Lagi-lagi Bencoolen" akan dimuat lagi).
----------
Beberapa hari ini kita membaca polemik hangat mengenai satu gagasan luar biasa mengenai nama Kota Bengkulu. Salah satu dinas di kota Bengkulu mempunyai keinginan untuk mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Alasan yang dikemukakan untuk melakukan perubahan itu antara lain karena nama Bencoolen lebih dikenal di manca negara ketimbang Bengkulu, dan ini dapat dijadikan wahana untuk mempromosikan wisata di daerah ini.
Ironis, sungguh sesuatu yang menyedihkan apabila kita lebih menghargai nama yang diberikan oleh orang asing (British) daripada nama yang diberikan oleh nenek moyang kita sendiri. Seseorang yang pernah mempelajari bahasa Inggris seharusnya tahu bahwa ada satu norma dalam bahasa tersebut dalam memberi nama bagi sebuah kaum, suku atau bangsa. Biasanya dalam melakukan ini orang Inggris menambahkan suku kata -an, ian, -er atau -nese di ujung nama asli tempat suku itu berdiam, misalnya : Sundanese untuk orang Sunda; Javanese untuk orang Jawa; Chinese untuk orang Cina; Washingtonian untuk orang Washington; New Yorker untuk orang New York, dan sebagainya.
Norma bahasa ini juga tampaknya dilakukan oleh kolonial Inggris terhadap orang Bengkulu, ketika mereka berada di Bengkulu pada abad ke 18 dan 19. Menurut norma tersebut “orang Bengkulu” akan mereka sebut dengan kata “BENGKULUAN”. Kata ini kemudian dalam tulisan mereka tertera menjadi “BENKULUAN”, kemudian karena pengucapan kata tersebut di lidah mereka keluar dengan bunyi “BENKULUEN” maka lama kelamaan kata itu berubah total, baik dalam bunyi maupun dalam tulisan, menjadi “BENCOOLEN”. Nah, dari sini jelas bahwa kata Bencoolen lebih mengacu pada sebutan untuk orang atau suku Bengkulu (ingat juga kata Singaporean untuk orang Singapura).
Nama Bengkulu sendiri memang belum begitu jelas berasal dari benda atau peristiwa apa. Ada beberapa versi yang mencoba menjelaskan asal muasal nama Bengkulu. Ada yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari peristiwa berdarah ketika Bengkulu terlibat perang dengan kerajaan Aceh. Kata sumber ini, saking banyaknya orang yang tewas dalam pertempuran, bangkai-bangkai manusia berserakan sampai ke hulu sungai. Dari sini muncul kata “Bangkai ke Hulu” yang akhirnya menjadi
Bangkahulu. Sumber lain menyatakan bahwa nama Bengkulu adalah pemberian Demang Lebar Daun (Petinggi Kerajaan Palembang) yang melihat bahwa keindahan pantai Bengkulu sama persis dengan keindahan pantai di pulau Bangka. Berdasarkan itu Demang Lebar Daun kemudian mengatakan bahwa daerah ini adalah “BANGKA DI HULU”, yang kemudian berubah menjadi BANGKAHULU.
Terlepas dari sumber mana yang lebih layak kita percaya, kita semua pantas menganggap bahwa nama BANGKAHULU atau BENGKULU adalah nama yang benar dan asli dari kota/daerah ini, bukan BENCOOLEN. Kata Bencoolen hanyalah sebutan orang-orang Inggris terhadap penduduk asli atau suku yang tinggal di Bengkulu pada saat itu dan nama Bengkulu sendiri pasti sudah lama ada, jauh sebelum bangsa Inggris datang. Kembali, mengapa kita harus lebih memilih kata Bencoolen? Sedangkan saat ini kata Bencoolen hanyalah sebuah jalan kecil tak dikenal di kota Singapura (Bencoolen Street).
Sepatutnyalah kita berhati-hati, janganlah terlalu mudah melemparkan gagasan perubahan apabila hal itu belum terlalu mendalam kita fahami. Sama halnya dengan keinginan mengubah nama Bumi Rafflesia menjadi Bumi Merah-Putih. Semua orang tahu Rafflesia pertama kali diketemukan di Bengkulu, sehingga wajar apabila daerah ini disebut Bumi Rafflesia. Kalau daerah/kota ini diubah menjadi Bumi Merah-Putih, daerah/kota-kota lain akan tersenyum, dan mungkin juga marah, karena dari Sabang sampai ke Merauke semuanya adalah Bumi Merah-Putih!
Bengkulu, 15 Februari 2009.
03/31/2009 06:43 AM
H. Musiardanis:
Menyimak berita-berita koran beberapa hari terakhir ini saya benar-benar prihatin dan bersedih. Menurut berita, salah satu dinas di Kota Bengkulu masih tetap ngotot ingin mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen. Sudah banyak tanggapan yang diberikan oleh berbagai orang dari latar belakang yang berbeda tentang hal ini, rata-rata mereka tidak setuju kita mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen! Mengapa kita masih tetap ingin mengubah itu?
