oleh: Neng Dalil
Festival Tabot adalah sebuah tradisi perayaan yang dilaksanakan pada setiap tanggal 1 - 10 Muharam tahun Hijriyah (tahun dalam Islam). Festival ini biasanya diisi pertunjukan seni dan budaya Bengkulu di samping ritual Tabot itu sendiri. Festival ini ramai dikunjungi oleh wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. Sejarah mengenai Fesitval Tabot di Bengkulu bisa Anda dapatkan di sini (klik link).
Foto di atas merupakan hasil karya dari seorang fotografer Agah Permadi.
Festival Tabot
Rafflesia Arnoldi vs Bunga Bangkai
oleh : Presty Larasati
Sebagai anak yang debesarkan di Bengkulu tentu saja kedua bunga tersebut tidak lagi asing bagi saya. Ketika saya merantau di pulau jawa, saya cukup terkejut mendapatkan kenyataan bahwa bunga rafflesia sering dikacaukan dengan bunga bangkai. Kedua bunga ini sering kali disamakan atau malah tertukar. Bahkan saya mendapati tulisan di sebuah harian nasional terkemuka beberapa hari yang lalu, menyebutkan bunga bangkai yang sedang mekar di sebuah TN sebagai bunga Rafflesia.
Awalnya saya hanya mengetahui perbedaan kedua bunga ini dari fisiknya saja, tapi kepulangan saya ke Bengkulu saat lebaran kemarin memberikan saya pengetahuan lebih tentang perbedaan keduanya. Saat itu rafflesia sedang mekar di 3 titik antara kepahyang-curup (sekitar satu jam dari kota Bengkulu), walaupun saat itu saya tidak mendapat kesempatan melihat rafflesia yang masa mekarnya sudah habis, saya berkesempatan melihat bunga bangkai yang akan mekar di tempat budi daya-nya. Memang keduanya mengeluarkan bau busuk, namun ternyata memiliki perbedaan pada klasifikasi biologi, bentuk, warna, cara hidupnya, siklusnya, dll.
RAFFLESIA ARNOLDI
Rafflesia yang banyak dikenal masyarakat adalah jenis rafflesia arnoldii. Jenis ini hanya tumbuh di hutan sumatera bagian selatan, terutama Bengkulu. Satu tempat yang paling bagus dan mudah untuk menemukan bunga rafflesia arnoldii ini adalah di hutan sepanjang jalan Bengkulu-Curup setelah Kepahyang. Di Bengkulu sendiri, bunga rafflesia telah dijadikan sebagai motif utama batik besurek (batik khas Bengkulu) sejak lama.
Ciri utama yang membedakan rafflesia dengan bunga bangkai secara awam adalah bentuknya yang melebar (bukan tinggi) dan berwarna merah. Ketika mekar, bunga ini bisa mencapai diameter sekitar 1 meter dan tinggi 50 cm. Bunga rafflesia tidak memiliki akar, tangkai, maupun daun. Bunganya memiliki 5 mahkota. Di dasar bunga yang berbentuk gentong terdapat bunga sari atau putik, tergantung jenis kelamin bunga. keberadaan putik dan benang sari yang tidak dalam satu rumah membuat presentase pembuahan yang dibantu oleh serangga lalat sangat kecil, karena belum tentu dua bunga berbeda kelamin tumbuh dalam waktu bersamaan di tempat yang berdekatan. Masa pertumbuhan bunga ini memakan waktu sampai 9 bulan, tetapi masa mekarnya hanya 5-7 hari. Setelah itu rafflesia akan layu dan mati.
Rafflesia merupakan tumbuhan parasit obligat pada tumbuhan merambat (liana) tetrasigma dan tinggal di dalam akar tersebut seperti tali. Sampai saat ini Rafflesia tidak pernah berhasil dikembangbiakkan di luar habitat aslinya dan apabila akar atau pohon inangnya mati, Raflesia akan ikut mati. Oleh karena itu Raflesia membutuhkan habitat hutan primer untuk dapat bertahan hidup.
Sedikit informasi, selama 200an tahun tumbuh-tumbuhan dari genus Rafflesiaceae sulit diklasifikasikan karena karakteristik tubuh yang tidak umum. Berdasarkan penelitian DNA oleh para ahli botani di Universitas Harvard baru-baru ini, rafflesia dimasukkan ke dalam family Euphorbiaceae, satu keluarga dengan pohon karet dan singkong. Tapi hal ini masih belum terpublikasi dengan baik.
