SIMPANG LIMO BENGKULU

AvatarTempat berbagi cerita tentang Bengkulu. Berharap menjadi salah satu sumber informasi mengenai daerah ini. Selamat membaca...

Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Informasi. Tampilkan semua postingan

Kolam Renang Pemandangan Pantai

Oleh: Saherman



Entah sejak kapan mulai masuk dalam pelajaran pendidikan olahraga di sekolah-sekolah, anak-anak SD hingga SMA di Bengkulu melakukan olahraga berenang sebulan sekali. Setidaknya saya mengalami itu sejak duduk di bangku SMP 20-an tahun lalu.

Awal Oktober 2012, saat bertugas di Bengkulu untuk satu penelitian mengenai adat istiadat di daerah ini, saya menginap di hotel Grage Horizon. Di hotel ini, begitu membuka pintu kamar, kita langsung dapat melihat pantai panjang yang terkenal di propinsi bagian Selatan Sumatera ini. Kolam renang di hotel ini sering digunakan oleh para siswa sekolah untuk mengikuti mata pelajaran olahraga. Jadilah setiap pagi di awal Oktober 2012 ini saya harus menyaksikan anak-anak berenang di kolam renang tersebut sembari menikmati sarapan. 

Baca selengkapnya....

Pesta Blogger 2009

Sanak,

Pesta Blogger 2009 sudah membuka pendaftaran bagi semua blogger yang tertarik untuk mengikuti. Silahkan mendaftar di sini atau klik logo Pesta Blogger 2009 di sebelah kanan blog iko.

Ingin rasonyo ketemu dengan sanak-sanak segalo, tapi entah kapan. Beberapo kali aku berdiskusi dengan beberapo kawan di mailing list untuk ngadokan pertemuan, ruponyo masih sulit untuk diwujudkan. Barangkali ado di antara sanak-sanak ko yang ikut pesta blogger tu, cak mano kalu kito manfaatkan momen ini untuk ketemuan. Sekedar bertatap muko, tukaran nomor kontak, atau ndak bikin rencana-rencana ke depan, tentu idak ado salahnyo, kan? Bisa hubungi aku di nomor 021-30697575 (mobile).

Salaam,
Herman (Pemelihara blog Simpang Limo Bengkulu)

Baca selengkapnya....

Tari-Tarian dari Rejang Lembak

oleh: Herman


Tari adalah salah satu seni dan merupakan produk kebudayaan yang ada di dalam masyarakat. Suku Rejang adalah salah satu suku terbesar yang ada di propinsi Bengkulu. Jika Anda sedang berkunjung atau berwisata ke Bengkulu, tak ada ruginya untuk menikmati hasil kebudayaan daerah ini yang tak kalah bagusnya dibanding yang berasal dari daerah lain, dan ikut memperkaya kebudayaan Nusantara. Berikut ini adalah daftar tari-tarian yang dimiliki oleh suku Rejang yang berada di daerah Rejang Lembak:

a. Tari Senjang
b. Tari Layang-Layang
c. Tari Kain
d. Tari Piring 40
e. Tari Piring 12
f. Tari Tari Pisau/Siwar
g. Tari Sabung
h. Tari Selasih
i. Tari Cerai Kasih
j. Tari Lingkung Tanjung
k. Tari Satu Dua
l. Tari Mak Inang
m. Tari Payung
n. Tari Jin Kambas
o. Tari Ujan Panas
p. Tari Silampari
q. Tari 4 Saudara
r. Tari Terkukung
s. Tari Srilala
t. Tari Rakrai
u. Tari Ribu-Ribu
v. Tari 3 Serangkai
w. Tari Nasib Serawak
x. Tari Indung-indung
y. Tari Turak (Penyambutan)
z. Tari Balai (Tari Adat)

Pengurutan tari-tarian di atas sesuai dengan sumbernya, yakni dokumen Notulen Lokakarya Pembakuan Tari Adat dan Busana Adat Resmi Kabupaten Rejang Lebong, Sabtu 03 Desember 2005 lalu.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong bekerjasama dengan Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Rejang Lebong adalah panitia pelaksana dari kegiatan lokakarya yang berlangsung sejak pukul 09.00 - 20.00 WIB itu. Metode yang digunakan dalam acara ini berupa:

  • Peragaan Tari Penyambutan dan Tari Kejei oleh Sanggar Bumei Pat Petulai sebagai sanggar Pemerintah Daerah Kabupaten Rejang Lebong.
  • Diskusi dengan membagi 2 kelas, yaitu kelas Rejang Ulu dan Kelas Rejang Lembak untuk pengumpulan data dan Penetapan tari Adat.
  • Penggabungan kelas Rejang Ulu dan Rejang Lembak untuk pembakuan tari ada dan busana resmi Kabupaten Rejang Lebong.


Peserta lokakarya adalah mereka yang masuk dalam unsur tokoh-tokoh adat kabupatan Rejang Lebong, BMA Kecamatan, serta seniman dan budayawan yang ada di kabupaten ini.

Catatan:
Terima kasih untuk Henny Trianingsih Chandra, yang melalui orang tuanya telah melobi Bupati Rejang Lebong untuk mendapatkan dokumen sumber serta mengirimkannya ke saya lebih dari setahun lalu.

Baca selengkapnya....

Perlukah Bengkulu menjadi Bencoolen?

Beberapa hari ini usulan pergantian nama Bengkulu menjadi Bencoolen menjadi topik hangat di mailing list Blogger Bengkulu. Karena mailing list ini bersifat tertutup, maka hanya anggotanya saja yang dapat berpartisipasi di dalam diskusi. Perdebatan hangat ini, saya pikir perlu dinikmati oleh sanak-sanak lain dari Bengkulu atau mereka yang pernah memiliki kenangan tersendiri terhadap Bengkulu. Silahkan menanggapi. | herman

03/30/2009 09:27 AM
Rezi:

Kepada semua sanak bengkulu,

malam tdi ketika membaca running text di tv one, saya kaget krna ada berita bahwa nama bengkulu berubah menjadi bencoolen, saya penasaran juga krn hanya running text aja, sampai akhirnya pagi ini menemukan artikel di sini mungkin bisa jadi referensi

Ada berbagai macam pendapat yang muncul, bagaimana dengan sanak semuanya...



03/30/2009 02:55 PM
Suharyanto:

Yah seperti kebanyakan komentar, rasanya kurang kerjaan dengan mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Kalo kita kaji dari berbagai aspek, Bencoolen hanyalah sebutan untuk Bengkulu, sama dengan Netherlan = Holand = Belanda, dll. Kalo memang merujuk kepada nama asli, semestinya BANGKAHULU, atau pakai aja namo kerajaan besar di Bengkulu tempo dulu, SILEBAR misalnnya.

Jika logikanya sama dengan Ujung Pandang menjadi Makassar tidaklah tepat, soalnya Makasar memang nama salah satu etnis di kota tersebut dan memang ada kerajaan Makasar. Yang jelas tidak diganti menjadi Maccassar (ucapan orang bule). Jika menggunakan logika "pejabat" kota Bengkulu tsb, maka Jawa bisa menjadi Jawadwipa, Kalimantan menjadi Borneo, Sulawesi menjadi Celebes, Maluku menjadi Molucas dan ha ha ha... lucu.

Bencoolen, terus melafalkannya apa. Bengkulen, atau ben-cu-len, atau beng-cu-lun... ha ha ha bisa-bisa kita dianggap sebagai orang "culun"...(just kidding).

Saya rasa ini memang kurang kerjaan....


03/30/2009 03:26 PM
H. Musiardanis:

(Tulisan saya ini sudah dimuat di Harian Bengkulu Ekspress beberapa minggu yang lalu dan karena jengkel dengan kekerasan kepala para pejabat Kota Bengkulu, maka Insya Allah besok tulisan saya yang berjudul "Lagi-lagi Bencoolen" akan dimuat lagi).
----------

Beberapa hari ini kita membaca polemik hangat mengenai satu gagasan luar biasa mengenai nama Kota Bengkulu. Salah satu dinas di kota Bengkulu mempunyai keinginan untuk mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Alasan yang dikemukakan untuk melakukan perubahan itu antara lain karena nama Bencoolen lebih dikenal di manca negara ketimbang Bengkulu, dan ini dapat dijadikan wahana untuk mempromosikan wisata di daerah ini.

Ironis, sungguh sesuatu yang menyedihkan apabila kita lebih menghargai nama yang diberikan oleh orang asing (British) daripada nama yang diberikan oleh nenek moyang kita sendiri. Seseorang yang pernah mempelajari bahasa Inggris seharusnya tahu bahwa ada satu norma dalam bahasa tersebut dalam memberi nama bagi sebuah kaum, suku atau bangsa. Biasanya dalam melakukan ini orang Inggris menambahkan suku kata -an, ian, -er atau -nese di ujung nama asli tempat suku itu berdiam, misalnya : Sundanese untuk orang Sunda; Javanese untuk orang Jawa; Chinese untuk orang Cina; Washingtonian untuk orang Washington; New Yorker untuk orang New York, dan sebagainya.

Norma bahasa ini juga tampaknya dilakukan oleh kolonial Inggris terhadap orang Bengkulu, ketika mereka berada di Bengkulu pada abad ke 18 dan 19. Menurut norma tersebut “orang Bengkulu” akan mereka sebut dengan kata “BENGKULUAN”. Kata ini kemudian dalam tulisan mereka tertera menjadi “BENKULUAN”, kemudian karena pengucapan kata tersebut di lidah mereka keluar dengan bunyi “BENKULUEN” maka lama kelamaan kata itu berubah total, baik dalam bunyi maupun dalam tulisan, menjadi “BENCOOLEN”. Nah, dari sini jelas bahwa kata Bencoolen lebih mengacu pada sebutan untuk orang atau suku Bengkulu (ingat juga kata Singaporean untuk orang Singapura).

Nama Bengkulu sendiri memang belum begitu jelas berasal dari benda atau peristiwa apa. Ada beberapa versi yang mencoba menjelaskan asal muasal nama Bengkulu. Ada yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari peristiwa berdarah ketika Bengkulu terlibat perang dengan kerajaan Aceh. Kata sumber ini, saking banyaknya orang yang tewas dalam pertempuran, bangkai-bangkai manusia berserakan sampai ke hulu sungai. Dari sini muncul kata “Bangkai ke Hulu” yang akhirnya menjadi
Bangkahulu. Sumber lain menyatakan bahwa nama Bengkulu adalah pemberian Demang Lebar Daun (Petinggi Kerajaan Palembang) yang melihat bahwa keindahan pantai Bengkulu sama persis dengan keindahan pantai di pulau Bangka. Berdasarkan itu Demang Lebar Daun kemudian mengatakan bahwa daerah ini adalah “BANGKA DI HULU”, yang kemudian berubah menjadi BANGKAHULU.