Secara sederhana saja, coba kita fikirkan bagaimana kita melafadzkan kata Bencoolen. Apakah Bencoolen kita ucapkan dengan bunyi Bencoolen (huruf C di tengah), atau berbunyi Benculin (juga dengan huruf C di tengah), atau berbunyi Benkulen (seperti bahasa Belanda). Begitu juga agar keseimbangan dalam tata bahasa tetap terjaga, apakah kita menyebut Kota Bencoolen atau Bencoolen City ? Ingat kata Bencoolen berasal dari pengucapan bahasa Inggris terhadap kata BENGKULUAN, yang
artinya Orang Bengkulu.
Saya fikir untuk apa kita mengubah nama asli yang telah diberikan oleh para pendahulu kita, dengan nama yang diberikan oleh orang-orang asing, yang datang belakangan. Alasan untuk lebih marketable juga tidak bisa diterima, selama ini kita sudah gencar mempromosikan Bengkulu dengan kata Bengkulu, bukan Bencoolen! Pergantian nama ini akan membawa dampak kita harus mulai dari awal lagi dalam memperkenalkan Provinsi dan Kota yang kita cintai ini. Nama Bencoolen di jaman kini lebih tidak dikenal dari pada nama Bengkulu.
Hal lain yang lebih prinsip dan mutlak harus dipertimbangkan adalah masalah aspek hukum tata-negara. Nama Provinsi Bengkulu dan Kota Bengkulu itu ditetapkan berdasarkan Undang-Undang NKRI, yakni dalam Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu. Kalau ingin mengubah nama Kota Bengkulu, ubah dulu bunyi Undang-Undang tersebut, tidak cukup hanya dengan mengajukan Perda baru. Mengubah undang-undang negara bukan wewenang daerah tapi adalah wewenang pemerintah Republik
Indonesia!
Sudah selayaknya kita menghimbau pemerintah Kota Bengkulu agar tidak usah mengubah nama Bengkulu, yang betul-betul trade-mark bangsa kita sendiri. Banyak tugas-tugas lain yang lebih penting dan bermanfaat yang perlu mendapatkan perhatian. Misalnya soal Warung Remang-Remang, soal jalan dalam kota yang rusak, soal Pedagang Kaki-Lima, soal penghijauan dan juga soal pengembangan taman-taman yang dapat berfungsi sebagai paru-paru kota. Prioritaskan dulu kegiatan pada hal-hal yang bermanfaat langsung terhadap warga kota, tunda dulu kegiatan-kegiatan yang terkesan hanya sensasional dan kurang bermanfaat secara langsung bagi kehidupan warga.
Bengkulu, 30 Maret 2009.
03/31/2009 09:05 AM
Ade Ferianty:
Salut Pak Danis,
Tulisan Bapak sudah memberikan informasi yang cukup mendalam. Dari awal mendengar isu perubahan nama ini, saya pribadi merasa tidak setuju, walaupun dengan alasan yg tidak "ilmiah" seperti yang diuraikan Pak Danis (saya merasa kata bencoolen kok terlalu mirp bahasa gaulnya Debby Sahertian :D)...dan setelah saya baca tulisan Pak Danis, memang sepatutnya kita menghimbau pemerintah kota Bengkulu untuk tidak mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen.
Masih banyak hal lain yang jauh lebih perlu diperhatikan dan diurus oleh pemda Bengkulu seperti yang pak Danis uraikan.
Semoga pemda Bengkulu juga akses blogger ini dan membaca masukan dari putra-putri Bengkulu.
Wassalam,
Ade.
03/31/2009 09:36 AM
Suharyanto:
Saya sangat setuju dengan pak Danis. Kita lihat, apakah para petinggi pemkot benar-benar mau mewujudkan mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Jika iya, saya pikir kita semua orang Bengkulu wajib menolaknya. Buat "petisi keberatan". Kita orang Bengkulu, bukan orang Bencoolen.
Monumen Thomas Parr: Heritage Bengkulu Dalam Ancaman
Oleh : Tanah Rejang
Apapun dalihnya, Heritage di Kota bengkulu ini harus di selamatkan. Rencana pembongkaran Tugu ini oleh Pemerintahah Kota Bengkulu untuk membangun terowongan adalah sangat tak beralasan, mengapa Pemerintah setempat tidak mencari solusi dengan membangun terowongan tanpa harus membongkar Tugu Thomas Parr, yang merupakan Heritage Bengkulu bahkan Heritage milik Indonesia yang telah berumur 2 abad(1808-2008).
Dengan ini saya menghimbau seluruh blogger Indonesia untuk membantu mempublikasi Heritage warisan bangsa ini untuk di selamatkan, agar pembongkaran Tugu ini di batalkan.