BUNGA BANGKAI TITAN ARUM
Selain rafflesia, bunga raksasa lain yang dikenal masyarakat adalah bunga bangkai/suweg raksasa. Yang paling populer di antara jenis bunga bangkai lainnya adalah jenis amorphpophallus titanium. Jenis ini hanya endemik tumbuh di kawasan hutan di Sumatera. Bahkan juga ada yang menyebutkan bunga ini sebagai bunga resmi provinsi Bengkulu (sumber : Wikipedia).
Berbeda dengan rafflesia, bunga bangkai titan arum ini berwarna krem pada bagian luar dan pada bagian yang menjulang. Sedangkan mahkotanya berwarna merah ke-ungu-an. Sekilas bentuknya saat mekar terlihat seperti bunga terompet. Bila rafflesia hanya melebar, bunga bangkai tumbuh menjulang tinggi. Ketinggian bunga bangkai jenis amorphophallus titanium ini bisa mencapai sekitar 4 m dengan diameter sekitar 1,5 m.
Bunga bangkai ini termasuk tumbuhan dari suku talas-talasan (araceae). Merupakan tumbuhan dengan bunga majemuk terbesar di dunia. Berbeda dengan rafflesia yang tidak dapat tumbuh di daerah lain, bunga bangkai dapat di budi daya. bila rafflesia parasit pada tumbuhan rambat, bunga bangkai tumbuh di atas umbi sendiri.
>Bunga ini mengalami 2 fase dalam hidupnya yang muncul secara bergantian dan terus menerus, yaitu fase vegetatif dan generatif. Pada fase vegetatif, di atas umbi akan muncul batang tunggal dan daun yang sekilas mirip dengan pohon pepaya. Tinggi pohonnya bisa mencapai 6m. Setelah beberapa tahun, organ generatifnya akan layu kecuali umbinya. Apabila lingkungan mendukung, dan umbinya memenuhi syarat pohon ini akan digantikan dengan tumbuhnya bunga bangkai. Tumbuhnya bunga majemuk yang menggantikan pohon yang layu merupakan fase generatif tanaman ini.
Menurut petugas penjaga lokasi budi daya bunga bangkai di hutan Kepahyang, Bengkulu, bunga baru bisa tumbuh bila umbinya memiliki berat minimal 4 kg. Bila cadangan makanan dalam umbi kurang atau belum mencapai berat 4 kg, maka pohon yang layu akan di gantikan oleh pohon baru.
Selain itu, bunga bangkai merupakan tumbuhan ber-rumah satu dan protogini, dimana bunga betina reseptif terlebih dahulu, lalu diikuti masaknya bunga jantan, sebagai mekanisme untuk mencegah penyerbukan sendiri. Bau busuk yang dikeluarkan oleh bunga ini, seperti pada rafflesia, berfungsi untuk menarik kumbang dan lalat penyerbuk bagi bunganya. Setelah masa mekarnya(sekitar 7 hari) lewat, bunga bangkai akan layu. Dan akan kembali melewati siklusnya, kembali ke fase vegetatif, dimana akan tumbuh pohon baru di atas umbi bekas bunga bangkai.
Apabila selama masa mekarnya terjadi pembuahan, maka akan terbentuk buah-buah berwarna merah dengan biji pada bagian bekas pangkal bunga. Biji-biji ini bisa ditanam menjadi pohon pada fase vegetatif. Biji-biji inilah yang sekarang di budi-dayakan. Beberapa waktu lalu, pihak kebun raya Bogor mengambil 6 umbi yang sudah besar dari tempat budi daya bunga bangkai di Bengkulu untuk koleksinya.
Nah, setelah membaca penjelasan saya yang panjang pada postingan kali ini, semoga teman-teman tidak lagi bingung membedakan kedua bunga raksasa ini. Biar gampang diingat, bunga rafflesia itu merah, tidak tinggi, dan merupakan tumbuhan parasit. Sedangkan bunga bangkai titan arum putih, tinggi, dan merupakan tumbuhan umbi-umbi-an. Selain itu, berbeda dengan bunga bangkai, rafflesia tidak dapat di budi daya. jika teman-teman ingin melihatnya, silakan datang ke Bengkulu pada saat musim mekar keduanya (^_^).