Terlepas dari sumber mana yang lebih layak kita percaya, kita semua pantas menganggap bahwa nama BANGKAHULU atau BENGKULU adalah nama yang benar dan asli dari kota/daerah ini, bukan BENCOOLEN. Kata Bencoolen hanyalah sebutan orang-orang Inggris terhadap penduduk asli atau suku yang tinggal di Bengkulu pada saat itu dan nama Bengkulu sendiri pasti sudah lama ada, jauh sebelum bangsa Inggris datang. Kembali, mengapa kita harus lebih memilih kata Bencoolen? Sedangkan saat ini kata Bencoolen hanyalah sebuah jalan kecil tak dikenal di kota Singapura (Bencoolen Street).

Sepatutnyalah kita berhati-hati, janganlah terlalu mudah melemparkan gagasan perubahan apabila hal itu belum terlalu mendalam kita fahami. Sama halnya dengan keinginan mengubah nama Bumi Rafflesia menjadi Bumi Merah-Putih. Semua orang tahu Rafflesia pertama kali diketemukan di Bengkulu, sehingga wajar apabila daerah ini disebut Bumi Rafflesia. Kalau daerah/kota ini diubah menjadi Bumi Merah-Putih, daerah/kota-kota lain akan tersenyum, dan mungkin juga marah, karena dari Sabang sampai ke Merauke semuanya adalah Bumi Merah-Putih!

Bengkulu, 15 Februari 2009.


03/31/2009 06:43 AM
H. Musiardanis:

Menyimak berita-berita koran beberapa hari terakhir ini saya benar-benar prihatin dan bersedih. Menurut berita, salah satu dinas di Kota Bengkulu masih tetap ngotot ingin mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen. Sudah banyak tanggapan yang diberikan oleh berbagai orang dari latar belakang yang berbeda tentang hal ini, rata-rata mereka tidak setuju kita mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen! Mengapa kita masih tetap ingin mengubah itu?

Secara sederhana saja, coba kita fikirkan bagaimana kita melafadzkan kata Bencoolen. Apakah Bencoolen kita ucapkan dengan bunyi Bencoolen (huruf C di tengah), atau berbunyi Benculin (juga dengan huruf C di tengah), atau berbunyi Benkulen (seperti bahasa Belanda). Begitu juga agar keseimbangan dalam tata bahasa tetap terjaga, apakah kita menyebut Kota Bencoolen atau Bencoolen City ? Ingat kata Bencoolen berasal dari pengucapan bahasa Inggris terhadap kata BENGKULUAN, yang
artinya Orang Bengkulu.

Saya fikir untuk apa kita mengubah nama asli yang telah diberikan oleh para pendahulu kita, dengan nama yang diberikan oleh orang-orang asing, yang datang belakangan. Alasan untuk lebih marketable juga tidak bisa diterima, selama ini kita sudah gencar mempromosikan Bengkulu dengan kata Bengkulu, bukan Bencoolen! Pergantian nama ini akan membawa dampak kita harus mulai dari awal lagi dalam memperkenalkan Provinsi dan Kota yang kita cintai ini. Nama Bencoolen di jaman kini lebih tidak dikenal dari pada nama Bengkulu.

Hal lain yang lebih prinsip dan mutlak harus dipertimbangkan adalah masalah aspek hukum tata-negara. Nama Provinsi Bengkulu dan Kota Bengkulu itu ditetapkan berdasarkan Undang-Undang NKRI, yakni dalam Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu. Kalau ingin mengubah nama Kota Bengkulu, ubah dulu bunyi Undang-Undang tersebut, tidak cukup hanya dengan mengajukan Perda baru. Mengubah undang-undang negara bukan wewenang daerah tapi adalah wewenang pemerintah Republik
Indonesia!

Sudah selayaknya kita menghimbau pemerintah Kota Bengkulu agar tidak usah mengubah nama Bengkulu, yang betul-betul trade-mark bangsa kita sendiri. Banyak tugas-tugas lain yang lebih penting dan bermanfaat yang perlu mendapatkan perhatian. Misalnya soal Warung Remang-Remang, soal jalan dalam kota yang rusak, soal Pedagang Kaki-Lima, soal penghijauan dan juga soal pengembangan taman-taman yang dapat berfungsi sebagai paru-paru kota. Prioritaskan dulu kegiatan pada hal-hal yang bermanfaat langsung terhadap warga kota, tunda dulu kegiatan-kegiatan yang terkesan hanya sensasional dan kurang bermanfaat secara langsung bagi kehidupan warga.

Bengkulu, 30 Maret 2009.


03/31/2009 09:05 AM
Ade Ferianty:

Salut Pak Danis,

Tulisan Bapak sudah memberikan informasi yang cukup mendalam. Dari awal mendengar isu perubahan nama ini, saya pribadi merasa tidak setuju, walaupun dengan alasan yg tidak "ilmiah" seperti yang diuraikan Pak Danis (saya merasa kata bencoolen kok terlalu mirp bahasa gaulnya Debby Sahertian :D)...dan setelah saya baca tulisan Pak Danis, memang sepatutnya kita menghimbau pemerintah kota Bengkulu untuk tidak mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen.

Masih banyak hal lain yang jauh lebih perlu diperhatikan dan diurus oleh pemda Bengkulu seperti yang pak Danis uraikan.

Semoga pemda Bengkulu juga akses blogger ini dan membaca masukan dari putra-putri Bengkulu.

Wassalam,
Ade.


03/31/2009 09:36 AM
Suharyanto:

Saya sangat setuju dengan pak Danis. Kita lihat, apakah para petinggi pemkot benar-benar mau mewujudkan mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Jika iya, saya pikir kita semua orang Bengkulu wajib menolaknya. Buat "petisi keberatan". Kita orang Bengkulu, bukan orang Bencoolen.

Baca selengkapnya....

Namang

oleh: Herman

Nama adalah doa. Demikian Islam mengajarkan umatnya untuk memberikan nama yang baik pada anak yang baru lahir. Dengan nama yang baik itu, orang tua dan siapapun yang memanggil, telah mendoakan kebaikan bagi sang anak sesuai dengan namanya. Sebagai contoh, nama Yusuf, merupakan nama yang diberikan oleh orang tua untuk anaknya dengan harapan si anak kelak akan saleh seperti nabi Yusuf. Tak hanya itu, kalau perlu secara fisik si anak akan tampan seperti salah satu dari 25 orang nabi dan rasul yang terkenal itu.

Orang Kaur, daerah paling selatan propinsi Bengkulu, hampir seratus persen merupakan pemeluk agama Islam. Mungkin karena orang di sepanjang pulau Sumatera merupakan bagian dari rumpun besar bangsa Melayu yang budayanya dipengaruhi Islam secara kental, sebab penyebaran Islam di tanah Sumatera bergerak dari Pasai si sebelah paling Utara (Aceh) hingga paling selatan (Lampung).

Selain menentukan nama sesuai dengan ajaran Islam, sebelum anak lahir, orang tua telah memikirkan kepada siapa si anak kelak akan memanggil Tamang atau "namang".

Tamang adalah panggilan seorang cucu laki-laki kepada kakeknya. Kepada neneknya, sang cucu memanggil "Bini". Sebaliknya, cucu perempuan akan memanggil kakeknya dengan sebutan "Bini" dan memanggil neneknya dengan sebutan "Tamang". Panggilan ini merupakan panggilan biasa menurut aturan dalam budaya orang Kaur. "Namang" adalah adat yang lainnya. Panggilan Tamang akhirnya tidak hanya ditujukan kepada Tamang kandung.

Orang yang "di-Tamang" oleh anak yang baru lahir tetaplah harus memiliki pertalian darah dengan anak yang baru lahir. Tamangnya ini bisa merupakan saudara dari Tamang atau bini kandung.

Untuk bisa menamangkan anak kepada seseorang, maka anak yang baru lahir harus diberi nama yang memiliki minimal satu suku kata yang diambilkan dari satu suku kata orang yang ditamangkan. Misalnya, Herman, memiliki satu suku kata "Man" yang mengikatkan hubungan dengan Tamangnya yang bernama "Manaf". Manaf sendiri adalah adik kandung dari Tamang (kakek) kandung Herman dari pihak Bapak. Demikian pula dengan Midi, yang memiliki satu suku kata "Di" yang terdapat pada nama Tamangnya, yang kebetulan merupakan Tamang (kekek) kandung sendiri "Karadi".

Adat "menamangkan" sendiri memiliki tujuan penting, yakni semacam penghargaan orang tua anak yang baru lahir kepada orang yang ditamangkan. Menguatkan kembali pernyataan serta sikap bahwa diantara anak yang baru lahir dengan yang ditamangkan masih memiliki pertalian keluarga. "Namang" adalah tali pengikat dan penguatnya.

Bagi orang yang ditamangkan, ia akan merasa mendapatkan penghormatan yang lebih dari keluarga yang baru dikaruniai anak. Kadang, ada pula orang tua yang berharap supaya anak dari keponakannya yang baru lahir mau menamangkan ia. Si orang tua anak yang baru lahir pun juga tak mau dikatakan sombong tak menamangkan anaknya kepada orang tertentu. Tak jarang pula ada yang menilai ada anggota keluarganya yang tidak menamangkan keturunan mereka kepadanya karena merasa dirinya berlatar belakang ekonomi yang "kurang". Fungsi adat "namang" tetaplah untuk semakin mengikat dan menguatkan pertalian keluarga dan rasa persaudaraan.

Sebenarnya, ada pula yang mengaitkan nama anak yang namang dengan dan nama orang yang ditamang tidak dengan suku kata, namun cukup dengan hanya bunyi yang ditimbulkan dari penyebutan nama anak dan Tamangnya. Misalnya pada nama Marfendri. Ia lahir pada bulan Maret, dan namang ke Fandi, saudara dari Bini (nenek) kandungnya. Kedua nama itu tidak memiliki kesamaan suku kata sedikitpun. Keduanya hanya sama-sama memiliki bunyi "i" pada pelafalan nama mereka.