Terletak di sebelah tenggara dan berjarak 170 m dari Benteng Marlborough. Keletakan geografis tugu ini adalah 03o47'19,16" LS dan 102o15'04,1" BT. Tugu ini berupa bangunan monumental untuk memperingati Residen Thomas Parr yang tewas dibunuh rakyat Bengkulu. Tugu ini berdenah segi 8 dan mempunyai tiang-tiang bergaya corintian. Pintu masuk pada tugu ini terdapat di bagian depan dan sisi kanan dan kiri. Bentuk dari pintu masuk ini lengkung sempurna dan tidak mempunyai daun pintu. Pada salah satu dinding di ruang dalam tugu terdapat sebuah prasasti, tapi pada saat ini sudah tidak dapat dibaca lagi. Bagian atas tugu mempunyai atap yang berbentuk kubah. Berdasarkan lukisan Joseph C Stadler dalam buku Prints of Sotut East Asia in The India Office Library terlihat di lokasi tugu ini terdapat Gedung Pemerintahan dan Gedung Dewan EIC. Pada saat ini sisa-sisa kedua bangunan tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi karena lokasi tersebut sudah merupakan kawasan pertokoan dan pusat pemerintahan Dati I Bengkulu.(2)
Monumen ini dibangun untuk mengenang Thomas Parr, seorang Residen Bengkulu dari Inggris yang tewas ditikam dan kemudian dipenggal kepalanya oleh penduduk setempat pada tahun 1807 ketika ia tengah beristirahat di rumahnya. Thomas Parr diduga dibunuh oleh orang-orang Bugis yang bekerja sebagai anggota keamanan perusahaan dagang Inggris (East India Company). Thomas Parr merasa khawatir dengan perkembangan kekuatan pasukan Bugis ini dan berupaya untuk mengurangi peran mereka, namun orang Bugis merasa tidak senang hingga akhirnya ia terbunuh. Inggris membalas kematian Parr dengan menembaki sejumlah penguasa lokal yang dicurigai berada dibalik pembunuhan tersebut dan membumihanguskan desa-desa tempat tinggal mereka.(4)
TUGU THOMAS PARR, remembering the evil
Residen Thomas Parr (1805-1807) adalah penguasa Inggris ke empat puluh sembilan(8) yang diangkat pemerintah Inggris (Residen pertama pertama Bengkulu, penguasa sebelumnya di sebut Deputy Governor) Thomas Parr Menggantikan Deputy Governor Walter Ewer (1800-1805)(8),Parr sampai di Bengkulu tanggal 27 September 1805, menggantikan Walter Ewer. Thomas Parr dikenal sebagai penguasa Inggris yang angkuh dan ganas, dia adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi dengan tanaman paksa di Bengkulu.
Kekejaman dan keangkuhan Thomas Parr tidak saja dirasakan oleh penduduk pribumi tapi juga oleh orang-orang Bugis yang bekerja pada kompeni Inggris, bahkan juga dirasakan oleh pejabat Inggris lainnya. Parr juga dianggap terlalu jauh melangkah mencampuri urusan kepemimpinan tradisional dan adat masyarakat Bengkulu, seperti membuat pertentangan antara rakyat dengan pangeran Sungai Hitam serta peradilan.
Puncak dari kebencian rakyat Bengkulu akhirnya tidak terbendung lagi pada malam 23 Desember 1807, Thomas Parr yang berada di rumah peristirahatannya Mount Felix(Sekarang Rumah Dinas Gubernur atau Gedung Daerah) tiga mil arah Selatan Marlborough dihabisi masa rakyat dibawah pimpinan Depati Sukarami, Depati Pagar Dewa dan Depati Lagan. Kesaksian dari isteri Parr menyebutkan tiga orang yang masuk kerumah membunuh Parr, asistennya Charles Murray yang berusaha melindungi majikannya terluka dan akhirnya meninggal, sementara dia sendiri hanya terluka. Dari kesaksian isteri Parr jelaslah bahwa tujuan penyerang hanyalah Thomas Parr.
Sebagai pembalasan Inggris bertindak keji dan membabi buta, menghancurkan dusun-dusun di Sukarami, Pagar Dewa dan Lagan tanpa prikemanusiaan, bukan saja penduduk yang menjadi sasaran hewan ternakpun tidak luput dari amukan tentara Inggris yang kehilangan kendali.
Pada tahun 1808 Inggris mendirikan Monumen untuk memperingati Thomas Parr yang terletak 100 meter dari Benteng Marlborough, dalam pembangunannya rakyat dipaksa dengan kekerasan agar pembangunannya dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Luas bangunan tugu ini seluas 70 meter persegi, tinggi 13,5 meter persis di depan kantor Pos Bengkulu. Monumen ini oleh rakyat Bengkulu disebut dengan Kuburan Bulek . Inggris mendirikan monument ini sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap Thomas Parr sementara bagi rakyat Bengkulu ditafsirkan sebagai penghargaan terhadap para pejuang tak dikenal yang telah mati dalam mempertahankan hak dan kemerdekaaan tanah leluhurnya dari penindasan kolonial Inggris.
Kuburan Bulek ini juga merupakan simpul persatuan rakyat Bengkulu dalam melakukan protes dan air mata darah orang Bengkulu yang telah ditumpah paksakan oleh kesemenaan Inggris, juga merupakan tonggak sejarah yang mengandung nilai historis yang tidak ternilai bagi generasi sekarang.(3)
Makam Thomas dan para asistennya
Di semayamkan di dalam Benteng Marlborough dan masih bisa kita jumpai bila berkunjung ke Benteng fort Marlborough, yang katanya memang di pindahkan dari tempat asal mulanya untuk menghindari amarah rakyat Bengkulu saat itu yang membongkar makam tersebut.
Sebagai informasi buat pengunjung Benteng Fort Marlborough, saat ini tidak banyak yang tahu kalau makam di dalam benteng itu adalah makan Thomas Parr dan Asistennya. Dulu saat admin masih sering kesana tulisan di atas makam tersebut itu juga tidak begitu terbaca lagi, dan mungkin sekarang keadaan tulisannya semakin parah dan makin tak terbaca. Namun demikian admin berhasil memperoleh copy tulisan yang sempat di baca ahli sejarah Inggris yang mendokumentasikannya saat dilakukan restorasi pertama Benteng Fort Marlborough dulu, dan copy tulisan ini semoga bisa di cantumkan di dekat makam oleh pengelolah Benteng untuk keterangan kepada pengunjung yang datang ke makam. Berikut copy dari tulisan batu penutup makam itu (3 makam) (Gravestones in Fort Marlborough):
1. Underneath this obelisk are interred / the Remains of / Captain Robert Hamilton / Who died on the 15th of Decr 1793/ at the Age of 38 Years / in the command of the Troops / and / Second Member of the Government.
2. Here / Are deposited the Remains of / Charles Murray Esqr. / Assistent to the Residency(?) of Fort Marlborough / His !!!!!! a Progress / of the Band of Assassins / on the Night of the ...... December 1807 / when Thomas Parr esqr / Resident at Bencoolen / Represenrative of Government / fell by their misguided Duty(?) / His humane care preserved the Life of / The widow of !!!!! his ....nd / Wounded in com...... her husband / from the Daggers of the Assassins / Dis..... induced by anxious and unceasing Execution / in the zealous Discharge of his public Duty / (dimine) a Season of Danger and Alarm / removed(?) this Life / on the 7th of January 1808 / Aged 21 Years / In Memory / of his brave and humane Conduct / and of his public Services / The Right Honourable Lord Minto / Governor General in Council / caused this Monument to be erected / To the Memory of / Charles Murray Esquire.
3. Here are Deposited / The Remains / of / Thomas Parr Esquire / in life / the representative !!!!!!!!!!! I !!!!!!! assassins / in the night .............. of December /................ / .................. /....................... / and advantage to I His Employers / The Right Honourable Gilbert Lord Minto / Governor General in Council / has ordered / that this marble be erected / to his Memory / Lindeman, Sct.This Stone / Is added ad .............. the ........................./ The ................. of / Thomas Parr Esquire /.............. /............. / Widow / Will ............................ / Time shall be no more / Lindeman, Sct. (De naam Lindeman is die van de steenhouwer)
Tanda baca seru dan titik-titik pada kalimat di atas adalah huruf-huruf atau lambang yang tak bisa di kenali lagi (tak dapat di baca) pada saat di lakukan restorasi pertama yang melibatkan arkeolgi dunia.
Bisa di simpulakan bahwa ke tiga makam itu adalah makam :
1. Captain Robert Hamilton (Orang kedua Governor yang berusia 38 tahun)
2. Charles Murray Esqr (Asisten Residen yang berusia 21 tahun)
3. Thomas Parr Esquire (Residen pertama Bengkulu)
Jadi Tugu Thomas Parr sangat erat hubungannya dengan Benteng Fort Marlborough. Inilah penjelasan dari makam- makam yang selalu menjadi tanda tanya bagi pengunjung Benteng Fort Marlborough ( Admin).
Oh birokrat Bengkulu, anda boleh saja berkuasa saat ini. Tapi dengan membongkar heritage ini sama saja anda menghina dan tidak menghargai orang-orang Bengkulu, anda akan di kenang sebagai birokrat yang tak menghargai nilai-nilai sejarah, dan anda di kenang sebagai birokrat yang tak patut di hormati. Anda akan masuk catatan hitam sejarah Bengkulu. Jadi sebaiknya anda ikut melestarikan Heritage yang menjadi Icon Bengkulu lebih dari dua abad berlalu ini, bukan dengan membongkarnya.
Reference :
1. Tanah Rejang
2. http://www.balarpalembang.go.id/Sidda_Vivi.htm
3. http://c10dean.multiply.com/journal/item/25/TUGU_THOMAS_PARR_remembering_the_evil
4. www.indonesia.travel
5. http://home.hccnet.nl
6. http://www.bengkuluekspress.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=4621
7. http://pab-indonesia.com/web/content/view/7413/82/
8. http://www.worldstatesmen.org/Indonesia.htm
9. http://members.virtualtourist.com/m/ca594/12a873/4/
10. http://members.virtualtourist.com/m/p/m/2a945e
Tentang Bengkulu Selatan
Oleh: Ekie Pucukan*
Bengkulu Selatan adalah sebuah kabupaten di provinsi Bengkulu.