Namang langsung ke Tamang kandung merupakan hal yang langka. Namun tetap saja ada. Misalnya pada Midi. Sekarang pun, Anak ketiga Midi yang perempuan diberi nama Dhiya Shadrina (artinya: penerang hati kita), Namang kepada Tahaya. Tahaya adalah Mak (ibu) kandung Midi, yang berarti Tamang kandung bagi Dhiya.

Setelah ditamangkan, biasanya orang yang ditamangkan, istri atau suaminya, juga anak-anaknya merasa bahwa anak yang baru lahir itu adalah bagian dari keluarga inti (keluarga batih) mereka sendiri. Si Tamang dari hasil Namang ini kadangkala memiliki rasa kasing sayang yang lebih daripada Tamang kandung si anak itu sendiri. Jika memiliki harta (materi), si anak yang baru lahir ini akan mendapat "fasilitas" hidup yang baik dari "Tamang baru" beserta keluarganya itu.

Adat "Namang" ini hanya terdapat pada orang Kaur Asli, yakni mereka yang berbahasa Kaur/Bintuhan. Secara geografis, letak tempat tinggalnya mulai dari paling Utara adalah daerah Nusuk, Hawat Mate, atau daerah Kinal, yang berbatasan dengan Kecamatan Kaur Utara (yang lebih dikenal dengan Padang Guci) hingga daerah Way Hawang, daerah paling ujung Selatan, yang merupakan wilayah perbatasan Propinsi Bengkulu dengan propinsi Lampung.

Keterangan:
Foto "Tunggu(k)an" berasal dari blog Vibriyanti. Tunggu(k)an adalah kayu bakar dalam bahasa Kaur. Seperti tampak pada foto, dikumpulkan untuk kemudian di bawa ke dapur guna memasak.

Baca selengkapnya....

Mandala di langit Bengkulu

oleh: Neng Dalil

Mandala airlines, salah satu maskapai penerbangan tertua di Indonesia akan membuka jalur penerbangan Jakarta - Bengkulu - Jakarta mulai tanggal 21 September 2008. Maskapai ini mencoba ikut meramaikan lalu lintas udara setelah Kartika Air, Lion Air, Sriwijaya Air,dan Batavia Air telah mendahului membuka jalur penerbangan ke Bengkulu.

Meski penerbangan akan dimulai 21 September, penjualan tiket Mandala telah dimulai sejak awal bulan ini. Untuk pengangkutan penumpang mudik lebaran, mulai dari penerbangan pertama sampai 25 September dengan rute Jakarta - Bengkulu telah habis terjual.

Mandala Air menggunakan pesawat jenis Airbus seri A319 dengan muatan yang lebih banyak dibanding dengan pesawat jenis Boeing yang biasa digunakan oleh maskapai lain yang berlabuh di bandara Fatmawati Bengkulu.

Tiket yang dikeluarkan Mandala Air berupa electronic ticket. Anda yang ingin menjajal pesawat Airbus dapat memesan tiket Mandala untuk melakukan perjalanan dari dan ke Bengkulu.

Baca selengkapnya....

Kalau kentut, dicukik

oleh: Herman


SEKITAR tahun 1988, Bak (bapak) membawa kami pindah domisili ke Tanjung Jaya, sebuah desa yang terletak di pinggiran kota Bengkulu. Disini saya rasakan bahasa sehari-hari yang berbeda yang digunakan masyarakatnya jika dibandingkan dengan kebiasaan kami menggunakan bahasa campur-campur dari daerah Bengkulu bagian selatan. Sebelumnya, kami biasa menggunakan bahasa Alas/Talo, Manna, atau lebih sering bahasa Kaur. Di daerah Tanjung Jaya dan sekitarnya benar-benar memiliki bahasa yang sama sekali baru untuk kami saat itu. Yansen Toha, seorang dosen Universitas Bengkulu yang saat ini sedang menyelesaikan sekolah di Australia membuat saya mengetahui kalau ternyata daerah Tanjung Jaya, Tanjung Agung, Semarang, Surabaya, Dusun Besar, hingga desa Pekan Sabtu dan sekitarnya adalah daerah suku Lembak. Masyarakat di sini memiliki kebudayaan yang agak berbeda dengan suku-suku lain di propinsi Bengkulu.

Saat pindah sekolah ke sebuah SMP di daerah desa Semarang, baru beberapa hari di sana kakak saya membawa pulang sebuah pengalaman yang lucu. Ia ceritakan, di sekolahnya ada anak yang dicukik (Cukik: Jitak) beramai-ramai oleh teman-teman di sekelilingnya. "Kasihan sekali ia," pikir kakak saya. Anak-anak yang menghajarnya dengan buku jari tengah yang tulangnya begitu menyakitkan kepala itu baru berhenti setelah si anak bersiul. Kok bisa? Ternyata, anak yang dicukik itu tadinya kentut. Setelah ketahuan, teman-temannya men-cukik secara beramai-ramai.

Ada kebiasaan di sini, kalau ada yang kentut, maka ia akan dicukik. Rasanya tentu sakit sekali. Sejak tahu itu, saya berusaha untuk tidak ketahuan kalau sedang atau ingin kentut. Mungkin maksudnya berkaitan dengan sopan santun saja. Kentut di tengah-tengah orang banyak tentulah tidak sopan. Entah itu menghasilkan bau yang tidak sedap ataupun suaranya yang tidak enak didengar sebab suara berasal dari "bagian bawah".

Saya tidak tahu apakah kebiasaan yang saya jumpai sekitar 20 tahun lalu itu masih ada atau tidak di masyarakat sini. Juga, apakah mencukik orang yang kentut berlaku untuk semua lapisan usia, ataukah di kalangan anak dan remaja saja. Saya tidak bisa membayangkan kalau orang-orang tua yang tengah berkumpul dalam satu hajatan, lalu salah seorang di antaranya kentut, dan akhirnya dicukik beramai-ramai oleh orang di sekelilingnya.

Baca selengkapnya....

Pendaftaran Mailing List Blogger Bengkulu

Saat ini, ada banyak blog yang isinya bercerita tentang Bengkulu. Daftar yang ada di sidebar blog ini hanya beberapa diantaranya. Blog-blog itu menggunakan layanan blog engine gratisan seperti Multiply, blogger (blogspot), atau wordpress. Ada juga beberapa yang hosting sendiri. Blog-blog ini merupakan media informasi yang memiliki jangkauan yang lebih luas serta pembaca yang lebih beragam daripada media konvensional. Inilah alternatif sumber informasi bagi mereka yang ingin mengetahui kabar Bengkulu.

Blog Simpang mencoba memfasilitasi blogger Bengkulu untuk berbagi informasi dan berdiskusi dalam sebuah mailing list "Blogger Bengkulu". Selama ini, diantara blogger hanya saling merespon lewat lembar komentar pada setiap posting di blog lainnya. Atau, yang paling mudah adalah dengan menuliskan pesan di shoutbox yang terpasang di blog. Seringkali, ada banyak hal yang bisa didiskusikan secara lebih serius dan tentunya tidak cukup di dalam lembar komentar karena tentunya belum terbiasa. Atau lebih parahnya, ada komentar panjang lebar tentang sebuah posting di dalam shoutbox. Kenapa tidak mendiskusikannya dalam sebuah mailing list?

Jika Anda blogger asal Bengkulu dan tertarik untuk berdiskusi tentang Bengkulu, kami mengundang Anda untuk bergabung di dalam mailing list ini. Caranya dengan mengirim imel ke admin di simpanglimo@gmail.com. Atau Anda bisa mendaftar kesini. Karena mailing list ini bersifat tertutup, maka sebaiknya menggunakan cara pertama. Syaratnya sederhana, Anda harus memiliki sebuah blog, sebab karenanya Anda disebut sebagai "Blogger".

Baca selengkapnya....

Asrama Pelajar Bengkulu di Jogja dinilai Liar

Saya minta maaf memposting artikel ini, karena saya beranggapan semoga Simpang Limo bisa jadi penghubung, atau mungkin ada pejabat Bengkulu yang berwenang yang membaca artikel ini bisa mengambil solusi yang terbaik.


Klik gambar untuk melihat tampilan lebih besar


Menuntut ilmu dan merantau, adalah hal penting yang harus kita galakkan, tapi ternyata anak-anak yang membawa nama Bengkulu tetap saja tidak menjaga nama baik daerah yang dibawanya, saya sangat prihatin sekali sampai-sampai hal ini dibawa ke media forum jogja, yang membaca akan melahirkan image yang sangat negatif terhadap orang-orang Bengkulu, dimana kenyataannya saat ini tidak banyak anak-anak terutama pelajar Bengkulu diperhitungkan di tanah rantau karena ulah komunitas kita sendiri.


Sanak-sanak disilakan baca di forum diskusi ini tentang Asrama Liar mahasiswa Bengkulu, semoga bisa cepat diselesaikan.

Alamat forum, Asrama mahasiswa bengkulu liar berada di bawah ini, ini adalah web yang sangat populer terutama di Jogjakarta, pasti sudah banyak sekali yang membaca, tapi mereka hanya diam saja karena merasa bukan orang Bengkulu! Dan nama Bengkulu makin coreng-morenglah di perantauan. Mengenai masalah ini, silahkan baca disini.

Himbauan untuk sanak-sanak di rantau, bila membawa nama daerah tolong dijaga baik-baik. Kalau tidak bisa menjaganya, mending bawa nama personal saja.

Baca selengkapnya....

Monumen Thomas Parr: Heritage Bengkulu Dalam Ancaman

Oleh : Tanah Rejang



Apapun dalihnya, Heritage di Kota bengkulu ini harus di selamatkan. Rencana pembongkaran Tugu ini oleh Pemerintahah Kota Bengkulu untuk membangun terowongan adalah sangat tak beralasan, mengapa Pemerintah setempat tidak mencari solusi dengan membangun terowongan tanpa harus membongkar Tugu Thomas Parr, yang merupakan Heritage Bengkulu bahkan Heritage milik Indonesia yang telah berumur 2 abad(1808-2008).

Dengan ini saya menghimbau seluruh blogger Indonesia untuk membantu mempublikasi Heritage warisan bangsa ini untuk di selamatkan, agar pembongkaran Tugu ini di batalkan.