Kabupaten Bengkulu Selatan berdiri berdasarkan Keputusan Gubernur Militer Daerah Militer Istimewa Sumatera Selatan pada tanggal 8 Maret 1949 Nomor GB/ 27/ 1949, tentang pengangkatan Baksir sebagai Bupati Bengkulu Selatan (sebelumnya bernama Kabupaten Manna Kaur 1945 – 1948 dan Kabupaten Seluma Manna Kaur 1948 – 1949). Pada perkembangan selanjutnya dikuatkan dengan Surat Keputusan Presiden RI tanggal 14 November 1956 dengan Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1956 (Tambahan Lembaran Negara 109).
Berdasarkan Kesepakatan Masyarakat Rakyat tanggal 7 Juni 2005, dikuatkan oleh Perda No. 20 tanggal 31 Desember 2005 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah No. 13 Tanggal 2 Januari 2006 Seri C maka tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bengkulu Selatan. Berdasarkan Undang- undang Nomor: 03 Tahun 2003 Kabupaten Bengkulu Selatan mengalami pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Kaur, Seluma dan Bengkulu Selatan.
Kabupaten Bengkulu Selatan juga dikenal dengan sebutan Seraway. Asal nama Seraway dikaitkan dengan dua pendapat yaitu :
Kerajaan Seraway terpisah dengan Kerajaan Bengkulu (Bangkahulu). Kerajaan ini ditemui antara daerah sungai Jenggalu sampai ke muara sungai Bengkenang namun kerajaan ini akhirnya terpecah- pecah menjadi kerajaan kecil yang disebut margo (marga). Marga dipimpin oleh seorang datuk dan membawahi beberapa desa/ dusun. Marga- marga di Kabupaten Bengkulu Selatan itu adalah Pasar Manna, VII Pucukan, Anak Lubuk Sirih, Anak Dusun Tinggi, Kedurang, Ulu Manna Ilir, Ulu Manna Ulu, Anak Gumay dan Tanjung Raya. Namun mereka bersatu atas dasar satu kesatuan dan satu keturunan dan satu rumpun bahasa.
Bahasa di Kabupaten Bengkulu Selatan terdiri dari dua bahasa asli yaitu bahasa Pasemah yang banyak dipakai dari muara sungai Kedurang sampai dengan perbatasan Kabupaten Kaur sedangkan mayoritas menggunakan bahasa Seraway yang merupakan turunan dari bahasa Melayu. Berdasarkan Sensus Penduduk 2000 suku bangsa di Kabupaten Bengkulu Selatan adalah Serawai 76,87 persen, Pasemah 13,39 persen, Jawa 2,89 persen, Minangkabau 2,21 persen, Melayu 1,06 persen, Sunda 0,95 persen, Batak 0,73 persen dan lainnya 1,89 persen.
* Ekie Pucukan adalah anak Bengkulu asal Pulau Enggano. Saat ini mukim di kota Manna. Artikel ini ia ambilkan dari Wikipedia. Ekie bisa dihubungi di alamat: jemaumannaekie@gmail.com
Festival Tabot
oleh: Neng Dalil
Festival Tabot adalah sebuah tradisi perayaan yang dilaksanakan pada setiap tanggal 1 - 10 Muharam tahun Hijriyah (tahun dalam Islam). Festival ini biasanya diisi pertunjukan seni dan budaya Bengkulu di samping ritual Tabot itu sendiri. Festival ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Sejarah mengenai Fesitval Tabot di Bengkulu bisa Anda dapatkan di sini (klik link).
Foto di atas merupakan hasil karya dari seorang fotografer Agah Permadi.
Rafflesia Arnoldi vs Bunga Bangkai
oleh : Presty Larasati
Sebagai anak yang debesarkan di Bengkulu tentu saja kedua bunga tersebut tidak lagi asing bagi saya. Ketika saya merantau di pulau jawa, saya cukup terkejut mendapatkan kenyataan bahwa bunga rafflesia sering dikacaukan dengan bunga bangkai. Kedua bunga ini sering kali disamakan atau malah tertukar. Bahkan saya mendapati tulisan di sebuah harian nasional terkemuka beberapa hari yang lalu, menyebutkan bunga bangkai yang sedang mekar di sebuah TN sebagai bunga Rafflesia.
Awalnya saya hanya mengetahui perbedaan kedua bunga ini dari fisiknya saja, tapi kepulangan saya ke Bengkulu saat lebaran kemarin memberikan saya pengetahuan lebih tentang perbedaan keduanya. Saat itu rafflesia sedang mekar di 3 titik antara kepahyang-curup (sekitar satu jam dari kota Bengkulu), walaupun saat itu saya tidak mendapat kesempatan melihat rafflesia yang masa mekarnya sudah habis, saya berkesempatan melihat bunga bangkai yang akan mekar di tempat budi daya-nya. Memang keduanya mengeluarkan bau busuk, namun ternyata memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, siklusnya, dll.
RAFFLESIA ARNOLDI
Rafflesia yang banyak dikenal masyarakat adalah jenis rafflesia arnoldii. Jenis ini hanya tumbuh di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu. Satu tempat yang paling bagus dan mudah untuk menemukan bunga rafflesia arnoldii ini adalah di hutan sepanjang jalan Bengkulu-Curup setelah Kepahyang. Di Bengkulu sendiri, bunga rafflesia telah dijadikan sebagai motif utama batik besurek (batik khas Bengkulu) sejak lama.
Ciri utama yang membedakan rafflesia dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Ketika mekar, bunga ini bisa mencapai diameter sekitar 1 meter dan tinggi 50 cm. Bunga rafflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun. Bunganya memiliki 5 mahkota. Di dasar bunga yang berbentuk gentong terdapat bunga sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga. keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat presentase pembuahan yang dibantu oleh serangga lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan. Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu rafflesia akan layu dan mati.
Rafflesia merupakan tumbuhan parasit obligat pada tumbuhan merambat (liana) tetrasigma dan tinggal di dalam akar tersebut seperti tali. Sampai saat ini Rafflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.
Sedikit informasi, selama 200an tahun tumbuh-tumbuhan dari genus Rafflesiaceae sulit diklasifikasikan karena karakteristik tubuh yang tidak umum. Berdasarkan penelitian DNA oleh para ahli botani di Universitas Harvard baru-baru ini, rafflesia dimasukkan ke dalam family Euphorbiaceae, satu keluarga dengan pohon karet dan singkong. Tapi hal ini masih belum terpublikasi dengan baik.
BUNGA BANGKAI TITAN ARUM
Selain rafflesia, bunga raksasa lain yang dikenal masyarakat adalah bunga bangkai/suweg raksasa. Yang paling populer di antara jenis bunga bangkai lainnya adalah jenis amorphpophallus titanium. Jenis ini hanya endemik tumbuh di kawasan hutan di Sumatera. Bahkan juga ada yang menyebutkan bunga ini sebagai bunga resmi provinsi Bengkulu (sumber : Wikipedia).
Berbeda dengan rafflesia, bunga bangkai titan arum ini berwarna krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Sedangkan mahkotanya berwarna merah ke-ungu-an. Sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet. Bila rafflesia hanya melebar, bunga bangkai tumbuh menjulang tinggi. Ketinggian bunga bangkai jenis amorphophallus titanium ini bisa mencapai sekitar 4 m dengan diameter sekitar 1,5 m.
Bunga bangkai ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae). Merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia. Berbeda dengan rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat di budi daya. bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.
>Bunga ini mengalami 2 fase dalam hidupnya yang muncul secara bergantian dan terus menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal dan daun yang sekilas mirip dengan pohon pepaya. Tinggi pohonnya bisa mencapai 6m. Setelah beberapa tahun, organ generatifnya akan layu kecuali umbinya. Apabila lingkungan mendukung, dan umbinya memenuhi syarat pohon ini akan digantikan dengan tumbuhnya bunga bangkai. Tumbuhnya bunga majemuk yang menggantikan pohon yang layu merupakan fase generatif tanaman ini.
Menurut petugas penjaga lokasi budi daya bunga bangkai di hutan Kepahyang, Bengkulu, bunga baru bisa tumbuh bila umbinya memiliki berat minimal 4 kg. Bila cadangan makanan dalam umbi kurang atau belum mencapai berat 4 kg, maka pohon yang layu akan di gantikan oleh pohon baru.
Selain itu, bunga bangkai merupakan tumbuhan ber-rumah satu dan protogini, dimana bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini, seperti pada rafflesia, berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Setelah masa mekarnya(sekitar 7 hari) lewat, bunga bangkai akan layu. Dan akan kembali melewati siklusnya, kembali ke fase vegetatif, dimana akan tumbuh pohon baru di atas umbi bekas bunga bangkai.
Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Biji-biji ini bisa ditanam menjadi pohon pada fase vegetatif. Biji-biji inilah yang sekarang di budi-dayakan. Beberapa waktu lalu, pihak kebun raya Bogor mengambil 6 umbi yang sudah besar dari tempat budi daya bunga bangkai di Bengkulu untuk koleksinya.
Nah, setelah membaca penjelasan saya yang panjang pada postingan kali ini, semoga teman-teman tidak lagi bingung membedakan kedua bunga raksasa ini. Biar gampang diingat, bunga rafflesia itu merah, tidak tinggi, dan merupakan tumbuhan parasit. Sedangkan bunga bangkai titan arum putih, tinggi, dan merupakan tumbuhan umbi-umbi-an. Selain itu, berbeda dengan bunga bangkai, rafflesia tidak dapat di budi daya. jika teman-teman ingin melihatnya, silakan datang ke Bengkulu pada saat musim mekar keduanya (^_^).
Rumah Adat Bangsa Melayu Bengkulu
oleh: Presty Larasaty
Dalam bahasa melayu Bengkulu, rumah tempat tinggal dinamakan juga “Rumah”. Rumah tradisional Bengkulu termasuk tipe rumah panggung. Rumah panggung ini dirancang untuk melindungi penghuninya dari banjir. Disamping itu kolong rumah panggung juga dapat dipergunakan untuk menyimpan gerobak, hasil panen, alat-alat pertanian, kayu api, dan juga berfungsi sebagai kandang hewan ternak.