Thomas Parr Monument - Bengkulu



Terletak di sebelah tenggara dan berjarak 170 m dari Benteng Marlborough. Keletakan geografis tugu ini adalah 03o47'19,16" LS dan 102o15'04,1" BT. Tugu ini berupa bangunan monumental untuk memperingati Residen Thomas Parr yang tewas dibunuh rakyat Bengkulu. Tugu ini berdenah segi 8 dan mempunyai tiang-tiang bergaya corintian. Pintu masuk pada tugu ini terdapat di bagian depan dan sisi kanan dan kiri. Bentuk dari pintu masuk ini lengkung sempurna dan tidak mempunyai daun pintu. Pada salah satu dinding di ruang dalam tugu terdapat sebuah prasasti, tapi pada saat ini sudah tidak dapat dibaca lagi. Bagian atas tugu mempunyai atap yang berbentuk kubah. Berdasarkan lukisan Joseph C Stadler dalam buku Prints of Sotut East Asia in The India Office Library terlihat di lokasi tugu ini terdapat Gedung Pemerintahan dan Gedung Dewan EIC. Pada saat ini sisa-sisa kedua bangunan tersebut sudah tidak dapat ditemukan lagi karena lokasi tersebut sudah merupakan kawasan pertokoan dan pusat pemerintahan Dati I Bengkulu.(2)

Monumen ini dibangun untuk mengenang Thomas Parr, seorang Residen Bengkulu dari Inggris yang tewas ditikam dan kemudian dipenggal kepalanya oleh penduduk setempat pada tahun 1807 ketika ia tengah beristirahat di rumahnya. Thomas Parr diduga dibunuh oleh orang-orang Bugis yang bekerja sebagai anggota keamanan perusahaan dagang Inggris (East India Company). Thomas Parr merasa khawatir dengan perkembangan kekuatan pasukan Bugis ini dan berupaya untuk mengurangi peran mereka, namun orang Bugis merasa tidak senang hingga akhirnya ia terbunuh. Inggris membalas kematian Parr dengan menembaki sejumlah penguasa lokal yang dicurigai berada dibalik pembunuhan tersebut dan membumihanguskan desa-desa tempat tinggal mereka.(4)

Thomas Parr and Hamilton monument at A.Yani street


TUGU THOMAS PARR, remembering the evil

Residen Thomas Parr (1805-1807) adalah penguasa Inggris ke empat puluh sembilan(8) yang diangkat pemerintah Inggris (Residen pertama pertama Bengkulu, penguasa sebelumnya di sebut Deputy Governor) Thomas Parr Menggantikan Deputy Governor Walter Ewer (1800-1805)(8),Parr sampai di Bengkulu tanggal 27 September 1805, menggantikan Walter Ewer. Thomas Parr dikenal sebagai penguasa Inggris yang angkuh dan ganas, dia adalah orang pertama yang memperkenalkan tanaman kopi dengan tanaman paksa di Bengkulu.

Kekejaman dan keangkuhan Thomas Parr tidak saja dirasakan oleh penduduk pribumi tapi juga oleh orang-orang Bugis yang bekerja pada kompeni Inggris, bahkan juga dirasakan oleh pejabat Inggris lainnya. Parr juga dianggap terlalu jauh melangkah mencampuri urusan kepemimpinan tradisional dan adat masyarakat Bengkulu, seperti membuat pertentangan antara rakyat dengan pangeran Sungai Hitam serta peradilan.

Puncak dari kebencian rakyat Bengkulu akhirnya tidak terbendung lagi pada malam 23 Desember 1807, Thomas Parr yang berada di rumah peristirahatannya Mount Felix(Sekarang Rumah Dinas Gubernur atau Gedung Daerah) tiga mil arah Selatan Marlborough dihabisi masa rakyat dibawah pimpinan Depati Sukarami, Depati Pagar Dewa dan Depati Lagan. Kesaksian dari isteri Parr menyebutkan tiga orang yang masuk kerumah membunuh Parr, asistennya Charles Murray yang berusaha melindungi majikannya terluka dan akhirnya meninggal, sementara dia sendiri hanya terluka. Dari kesaksian isteri Parr jelaslah bahwa tujuan penyerang hanyalah Thomas Parr.

Sebagai pembalasan Inggris bertindak keji dan membabi buta, menghancurkan dusun-dusun di Sukarami, Pagar Dewa dan Lagan tanpa prikemanusiaan, bukan saja penduduk yang menjadi sasaran hewan ternakpun tidak luput dari amukan tentara Inggris yang kehilangan kendali.

Pada tahun 1808 Inggris mendirikan Monumen untuk memperingati Thomas Parr yang terletak 100 meter dari Benteng Marlborough, dalam pembangunannya rakyat dipaksa dengan kekerasan agar pembangunannya dapat selesai dalam waktu yang telah ditentukan. Luas bangunan tugu ini seluas 70 meter persegi, tinggi 13,5 meter persis di depan kantor Pos Bengkulu. Monumen ini oleh rakyat Bengkulu disebut dengan Kuburan Bulek . Inggris mendirikan monument ini sebagai penghargaan dan penghormatan terhadap Thomas Parr sementara bagi rakyat Bengkulu ditafsirkan sebagai penghargaan terhadap para pejuang tak dikenal yang telah mati dalam mempertahankan hak dan kemerdekaaan tanah leluhurnya dari penindasan kolonial Inggris.


Kuburan Bulek ini juga merupakan simpul persatuan rakyat Bengkulu dalam melakukan protes dan air mata darah orang Bengkulu yang telah ditumpah paksakan oleh kesemenaan Inggris, juga merupakan tonggak sejarah yang mengandung nilai historis yang tidak ternilai bagi generasi sekarang.(3)


Makam Thomas dan para asistennya


Di semayamkan di dalam Benteng Marlborough dan masih bisa kita jumpai bila berkunjung ke Benteng fort Marlborough, yang katanya memang di pindahkan dari tempat asal mulanya untuk menghindari amarah rakyat Bengkulu saat itu yang membongkar makam tersebut.

Sebagai informasi buat pengunjung Benteng Fort Marlborough, saat ini tidak banyak yang tahu kalau makam di dalam benteng itu adalah makan Thomas Parr dan Asistennya. Dulu saat admin masih sering kesana tulisan di atas makam tersebut itu juga tidak begitu terbaca lagi, dan mungkin sekarang keadaan tulisannya semakin parah dan makin tak terbaca. Namun demikian admin berhasil memperoleh copy tulisan yang sempat di baca ahli sejarah Inggris yang mendokumentasikannya saat dilakukan restorasi pertama Benteng Fort Marlborough dulu, dan copy tulisan ini semoga bisa di cantumkan di dekat makam oleh pengelolah Benteng untuk keterangan kepada pengunjung yang datang ke makam. Berikut copy dari tulisan batu penutup makam itu (3 makam) (Gravestones in Fort Marlborough):


1. Underneath this obelisk are interred / the Remains of / Captain Robert Hamilton / Who died on the 15th of Decr 1793/ at the Age of 38 Years / in the command of the Troops / and / Second Member of the Government.

2. Here / Are deposited the Remains of / Charles Murray Esqr. / Assistent to the Residency(?) of Fort Marlborough / His !!!!!! a Progress / of the Band of Assassins / on the Night of the ...... December 1807 / when Thomas Parr esqr / Resident at Bencoolen / Represenrative of Government / fell by their misguided Duty(?) / His humane care preserved the Life of / The widow of !!!!! his ....nd / Wounded in com...... her husband / from the Daggers of the Assassins / Dis..... induced by anxious and unceasing Execution / in the zealous Discharge of his public Duty / (dimine) a Season of Danger and Alarm / removed(?) this Life / on the 7th of January 1808 / Aged 21 Years / In Memory / of his brave and humane Conduct / and of his public Services / The Right Honourable Lord Minto / Governor General in Council / caused this Monument to be erected / To the Memory of / Charles Murray Esquire.

3. Here are Deposited / The Remains / of / Thomas Parr Esquire / in life / the representative !!!!!!!!!!! I !!!!!!! assassins / in the night .............. of December /................ / .................. /....................... / and advantage to I His Employers / The Right Honourable Gilbert Lord Minto / Governor General in Council / has ordered / that this marble be erected / to his Memory / Lindeman, Sct.This Stone / Is added ad .............. the ........................./ The ................. of / Thomas Parr Esquire /.............. /............. / Widow / Will ............................ / Time shall be no more / Lindeman, Sct. (De naam Lindeman is die van de steenhouwer)


Tanda baca seru dan titik-titik pada kalimat di atas adalah huruf-huruf atau lambang yang tak bisa di kenali lagi (tak dapat di baca) pada saat di lakukan restorasi pertama yang melibatkan arkeolgi dunia.

Bisa di simpulakan bahwa ke tiga makam itu adalah makam :
1. Captain Robert Hamilton (Orang kedua Governor yang berusia 38 tahun)
2. Charles Murray Esqr (Asisten Residen yang berusia 21 tahun)
3. Thomas Parr Esquire (Residen pertama Bengkulu)

Jadi Tugu Thomas Parr sangat erat hubungannya dengan Benteng Fort Marlborough. Inilah penjelasan dari makam- makam yang selalu menjadi tanda tanya bagi pengunjung Benteng Fort Marlborough ( Admin).

Oh birokrat Bengkulu, anda boleh saja berkuasa saat ini. Tapi dengan membongkar heritage ini sama saja anda menghina dan tidak menghargai orang-orang Bengkulu, anda akan di kenang sebagai birokrat yang tak menghargai nilai-nilai sejarah, dan anda di kenang sebagai birokrat yang tak patut di hormati. Anda akan masuk catatan hitam sejarah Bengkulu. Jadi sebaiknya anda ikut melestarikan Heritage yang menjadi Icon Bengkulu lebih dari dua abad berlalu ini, bukan dengan membongkarnya.

Reference :
1. Tanah Rejang
2. http://www.balarpalembang.go.id/Sidda_Vivi.htm
3. http://c10dean.multiply.com/journal/item/25/TUGU_THOMAS_PARR_remembering_the_evil
4. www.indonesia.travel
5. http://home.hccnet.nl
6. http://www.bengkuluekspress.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=4621
7. http://pab-indonesia.com/web/content/view/7413/82/
8. http://www.worldstatesmen.org/Indonesia.htm
9. http://members.virtualtourist.com/m/ca594/12a873/4/
10. http://members.virtualtourist.com/m/p/m/2a945e

Baca selengkapnya....