Bentuk rumah panggung melayu ini terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
Bagian atas
Bagian atas rumah adat melayu Bengkulu ini terdiri dari :
- Atap; terbuat dari ijuk, bamboo, atau seng
- Bubungan, ada beberapa bentuk
- Pacu = plafon dari papan atau pelupuh
- Peran : balok-balok bagian atas yang menghubungkan
- Tiang-tiang bagian atas
- Kap : kerangka untuk menempel kasau
- Kasau : untuk mendasi reng
- Reng : untuk menempel atap
- Listplang, suyuk, penyunting
- Bubungan limas

- Bubungan limas
- Bubungan haji (bubungan Sembilan)
- Bubungan jembatan

- Bubungan gabungan lima dan jembatan
Bagian tengah, terdiri atas:
- Kusen, kerangka untuk pintu dan jendela
- Dinding : terbuat dari papan atau pelupuh
- Jendela : bentuk biasa dan bentuk ram
- Pintu : bentuk biasa dan bentuk ram
- Tulusi (lubang angin) : ventilasi, biasanya di atas pintu dan jendela, dibuat dengan berbagai ragam hias
- Tinag penjuru
- Piabung : tiang penjuru hal
- Tiang tengah
- Bendu : balok melintang sepanjang dinding
Bagian bawah, terdiri dari :
- Lantai, dari papan, bamboo, atau pelupuh
- Geladak, dari papan 8 dim dengan lebar 50cm dipasang sepanjang dinding luar di atas balok
- Kijing, penutup balok pinggir dari luar, sepanjang keliling dinding
- Balok (besar), kerangka untuk lantai yang memanjang ke depan
- Tailan : balok sedang yang berfungsi sebagai tempat menempelkan lantai
- Blandar : penahan talian, melintang
- Bedu : balok diatas sebagai tempat meletakkan rel
- Bidai, bamboo tebal yang dipasang melintang dari papan lantai, untuk mempertahankan dari tusukan musuh dari bawah rumah
- Pelupuh kamar tidur, sejajar dengan papan lantai (di atas bidai)
- Lapik tiang, batu pondasi tiang rumahtiang rumah
- Tangga depan dan belakang
SUSUNAN RUANG
Rumah tempat tinggal memilki fungsi dalam kehidupan. Adapun susunan dan fungsi ruang pada rumah adat melayu Bengkulu ini adalah:
Tempat menerima tamu yang belum dikenal, atau tamu yang hanya menyampaikan suatu pesan (sebentar). Selain itu juga dipergunakan untuk relax pada pagi atau sore hari. Bagi anak-anak, berendo juga sering dipergunakan untuk bermain congkak, karet, dll.
2. Hall
Ruang untuk menerima tamu yang sudah dikenal baik, keluarga dekat, atau orang yang disegani. Ruangan ini juga digunakan untuk tempat cengkrama keluarga pada malam hari, ruangan belajar bagi anak-anak, dan sewaktu-waktu ruang ini digunakan untuk selamatan atau mufakat sanak family.
3. Bilik gedang
Bilik gedang atau bilik induk merupakan kamar tidur bagi kepala keluarga (suami istri) serta anak-anak yang masih kecil.
4. Bilik gadis
Biasanya terdapat pada keluarga yang memiliki anak gadis, merupakan kamar bagi si anak gadis. Selain untuk tidur juga digunakan untuk bersolak. Bilik gadis biasanya berdampingan dengan bilik gedang, demi keamanan dan kemudahan pengawasan terhadap anak gadis mereka.
5. Ruang tengah
Biasanya dikosongkan dari perabot rumah, dan di sudutnya disediakan beberapa helai tikar bergulung karena fungsi utamanya adalah untuk menerima tamu bagi ibu rumah tangga atau keluarga dekat bagi si gadis. Di samping itu juga sering dipakai sebagai tempat belajar mengaji. Bagi keluarga yang tidak memilki kamar bujang tersendiri, kadang-kadang dipakai untuk tempat tidur anak bujang.
6. Ruang makan
Tempat makan keluarga. Pada rumah kecil biasanya tidak terdapat ruang makan, mereka makan di ruang tengah. Bila ada tamu bukan keluarga dekat, maka untuk mengajak tamu makan bersama digunakan hal, bukan di ruang makan.
7. Garang
Tempat penyimpanan tempayan air atau gerigik atau tempat air lainnya, juga dipakai untuk tempat mencuci piring dan mencuci kaki sebelum masuk rumah atau dapur
8. Dapur
Ruangan untuk memasak
9. Berendo belakang
Serambi belakang, tempat relax bagi kaum wanita pada siang atau sore hari, melepas lelah setelah mengerjakan tugas, tempat mengobrol sambil mencari kutu.
Sebenarnya, selain rumah adat melayu Bengkulu, di Bengkulu juga terdapat rumah adat yang lain seperti rumah Umeak Potong Jang (rumah buatan rejang) yang merupakan umeakan (rumah kuno ) asli Rejang (salah satu suku di Bengkulu), Rumah Tradisional Kubung Beranak milik bangsawan Rejang Pesisir, rumah Patah Sembilan yang merupakan rumah tradisional rakyat biasa suku bangsa Rejang Pesisir, dll.