T u g u

oleh: Yansen


Kata “tugu” sepertinya mempunyai tempat tersendiri di masyarakat Kota Bengkulu. Kemunculan kata ini selalu berujung dengan kontroversi. Tahun lalu, misalnya, kita disuguhi perdebatan mengenai renovasi tugu di Simpang Lima. Perdebatan itu melibatkan banyak komponen yang terbelah menjadi dua kubu. Kubu pertama menginginkan patung Bung Karno dan Ibu Fatmawati yang dibangun. Sedangkan kubu kedua menginginkan patung kuda menjadi landmark di Simpang Lima. Masing-masing punya argumen, walaupun kemudian yang menang adalah “pasukan” kuda.


Beberapa waktu terakhir, tugu kembali menjadi headline. Keinginan pihak pemerintah kota untuk merenovasi tugu tabot dan tugu perjuangan ditentang banyak kalangan. Pihak pemerintah kota menginginkan Tugu Adipura didirikan sebagai pengingat keberhasilan Kota Bengkulu meraih Piala Adipura tiga kali berturut-turut. Tapi, pihak lain mengajukan keberatan dengan dibongkarnya Tugu Tabot yang merupakan penghormatan terhadap budaya. Apalagi tugu perjuangan yang merupakan apresiasi terhadap perjuangan merebut kemerdekaan. Mereka juga mengungkapkan memenangi Piala Adipura tidaklah berarti banyak dan ironi dengan keadaan yang sesungguhnya.

Tingkat kemanfaatan bangunan berupa tugu atau monumen memang layak diperdebatkan. Ia dibangun hanyalah sebagai bentuk pemenuhan kebutuhan manusia akan hal-hal yang bersifat transenden dibaliknya. Nilai dibalik inilah yang menjadi pangkal perdebatan bentuk tugu yang mesti dibangun. Bagi banyak pihak, tugu yang akan dibangun akan lebih berguna jika ia mengandung nilai yang layak dijunjung. Itu pulalah yang kemudian membuat keputusan kadang bernuansa politis. Tetapi, dalam konteks tata ruang kota, bangunan seperti itu adalah usaha mempercantik kota. Karenanya penampilan luar menjadi penting. Atas dasar ini, tentulah bentuk yang menarik mata yang menjadi pilihan. Tugu dengan air mancur dan sorotan lampu, misalnya, mungkin menjadi pilihan.

Lalu mana yang penting: penampakan atau substansi; kulit atau isi; bentuk atau filosofi. Ini merupakan perdebatan klasik tak berujung. Untuk mencapai isi, kita harus membuka kulit, ungkap Master Echart, sang pewarta kebaikan. Tapi, “Apalah arti sebuah nama,” ungkap Shakespare, pujangga Inggris. “Mawar tetaplah mawar. Keharumannya takkan berkurang walaupun kita tak menyebutnya mawar,” ujarnya lagi.

Bengkulu mungkin perlu Tugu Adipura untuk mengingatkan pentingnya nilai lingkungan. Tetapi, alangkah ruginya anggaran yang dikeluarkan jika hanya sekedar untuk kepentingan politik sesaat. Kita juga mungkin masih membutuhkan Tugu Tabot dan tugu perjuangan semisal Tugu Garuda. Tetapi, tanpa keinginan untuk menghayati nilai dibalik itu, semua tugu yang ada takkan berguna. Monumen adalah benda mati yang tak bersumbangsih apapun tanpa keinginan mencari makna dibaliknya.

Maka, bagi kebanyakan orang, Tugu Tabot ataupun Tugu Adipura tak terlalu bermasalah. Tapi menjadi masalah jika menjadi perdebatan berkepanjangan yang tak berguna. Tak elok terlalu sibuk dengan urusan “sepele.” Ada segudang masalah lain yang harus dipecahkan dan butuh energi besar. Alangkah baiknya jika energi tersebut digunakan untuk melayani rakyat yang semakin tak kuasa menanggung beban dunia.
Wallahu’alam bisshowab.

Dimuat di Harian Bengkulu Ekspress, 25 Agustus 2007.

Baca selengkapnya....

Tentang Bengkulu Selatan

Oleh: Ekie Pucukan*

Bengkulu Selatan adalah sebuah kabupaten di provinsi Bengkulu.

Kabupaten Bengkulu Selatan berdiri berdasarkan Keputusan Gubernur Militer Daerah Militer Istimewa Sumatera Selatan pada tanggal 8 Maret 1949 Nomor GB/ 27/ 1949, tentang pengangkatan Baksir sebagai Bupati Bengkulu Selatan (sebelumnya bernama Kabupaten Manna Kaur 1945 – 1948 dan Kabupaten Seluma Manna Kaur 1948 – 1949). Pada perkembangan selanjutnya dikuatkan dengan Surat Keputusan Presiden RI tanggal 14 November 1956 dengan Undang- Undang Nomor 4 Tahun 1956 (Tambahan Lembaran Negara 109).

Berdasarkan Kesepakatan Masyarakat Rakyat tanggal 7 Juni 2005, dikuatkan oleh Perda No. 20 tanggal 31 Desember 2005 dan diundangkan dalam Lembaran Daerah No. 13 Tanggal 2 Januari 2006 Seri C maka tanggal 8 Maret ditetapkan sebagai hari jadi Kabupaten Bengkulu Selatan. Berdasarkan Undang- undang Nomor: 03 Tahun 2003 Kabupaten Bengkulu Selatan mengalami pemekaran wilayah menjadi Kabupaten Kaur, Seluma dan Bengkulu Selatan.

Kabupaten Bengkulu Selatan juga dikenal dengan sebutan Seraway. Asal nama Seraway dikaitkan dengan dua pendapat yaitu :

  1. Seraway berasal kata sauai yang maksudnya cabang dua buah sungai yaitu sungai Musi dan Sungai Seluma yang dibatasi oleh Bukit Capang.
  2. Seraway berasal kata dari seran yang artinya celaka (celako). Ini dihubungkan dengan suatu legenda dimana seorang anak raja dari hulu karena menderita penyakit menular lalu dibuang (dihanyutkan) ke sungai dan terdampar dimana anak raja inilah yang mendirikan kerajaan ini.

Kerajaan Seraway terpisah dengan Kerajaan Bengkulu (Bangkahulu). Kerajaan ini ditemui antara daerah sungai Jenggalu sampai ke muara sungai Bengkenang namun kerajaan ini akhirnya terpecah- pecah menjadi kerajaan kecil yang disebut margo (marga). Marga dipimpin oleh seorang datuk dan membawahi beberapa desa/ dusun. Marga- marga di Kabupaten Bengkulu Selatan itu adalah Pasar Manna, VII Pucukan, Anak Lubuk Sirih, Anak Dusun Tinggi, Kedurang, Ulu Manna Ilir, Ulu Manna Ulu, Anak Gumay dan Tanjung Raya. Namun mereka bersatu atas dasar satu kesatuan dan satu keturunan dan satu rumpun bahasa.

Bahasa di Kabupaten Bengkulu Selatan terdiri dari dua bahasa asli yaitu bahasa Pasemah yang banyak dipakai dari muara sungai Kedurang sampai dengan perbatasan Kabupaten Kaur sedangkan mayoritas menggunakan bahasa Seraway yang merupakan turunan dari bahasa Melayu. Berdasarkan Sensus Penduduk 2000 suku bangsa di Kabupaten Bengkulu Selatan adalah Serawai 76,87 persen, Pasemah 13,39 persen, Jawa 2,89 persen, Minangkabau 2,21 persen, Melayu 1,06 persen, Sunda 0,95 persen, Batak 0,73 persen dan lainnya 1,89 persen.


* Ekie Pucukan adalah anak Bengkulu asal Pulau Enggano. Saat ini mukim di kota Manna. Artikel ini ia ambilkan dari Wikipedia. Ekie bisa dihubungi di alamat: jemaumannaekie@gmail.com

Baca selengkapnya....

Rumah Adat Suku Bangsa Rejang

oleh : Presty Larasati




Rumah tradisional Rejang asli disebut dengan istilah Umeak Potong Jang. Umeak berarti rumah, Potong berarti buatan, dan Jang maksudnya Rejang. Jadi, Umeak Potong Jang = rumah buatan rejang. Rumah ini juga biasa disebut Umeak-An, dimana An berarti kuno/lama. Umeak-an = rumah lama. Keberadaan rumah asli Rejang ini boleh dikatakan sudah musnah. Menurut orang tua yang masih ingat detail rumah asli ini, rumah yang masih ada sekarang sudah dipengaruhi oleh potongan Meranjat (suku bangsa yang ada di kab. Ogan Komering Ulu Sum-Sel). Perbedaan rumah asli dan yang dipengaruhi Meranjat terletak pada bubungan. Umeak Potong Jang memiliki bubungan melintang, sehingga tritisan atap/ cucuran menghadap ke depan dan belakang. Sedangkan yang dipengaruhi Meranjat, memiliki bubungan membujur sehingga tritisan menghadap ke samping.

Bentuk bagian-bagian

  • Umeak potong jang memiliki bubungan jembatan dengan teblayeaa (pelayaran) di kiri dan kanan. Atap depan dan belakang makin menurun.
  • Lantai bagian berendo (beranda/teras) dan dapur dibuat lebih rendah dari badan rumah.
  • Bentuk pintu dan jendela segi empat, membuka ke dalam atau ke samping.
  • Tiang rumah besar dengan beginting tengah(kecil di tengah)
  • Tangga dibuat dari papan tebal dengan lebar selebar pintu berendo
  • Plafonnya tergantung pada kasau atap, tidak berpagu
  • Di atas ruang tengah bagian belakang ada ruangan berbentuk loteng yang disebut geligei


Susunan Ruang

Susunan ruang Umeak Potong Jang atau Umeak-an terdiri dari (lihat gambar denah):


1. Berendo
Panjang berendo selebar rumah. Lantainya lebih rendah depicing (selangkah dari bagian dalam). Berendo memiliki fungsi social (tempat berbincang pagi dan sore dengan tamu dan tetangga akrab, menegur orang lewat, bermain ank-anak), fungsi ekonomis (tempat menukang, membuat alat transportasi), dan tempat menjemur pakaian.

2. Umeak Danea
Merupakan bagian ruang dalam paling depan. Umeak dana ini berfungsi sebagai tempat menerima tamu, musyawarah, tempat duduk para bujang waktu bersyair, dan tempat duduk tamu anak gadis.

3. Pedukuak
Merupakan tempat tidur orang tua, juga terdapat pemenyap atau tempat menyimpan barang berharga dan tikar.

4. Geligei
Loteng di atas pedukuak dan R. menyambei. Merupakan ruang tidur anak gadis dan tempat mereka menyambut tamu teman perempuannya. Tangga untuk naik ke geligei dapat di naik-turunkan. (lihat gambar potongan A-A)

5. Ruang menyambei
Merupakan ruangan tempat perempuan menyambei. Ruangan ini dibatasi dengan sekat berupa jendela tak bertutup. Gang yang terdapat di ruang ini merupakan jalan menuju dapur. (lihat gambar potongan A-A)

6. Dapur
Merupakan tempat untuk memasak, berdiang, dan tempat makan.

7. Ga-ang
Bagian dari dapur, dekat tangga luar belakang. Ga-ang merupakan ruang terbuka seperti berendo. Berfungsi tempat mencuci, menyimpan air, dan menjemur bahan makanan. Lantainya terbuat dari bambu bulat, sehingga waktu mencuci, air langsung mengalir ke bawah. Di ujung ga-ang terdapat Kepato Lesat Buluak Bioa (rak-rak tempat perian dan bambu air)

Susunan dan fungsi ruang ini sangat ditaati oleh masyarakat Rejang. bagi mereka, malanggar susunan dan fungsi ruang pada rumah ini sama dengan melanggar adat istiadat..

selain itu, terdapat juga ragam hias yang bisa kita temukan di Umeak Potong Jang ini. untuk lebih detail, ragam hias seperti apa yang terdapat di rumah ini, klik postingan mengenai ragam hias pada tenunan Rejang berikut

Baca selengkapnya....

Ragam hias Bengkulu part 2 : ragam hias pada tenunan rejang

oleh : Presty Larasati

Berikut merupakan nama, gambar, dan makna (bila saya mendapatkannya) untuk kelompok ragam hias pada tenunan rejang yang berhasil saya dapatkan :

  • Cebung lenggong
    cebung-lenggong.jpg

  • Iliak bintang
    iliak-bintang.jpg


  • Lekau betatau
    lekau-betatau.jpg

  • Mata punai
    matai-panai.jpg

  • Tebea pinang uar, tebaran pinang muda
    >tabea-pinang-uar.jpg

  • Semut beleet, semut belarit
    semut-beleet.jpg

  • Tanjak berekek
    rangkaian tidak terputus, ragam hias ini juga dipakai pada rumah adat suku bangsa rejang (Umeak Potong Jang)
    tanjak-berekek.jpg

  • Tombak magelung
    tombak bolak-balik
    tombak-magelung.jpg

  • Kembang delapan
    keduniawian, keramah-tamahan dan kebahagiaan. Ragam hias ini juga dipakai pada rumah adat suku bangsa rejang (Umeak Potong Jang)
    kembang-delapan.jpg

  • Cerbong kewet
    rangkaian tidak terputus, ragam hias ini juga dipakai pada rumah adat suku bangsa rejang (Umeak Potong Jang)
    cerbong kewet

  • Buah-buah beluluk
    buah2-beluluk.jpg

  • Pengubung keluang
    pengubung-keluang.jpg

Selain itu, terdapat beberapa jenis ragam hias lain yang belum saya ketahui bentuknya, ragam hias ini terdapat pada ukiran pada rumah adat rejang, dan rumah adat Bengkulu di anjungan TMII. Ragam hias tersebut antara lain :
  1. Kacang keliling (flora)
    rangkaian tidak terputus
  2. Sisit nanas (flora)
    rangkaian tidak terputus
  3. Ular melilit akar (fauna)
    kedatangan para tamu terlihat dan menyerah. Biasanya ragam hias ini ditempatkan pada tiang beranda dan ruang tengah
  4. Sekea begatung (fauna)
    kedatangan para tamu terlihat dan menyerah. Biasanya ragam hias ini ditempatkan pada tiang beranda dan ruang tengah
  5. Seliping mas (fauna)
    kedatangan para tamu terlihat dan menyerah. Biasanya ragam hias ini ditempatkan pada tiang beranda dan ruang tengah
  6. Awan-awan (alam)
    memiliki makna perhiasan dan keindahan, ditempatkan pada ujung bawah atap
  7. Bintang bersudut 5 & 6 dalam lingkaran (alam)
    bermakna kehidupan dan akherat akan bercahaya bila beriman (ukiran rumah adat Bengkulu di anjungan TMII)
  8. Sidingin berbentuk hati
    memiliki makna : bagaimanapun panasnya hidup ini harus dihadapi dengan hati dingin (ukiran rumah adat Bengkulu di anjungan TMII).
  9. Bunga matahari
    melambangkan matahari yang menyinari seisi alam bagi kehidupan. Terdapat pada bagian atas pintu dan jendela

Baca selengkapnya....

Ragam hias Bengkulu part 1 : ragam hias pada Tenunan Serawai (ragam hias pada Tabot)

oleh : Presty Larasati

Bengkulu memiliki banyak ragam hias daerah. Ragam hias ini digunakan untuk berbagai keperluan. Setiap ragam hias memiliki bentuk, fungsi,dan makna yang berbeda. Ragam hias Bengkulu pada dasarnya diambil dari alam serta ragam flora dan fauna Bengkulu yang distilir (di-indah-indah-kan). Ragam hias ini biasanya digunakan pada anyaman, ukiran, ragam hias rumah adat, dan kain tenun daerah. Ragam hias ini deikelompokkan menjadi dua macam. Yaitu ragam hias tenunan kain serawai, dan ragam hias tenunan Rejang. Selain itu, juga terdapat motif batik besurek khas Bengkulu yang bisa juga dimasukkan sebagai kategori ragam hias Bengkulu. Berikut merupakan nama, gambar, dan makna (bila saya mendapatkannya) untuk kelompok ragam hias pada tenunan serawai yang berhasil saya dapatkan :

  • Seluang mudik
    seluang-mudik.jpg


  • Kandung lawaiyan
    kandung lawaiyan


  • Unak sebuku
    unak-sebuku.jpg


  • Muarak timput
    muarak-timput.jpg


  • Mata punai berantai
    mata-punai-berantai.jpg


  • Kain cutar
    kain-cutar.jpg


  • Kain ragi itam
    kain-ragi-itam.jpg


  • Gindo suli
    gindo-suli.jpg


  • Kain curak
    kain-curak.jpg


  • Kaping batang pinang
    kaping-batang-pinang.jpg


  • Unak sebuku 2
    unak-sebuku-2.jpg


  • Ular lidi
    ular-lidi.jpg


  • Kain baruak
    kain-baruak.jpg


  • Mata punai kandung
    mata-punai-kandung.jpg


  • Lengkenai naik
    berbentuk tumbuhan memanjat, memiliki arti : dalam kehidupan perlu adanya hiasan. Hiasan utama adalah anak-anak dan harta kekayaan yang senantiasa naik ke rumahnya. Ragam hias ini terdapat pada rumah adat Bengkulu.
    lengkenai-naik.jpg

Baca selengkapnya....

Lokasi

oleh: Neng Dalil


Alhamdulillah...
Walau baru memulai usaha. Tapi kesibukan dikantor sudah terlihat jelas. Perputaran stok tiket kami terhitung cukup cepat jika dibandingkan dengan teman lain yang baru juga membuka usaha yang sama.

Pada saat menempati tempat yang baru di kawasan Simpang Pagar Dewa menuju kearah bandara ini, tepatnya di Jl. DP. Negara No. 06 Pagar Dewa Bengkulu, banyak sekali teman-teman yang berkomentar "wah... jauh banget dari pusat kota Neng, pasti sepi di daerah sana dan siapa yang akan datang kesana".

Memang betul, tapi kalau semua usaha harus memilih tempat yang berada di tengah kota, lantas "siapa yang akan membuka usaha di pinggiran kota? Terus, apakah orang yang berada dipinggiran kota harus pergi ke pusat kota untuk mencari Biro Perjalanan / Agent Perjalanan untuk mengurus dokumen perjalanan ( tiket pesawat ) yang akan mereka lakukan?"

Anda pasti bisa menjawabnya.

Saya tetap optimis bahwa usaha ini akan berjalan sesuai dengan yang saya harapkan. Banyak alasan mengapa saya memilih lokasi ini sebagai tempat usaha..

Pertama, jika kita ambil dari pusat kota mau ke bandar udara Fatmawati Soekarno Padang Kemiling... nah, wajib hukumnya melewati kantor saya. Begitupun sebaliknya jika kita dari bandara mau ke pusat kota.

Kedua, dekat dengan tempat tinggal saya dan dekat dengan bandar udara Fatmawati Soekarno Padang Kemiling.

Ketiga, strategis berada di pinggir jalan raya. Sebelah kanan dari simpang pagar dewa menuju bandara, dan sebelah kiri dari bandara. Jadi sangat mudah untuk mencarinya.

Mudah-mudahan kalau anda sempat berkunjung ke Bengkulu atau bahkan memang orang Bengkulu, bisa singgah walau sebentar dan saya akan menerima dengan senang hati apalagi kalau sampai meminta saya untuk mengurus dokumen perjalanan untuk rute berikutnya. Amin..

Baca selengkapnya....

Satuan Ukur Orang Bengkulu

oleh: Herman


Saat ini, di Aya' Langkap, Kabupaten Kaur, masyarakat sedang memanen padi. Saya teringat orang Bengkulu memiliki satuan tersendiri dalam mengukur jumlah padi/gabah dan beras hasil panen. Sebenarnya tidak hanya itu, satuan ini juga dipakai untuk mengukur ketan, cengkeh, kacang hijau dan lainnya. Satuan itu adalah:

  1. Canting
  2. Cupak
  3. Kulak
  4. Kaleng

Canting adalah ukuran yang dipakai dengan menggunakan alat berupa kaleng susu kental Indo***k atau susu B*nd**a yang paling kecil. Setelah susu kental di dalamnya habis, lalu kaleng dicuci bersih serta kertas yang menjadi kulit tempat merek dagang beserta keterangan lainnya itu dilepas. Akhirnya, ia menjadi sebuah canting, berupa kaleng kecil berwarna putih dimana salah satu tutup kaleng (berbentuk lingkaran) yang semula dilubangi untuk menuang susu telah dilepas bersih.