(Sumber : Achmad, Ramli dkk. 1992, Koleksi Miniatur Rumah Tradisional Suku Bangsa Rejang Dan Melayu Bengkulu Museum Negeri Provinsi Bengkulu. Depdikbud Propinsi Bengkulu)
Baca selengkapnya....
Asal Mula Air Langkap
oleh: Herman
Sebuah desa, dulu di kecamatan Kaur Tengah, Kabupaten Bengkulu Selatan. Desa ini secara administratif bernama Desa Sukarami. Di sini terkenal sebagai dusun Air Langkap. Membacanya begini: Aya' Langkap. Tanda baca ( ' ) sebagai pengganti huruf R dalam bahasa Indonesia. Membacanya seperti membaca huruf 'ain dalam bahasa Arab, yakni huruf ke 18 dalam susunan huruf Hijaiyah. Penduduk setempat tidak bisa menyebut huruf R seperti orang batak menyebutnya.
Dusun Air Langkap dekat dengan laut. Di pinggir laut ini ada bagian air laut yang menjorok ke daratan seperti teluk. Nah, daerah pinggir pantai yang banyak pohon kelapanya ini, air laut yang menjorok seperti teluk tersebut memiliki panjang sekitar 100-an meter dan lebar yang cukup membuatnya tampak seperti sungai. Kalau airnya sedang penuh, kedalamannya sekitar sepinggang orang dewasa. Airnya asin, karena memang ia bagian dari laut. Kalau air laut sedang pasang naik, maka ia terlihat sekali menyatu dengan laut lepas, sebab karang-karang tajam di pinggir pantai sudah tidak tampak lagi.
Sepintas orang melihatnya seperti muara, yakni pertemuan aliran sungai dengan laut. Di dalamnya banyak terdapat ikan-ikan yang ukurannya tidak begitu besar, rata-rata seukuran jempol orang dewasa. Ada ikan Pelung yang warnya hitam dan kulitnya agak licin. Ada pula ikan Se'eni yang warnanya bening agak keabu-abuan. Ikan-ikan itu enak dimakan. Kalau malas memancing agak ke tengah laut karena karang-karang tajam atau laut yang sedang tinggi gelombangnya, orang-orang atau kebanyakan adalah anak-anak, akan memancing di situ. Mendapatkan ikan Pelung dan Ikan Se'eni beberapa genggam sudah cukup untuk lauk teman nasi untuk dimakan.
Pada zaman dulu, di air inilah seorang penduduk menemukan mayat yang telangkap atau telungkup, posisi badan menghadap ke bumi. Mayat itu mengapung di sana. Mungkin karena sebelumnya belum pernah terjadi, akhirnya tempat tersebut jadi terkenal. Akhirnya daerah ini disebut dusun Aya' Langkap. Maksudnya air di mana pernah ditemukan mayat mengapung di atasnya dalam posisi telangkap atau telungkup. Jadilah dusun ini terkenal dengan sebutan Aya' Langkap.
Penduduk setempat menyebut Air dengan Aya'. Sungai disebut Aya' Besak atau air besar. Air sumur disebut Aya' Sumu'.
Saya lahir di sini, di Aya' Langkap. Namun di surat keterangan kelahiran saya disebut desa Sukarami. Masa kanak-kanak hingga remaja saya habiskan di Kota Bengkulu, ibukota propinsi. Selama 7 tahun hidup di Yogyakarta, sudah hampir 3 tahun terakhir hidup di Jakarta, saya masih tetap merindukan desa tempat saya memulai kehidupan dunia pertama kali: Aya' Langkap.
Fort Marlborough
oleh: Herman
Fort Marlborough atau Benteng Marlborough adalah bukti sejarah penjajahan Inggris di tanah Bengkulu pada abad ke-17. Saat itu orang Inggris menyebut daerah ini Bencoolen. Benteng yang terletak di bibir pantai Tapak Padri ini masih ada hingga sekarang. Namun, saat saya dan keluarga berkunjung ke sana pada Agustus 2006 lalu, kelihatan peninggalan sejarang satu ini kurang terawat. Rumput yang tinggi serta pohon di mulut gerbang dan tengah-tengah benteng yang tumbuh tanpa kontrol semakin menjadikan cagar budaya satu ini seperti tanpa pemilik. Foto di atas saya ambil dari website Indahnesia.
Update 29 Oktober 2007:
Benteng Marlborough sekarang sudah terlihat bersih dan semakin memiliki daya tarik bagi pengunjung. Rupanya, sejak 18 November 2006 lalu, bersama dengan tempat wisata lainnya di Bengkulu, telah menjadi sasaran program Revitalisasi Objek Wisata di Bengkulu. Hal ini disebutkan dalam sebuah batu prasasti yang berada di pintu bagian dalam benteng. Dari atas benteng terlihat pantai Tapak Padri yang semakin cantik yang juga salah satu sasaran revitalisasi tempat wisata.