Satu Cupak setara dengan satu setengah liter. Ukuran satu Kulak sama dengan dua Cupak. Alat yang digunakan untuk mengukur Cupak sama seperti Liter yang kita dapati di kios atau pasar yang menjual beras, ketan ataupun kacang hijau di berbagai daerah di Indonesia. Alat ukur Kulak dua kali lebih besar dengan liter. Kedua alat ukur ini biasanya terbuat dari logam besi.

Kaleng merupakan alat ukur yang menggunakan kaleng cat kapur. Di dusun-dusun beberapa daerah di Indonesia cat kapur merupakan cat murah untuk memutihkan pagar-pagar dari bilah bambu atau tembok-tembok. Kaleng ini menjadi alat ukur sendiri bagi orang Bengkulu.

Perbandingan dari alat-alat ukur itu adalah sebagai berikut:

1 canting
1 cupak = 6 canting
1 kulak = 2 cupak = 12 canting
1 kaleng = 5 kulak = 10 cupak = 60 canting

Kemarin saya mengonfirmasi ukuran-ukuran di atas pada saudara saya Amrul Hamidi di Bengkulu. Terus terang saya belum membuktikan sendiri ukuran-ukuran ini apakah sesuai dengan perbandingan di atas. Namun sejak kecil saya akrab dengan satuan-satuan ukur itu. Anda sedang di Bengkulu? Setelah membaca artikel ini, tidak ada salahnya Anda membuktikan sendiri kebenaran perbandingan ukuran-ukuran itu.

Baca selengkapnya....

Rafflesia Arnoldi vs Bunga Bangkai

oleh : Presty Larasati



Sebagai anak yang debesarkan di Bengkulu tentu saja kedua bunga tersebut tidak lagi asing bagi saya. Ketika saya merantau di pulau jawa, saya cukup terkejut mendapatkan kenyataan bahwa bunga rafflesia sering dikacaukan dengan bunga bangkai. Kedua bunga ini sering kali disamakan atau malah tertukar. Bahkan saya mendapati tulisan di sebuah harian nasional terkemuka beberapa hari yang lalu, menyebutkan bunga bangkai yang sedang mekar di sebuah TN sebagai bunga Rafflesia.

Awalnya saya hanya mengetahui perbedaan kedua bunga ini dari fisiknya saja, tapi kepulangan saya ke Bengkulu saat lebaran kemarin memberikan saya pengetahuan lebih tentang perbedaan keduanya. Saat itu rafflesia sedang mekar di 3 titik antara kepahyang-curup (sekitar satu jam dari kota Bengkulu), walaupun saat itu saya tidak mendapat kesempatan melihat rafflesia yang masa mekarnya sudah habis, saya berkesempatan melihat bunga bangkai yang akan mekar di tempat budi daya-nya. Memang keduanya mengeluarkan bau busuk, namun ternyata memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, siklusnya, dll.

RAFFLESIA ARNOLDI
Rafflesia yang banyak dikenal masyarakat adalah jenis rafflesia arnoldii. Jenis ini hanya tumbuh di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu. Satu tempat yang paling bagus dan mudah untuk menemukan bunga rafflesia arnoldii ini adalah di hutan sepanjang jalan Bengkulu-Curup setelah Kepahyang. Di Bengkulu sendiri, bunga rafflesia telah dijadikan sebagai motif utama batik besurek (batik khas Bengkulu) sejak lama.


Ciri utama yang membedakan rafflesia dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Ketika mekar, bunga ini bisa mencapai diameter sekitar 1 meter dan tinggi 50 cm. Bunga rafflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun. Bunganya memiliki 5 mahkota. Di dasar bunga yang berbentuk gentong terdapat bunga sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga. keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat presentase pembuahan yang dibantu oleh serangga lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan. Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu rafflesia akan layu dan mati.

Rafflesia merupakan tumbuhan parasit obligat pada tumbuhan merambat (liana) tetrasigma dan tinggal di dalam akar tersebut seperti tali. Sampai saat ini Rafflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.

Sedikit informasi, selama 200an tahun tumbuh-tumbuhan dari genus Rafflesiaceae sulit diklasifikasikan karena karakteristik tubuh yang tidak umum. Berdasarkan penelitian DNA oleh para ahli botani di Universitas Harvard baru-baru ini, rafflesia dimasukkan ke dalam family Euphorbiaceae, satu keluarga dengan pohon karet dan singkong. Tapi hal ini masih belum terpublikasi dengan baik.

BUNGA BANGKAI TITAN ARUM
Selain rafflesia, bunga raksasa lain yang dikenal masyarakat adalah bunga bangkai/suweg raksasa. Yang paling populer di antara jenis bunga bangkai lainnya adalah jenis amorphpophallus titanium. Jenis ini hanya endemik tumbuh di kawasan hutan di Sumatera. Bahkan juga ada yang menyebutkan bunga ini sebagai bunga resmi provinsi Bengkulu (sumber : Wikipedia).

Berbeda dengan rafflesia, bunga bangkai titan arum ini berwarna krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Sedangkan mahkotanya berwarna merah ke-ungu-an. Sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet. Bila rafflesia hanya melebar, bunga bangkai tumbuh menjulang tinggi. Ketinggian bunga bangkai jenis amorphophallus titanium ini bisa mencapai sekitar 4 m dengan diameter sekitar 1,5 m.

Bunga bangkai ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae). Merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia. Berbeda dengan rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat di budi daya. bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.

>Bunga ini mengalami 2 fase dalam hidupnya yang muncul secara bergantian dan terus menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal dan daun yang sekilas mirip dengan pohon pepaya. Tinggi pohonnya bisa mencapai 6m. Setelah beberapa tahun, organ generatifnya akan layu kecuali umbinya. Apabila lingkungan mendukung, dan umbinya memenuhi syarat pohon ini akan digantikan dengan tumbuhnya bunga bangkai. Tumbuhnya bunga majemuk yang menggantikan pohon yang layu merupakan fase generatif tanaman ini.

Menurut petugas penjaga lokasi budi daya bunga bangkai di hutan Kepahyang, Bengkulu, bunga baru bisa tumbuh bila umbinya memiliki berat minimal 4 kg. Bila cadangan makanan dalam umbi kurang atau belum mencapai berat 4 kg, maka pohon yang layu akan di gantikan oleh pohon baru.

Selain itu, bunga bangkai merupakan tumbuhan ber-rumah satu dan protogini, dimana bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini, seperti pada rafflesia, berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Setelah masa mekarnya(sekitar 7 hari) lewat, bunga bangkai akan layu. Dan akan kembali melewati siklusnya, kembali ke fase vegetatif, dimana akan tumbuh pohon baru di atas umbi bekas bunga bangkai.

Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Biji-biji ini bisa ditanam menjadi pohon pada fase vegetatif. Biji-biji inilah yang sekarang di budi-dayakan. Beberapa waktu lalu, pihak kebun raya Bogor mengambil 6 umbi yang sudah besar dari tempat budi daya bunga bangkai di Bengkulu untuk koleksinya.

Nah, setelah membaca penjelasan saya yang panjang pada postingan kali ini, semoga teman-teman tidak lagi bingung membedakan kedua bunga raksasa ini. Biar gampang diingat, bunga rafflesia itu merah, tidak tinggi, dan merupakan tumbuhan parasit. Sedangkan bunga bangkai titan arum putih, tinggi, dan merupakan tumbuhan umbi-umbi-an. Selain itu, berbeda dengan bunga bangkai, rafflesia tidak dapat di budi daya. jika teman-teman ingin melihatnya, silakan datang ke Bengkulu pada saat musim mekar keduanya (^_^).

Baca selengkapnya....

Sapaan dalam Keluarga

Oleh: Herman

ORANG Bengkulu asli sangat mengindahkan tuturan atau sapaan atau panggilan pada seseorang. Apalagi kepada orang yang usianya lebih tua, tabu kalau sampai memanggil namanya saja seperti memanggil teman sebaya. Karena di Propinsi Bengkulu terdapat beragam bahasa, berikut ini adalah panggilan atau sapaan kepada seseorang menurut bahasa Kota Bengkulu:

  • Orang tua laki-laki disapa: Ayah, Bak, atau Abah
  • Orang tua perempuan disapa: Mak, Ibu
  • Kakak tertua laki-laki disapa: Dang
  • Kakak tengah laki-laki disapa: Donga
  • Kakak kecil laki-laki disapa: Docik
  • Kakak tertua perempuan disapa: Inga
  • Kakak tengah perempuan disapa: Ciknga
  • Kakak kecil perempuan disapa: Dodo, Cik Anjong, Cik Endek
  • Adik terkecil laki-laki atau perempuan disapa: Bungsu
  • Paman disapa: Wan
  • Bibi (saudara Ayah atau Ibu) disapa: Cucik, Bucik
  • Orang tua Ayah atau Ibu yang laki-laki disapa: Datuk
  • Orang tua Ayah atau Ibu yang perempuan disapa: Nenek
  • Orang tua Datuk atau Nenek disapa: Poyang
  • Laki-laki yang sebaya dengan Wan disapa: Pak Uncu
  • Perempuan yang sebaya dengan Cucik, Bucik disapa: Uncu
  • Kakak Ayah atau Ibu yang laki-laki disapa: Pakdang
  • Kakak Ayah atau Ibu yang Perempuan disapa: Ibudang
  • Laki-laki yang sebaya dengan kakak laki-laki disapa: Udo
  • Perempuan yang sebaya dengan kakak perempuan disapa: Cuk Udo, Uning
  • Anak Paman atau Bibi disapa: Donga (untuk laki-laki) atau Ciknga (untuk perempuan)
  • Anak Wan atau anak Cucik disapa: Nakan
  • Anak dari cucu disapa: Piyut
  • Anak dari Piyut disapa: Cicit
Dalam hal sapaan ini, orang Bengkulu lebih melihat usia ketimbang posisi pada garis keturunan atau silsilah seperti pada masyarakat Jawa. Dalam masyarakat Jawa--dimana istri saya berasal--meski usia saudara sepupu lebih muda dari kita, namun karena ia adalah anak dari Pakde (setara dengan Pakdang), maka kita wajib memanggilnya "Mas" atau "Mbak" (yang keduanya bermakna "Kakak"). Dalam masyarakat Bengkulu, meski anak dari Pakdang usianya lebih muda dari saya, ia tetap harus menyapa saya "Donga" karena saya berusia lebih tua darinya.

Sapaan-sapaan di atas memiliki perbedaan sedikit dengan bahasa Bengkulu yang ada di daerah Selatan, Utara, Rejang dan beberapa Bengkulu sekitar pesisir pantai. Namun demikian, umumnya sapaan di atas dipahami oleh banyak orang di Propinsi Bengkulu.

Pemeliharaan ikatan keluarga sangatlah penting bagi penduduk asli di manapun di Indonesia. Tidak terkecuali di Bengkulu. Jika kita lupa bagaimana menyapa seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga jauh--seperti ikatan karena lawan bicara adalah cicit dari saudara poyang kita, sepupu dari sepupu poyang kita dan sebagainya--maka kita harus bertanya pada yang bersangkutan, atau orang tua, atau siapa saja yang mengetahui ikatan kekeluargaan itu, untuk mengetahui apa sapaan kita pada lawan bicara itu.

Perubahan zaman telah mengubah orientasi hidup yang lebih materialistik dalam melihat satu hubungan persaudaraan juga memengaruhi ikatan kekeluargaan orang Bengkulu. Arisan Keluarga Besar merupakan salah satu usaha untuk tetap memperkuat ikatan kekeluargaan itu. Juga, Sapaan-sapaan yang ada merupakan bentuk simbol kekeluargaan atau keakraban antarpersonal untuk menjaga ikatan tersebut.

Sapaan-sapaan seperti Ciknga, Dang, Cucik dan lainnya tidak hanya diucapkan seseorang kepada orang lain karena ikatan keluarga atau pertalian darah. Tetangga yang bukan keluarga pun bisa menyapa dengan sapaan yang sama dengan menyesuaikan posisinya sendiri. Contohnya, jika menyapa orang tua teman saya yang usianya lebih muda dari usia orang tua saya, saya dapat menyapa "Wan" untuk Ayah teman saya itu, dan menyapa "Cucik" untuk Ibunya.

Baca selengkapnya....

Malam Tahun Baru di Kota Manna

oleh: Sev Pascal


Ini cerita tentang perjalananku ke Kota Manna, kota Kenangan alias Bumi Sekundang Setungguan Kabupaten Bengkulu Selatan, aku menginjakkan kaki di sana tepatnya tiga hari sebelum malam tahun baru 2008, atau hari Sabtu 29 Desember 2007. Bicara tentang kota ini bagiku memberikan kenangan tersendiri karena sekitar 9 tahun yang lalu ketika aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di provinsi Bengkulu ya di kota inilah aku transit sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Bengkulu yang memakan waktu sekitar 4 jam (+/-200 Km) perjalanan darat atau hampir mirip jarak Jakarta-Sukabumi . Aku ingat ketika itu bulan Juli tahun 1998 kami berhenti tepat di depan tulisan SMPN 1 Kota Manna, saat itu aku mengira aku sudah sampai di kota Bengkulu rupanya ketika ku tanyakan pada kakakku yang lebih dulu tinggal di kota Bengkulu katanya belum sampai dan menyisakkan waktu beberapa jam lagi. Dan ketika aku kembali melihat papan tulisan itu aku seakan merasakan sebuah rendezvous pada kenangan sekitar 9 tahun lalu.

Ketika aku kembali ke kota ini, aku merasakan banyak sekali perbedaan dan perubahan dari mulai jalan yang sedang ditata dan diperbaiki hingga semakin banyak gedung-gedung baru yang muncul beserta lampu-lampu hias yang semakin menyemarakkan kota , aku menilai kota ini sedang berbenah, cuma aku berpendapat sedikit mengenai jalan dua jalur. Dengan menjadikan jalan di kota Manna menjadi dua jalur aku melihat ada dua segi positif dan negatif yang muncul. Segi positifnya kendaraan bermotor lebih tertib dan terarah sehingga bisa meminimalisir kecelakaan lalu lintas akibat mencuri jalur, namun segi negatifnya yang kulihat adalah semakin menyempitnya ruas jalan karena pembagi dua jalurnya banyak memakan badan jalan dan diperparah bahu jalan yang tidak rata membuat pengendara bermotor harus lebih waspada. Disamping itu juga aku belum melihat urgensi atas pembagian jalan menjadi dua jalur di kota ini sehubungan volume kedaraan yang melawati jalan-jalan protokol di kota ini juga belum begitu banyak dan mayoritas yang melewatinyapun hanyalah kendaraan roda dua.

Ada satu hal yang menarik di persimpangan jalan-jalan protokol di kota ini yakni dipasangnya lampu lalu lintas lengkap dengan penunjuk time counter-nya seperti yang ada di kota Bengkulu, namun sayang aku bahkan melihat para pengendara mayoritas tidak mengindahkannya sehingga dengan santainya menerobos lampu lalulintas yang sedang menyala merah. Meskipun demikian aku masih memakluminya karena memang jumlah kendaraan yang melintas belum begitu banyak sehingga mungkin di pikiran para pengguna jalan tersebut adalah, "Buat apa menunggu lampu merah berganti lampu hijau dimana nyata-nya tidak ada kendaraan yang melintas di depan jadi ya laju saja...,"

Seperti halanya di kota Bengkulu dan mungkin kota-kota dalam provinsi Bengkulu lainnya yang juga berada di tepian pantai di sinipun rupanya isyu gempa dan tsunami tanggal 23 Desembber 2007 (baca di sini) sama-sama mebuat warga kota Manna resah, sehingga banyak penduduk yang mengungsi ke tempat lain yang dianggap lebih tinggi. Memang isyu ini seakan menjadi suatu komoditas yang dihembuskan individu atau kelompok tertentu untuk memancing di air keruh, tapi disini aku melihatnya bukan dari segi negatif saja melainkan segi positifnya yaitu selalu waspada atas bencana yang mungkin menimpa pada seluruh masyarakat utamanya masyarakat yang memang tinggal di dekat pantai. Entah ada kaitannya dengan Isyu bencana atau tidak namun yang jelas tenaga listrik dari PLN yang ada di kota ini selalu byar-pet (istilah jawa) alias hidup mati tak tentu waktu, bahkan kadang-kadang listrik hidup tapi voltasenya melorot dari 220 V hingga 150 volt jelas membuat banyak alat elektronik cepat rusak, tapi apapun itu yang penting kota ini masih terbebas dari segala bencana. Alhamdulillah

Kembali ke cerita menjelang malam tahun baru di Kota Manna. Sebenarnya sore hari sebelum malam tahun baru aku mencoba jalan-jalan ke daerah pantai di kota Manna tepatnya di kawasan wisata pantai Pasar Bawah. Aku lihat meskipun isyu tsunami belum begitu reda tapi tidak membuat pengunjung takut datang dan melewati indahnya pantai meskipun jumlah pengunjung tidak ramai namun boleh dikatakan lumayan banyak untuk ukuran saat itu dan kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda yang menghabiskan sore hari di pinggir pantai. Satu hal yang aku catat mengenai kondisi pantai saat itu yaitu gelombanganya lumayan tinggi dengan tiupan angin yang cukup kencang, namun hal yang menarik adalah ketika lautan tersebut kulihat dari kejauhan tampak seakan laut tersebut terbagi kedalam tiga warna yakni dari mulai laut yang paling dangkal yang paling dekat pinggiran pantai warna laut tersebut adalah coklat dibaluri oleh buih-buih laut berwarna putih semakin ketengah warna laut menjadi biru tua dan semakin jauh dari pandagan mata warna laut adalah biru muda sunguh indah untuk diabadikan namun sayang aku terlupa membawa kamera digital kesayanganku sehingga momen ini terabaikan begitu saja.

Malam tahun baru di sana lumayan meriah meskipun tanpa ada acara khusus hanya sekedar acara-acara yang spontan diadakan oleh anggota masyarakat di kota ini dari mulai karaokean, organ tunggal dan band anak muda yang di pentaskan di tepi jalan-jalan protokol kota Manna, hal ini membuat banyak warga kota Manna yang sengaja keluar menghabiskan malam tahun baru dengan cara berkeliling kota sehingga sekitar pukul 20 ke atas keramaian sepanjang jalan protokol di warnai oleh banyaknya kendaraan bermotor yang menyesakkan jalan dan diperparah banyakanya pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang berhenti dan bergerombol sepanjang pinggir jalan menyaksikan pentas hiburan organ tunggal atau band anak muda namun untunglah aparat kepolisian banyak berjaga malam itu sehingga kesemrawutan jalan masih bisa terkendalai. Kemeriahan malam tahun baru di kota Manna ini juga disemarakkan oleh munculnya kembang api dan petasan yang di sulut oleh warga sekitar sehingga membuat suasana semakin riuh. Setealah aku coba berkeliling-keliling hingga lumayan larut malam tibalah detik-detik yang ditunggu oleh warga di sini yakni malam pergantian tahun 2007-2008. Dengan suara gemuruh petasan, cuaca yang sangat bersahabat meskipun malam-malam biasanya turun hujan tapi malam tahun baru itu hujan tidak menyapa meskipun sebelumnya ada sedikit "gerimis mengundang" dengan suhu udara yang relatif sejuk membuat masyarkat sekitar yang menunggu tahun baru semakin betah berlama-lama berada di pinggir jalan.

Pada hari senin tepatnya tanggl 1 Januari di tahun yang baru dimasuki ini yakni 2008, aku kembali pulang ke kota dimana aku menghabiskan aktifitas sehari-hari ya Kota Bengkulu Kota Semarak alias kota Selengek. Ketika melintas kembali di pusat kota Manna sekitar pukul 1 siang aku merasa terkejut, alangkah sepinya hari ini toko-toko sepanjang pinggir jalan banyak yang tutup dan kendaraan bermotor yang melintaspun bisa dihitung dengan jari saja itupun termasuk aku sendiri yang sedang melintas menuju kota Bengkulu "Ah mungkin masih banyak yang tertidur karena malamnya begadang itu yang ada di benakku". Farewell....

Baca selengkapnya....
 

Mailing List Blogger Bengkulu

Sebelum mendaftar, silahkan membaca dulu persyaratannya di sini.