Sapaan dalam Keluarga
Oleh: Herman
ORANG Bengkulu asli sangat mengindahkan tuturan atau sapaan atau panggilan pada seseorang. Apalagi kepada orang yang usianya lebih tua, tabu kalau sampai memanggil namanya saja seperti memanggil teman sebaya. Karena di Propinsi Bengkulu terdapat beragam bahasa, berikut ini adalah panggilan atau sapaan kepada seseorang menurut bahasa Kota Bengkulu:
- Orang tua laki-laki disapa: Ayah, Bak, atau Abah
- Orang tua perempuan disapa: Mak, Ibu
- Kakak tertua laki-laki disapa: Dang
- Kakak tengah laki-laki disapa: Donga
- Kakak kecil laki-laki disapa: Docik
- Kakak tertua perempuan disapa: Inga
- Kakak tengah perempuan disapa: Ciknga
- Kakak kecil perempuan disapa: Dodo, Cik Anjong, Cik Endek
- Adik terkecil laki-laki atau perempuan disapa: Bungsu
- Paman disapa: Wan
- Bibi (saudara Ayah atau Ibu) disapa: Cucik, Bucik
- Orang tua Ayah atau Ibu yang laki-laki disapa: Datuk
- Orang tua Ayah atau Ibu yang perempuan disapa: Nenek
- Orang tua Datuk atau Nenek disapa: Poyang
- Laki-laki yang sebaya dengan Wan disapa: Pak Uncu
- Perempuan yang sebaya dengan Cucik, Bucik disapa: Uncu
- Kakak Ayah atau Ibu yang laki-laki disapa: Pakdang
- Kakak Ayah atau Ibu yang Perempuan disapa: Ibudang
- Laki-laki yang sebaya dengan kakak laki-laki disapa: Udo
- Perempuan yang sebaya dengan kakak perempuan disapa: Cuk Udo, Uning
- Anak Paman atau Bibi disapa: Donga (untuk laki-laki) atau Ciknga (untuk perempuan)
- Anak Wan atau anak Cucik disapa: Nakan
- Anak dari cucu disapa: Piyut
- Anak dari Piyut disapa: Cicit
Sapaan-sapaan di atas memiliki perbedaan sedikit dengan bahasa Bengkulu yang ada di daerah Selatan, Utara, Rejang dan beberapa Bengkulu sekitar pesisir pantai. Namun demikian, umumnya sapaan di atas dipahami oleh banyak orang di Propinsi Bengkulu.
Pemeliharaan ikatan keluarga sangatlah penting bagi penduduk asli di manapun di Indonesia. Tidak terkecuali di Bengkulu. Jika kita lupa bagaimana menyapa seseorang yang masih memiliki hubungan keluarga jauh--seperti ikatan karena lawan bicara adalah cicit dari saudara poyang kita, sepupu dari sepupu poyang kita dan sebagainya--maka kita harus bertanya pada yang bersangkutan, atau orang tua, atau siapa saja yang mengetahui ikatan kekeluargaan itu, untuk mengetahui apa sapaan kita pada lawan bicara itu.
Perubahan zaman telah mengubah orientasi hidup yang lebih materialistik dalam melihat satu hubungan persaudaraan juga memengaruhi ikatan kekeluargaan orang Bengkulu. Arisan Keluarga Besar merupakan salah satu usaha untuk tetap memperkuat ikatan kekeluargaan itu. Juga, Sapaan-sapaan yang ada merupakan bentuk simbol kekeluargaan atau keakraban antarpersonal untuk menjaga ikatan tersebut.
Sapaan-sapaan seperti Ciknga, Dang, Cucik dan lainnya tidak hanya diucapkan seseorang kepada orang lain karena ikatan keluarga atau pertalian darah. Tetangga yang bukan keluarga pun bisa menyapa dengan sapaan yang sama dengan menyesuaikan posisinya sendiri. Contohnya, jika menyapa orang tua teman saya yang usianya lebih muda dari usia orang tua saya, saya dapat menyapa "Wan" untuk Ayah teman saya itu, dan menyapa "Cucik" untuk Ibunya.
Baca selengkapnya....
Rumah Adat Bangsa Melayu Bengkulu
oleh: Presty Larasaty
Dalam bahasa melayu Bengkulu, rumah tempat tinggal dinamakan juga “Rumah”. Rumah tradisional Bengkulu termasuk tipe rumah panggung. Rumah panggung ini dirancang untuk melindungi penghuninya dari banjir. Disamping itu kolong rumah panggung juga dapat dipergunakan untuk menyimpan gerobak, hasil panen, alat-alat pertanian, kayu api, dan juga berfungsi sebagai kandang hewan ternak.
Bentuk rumah panggung melayu ini terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain :
Bagian atas
Bagian atas rumah adat melayu Bengkulu ini terdiri dari :
- Atap; terbuat dari ijuk, bamboo, atau seng
- Bubungan, ada beberapa bentuk
- Pacu = plafon dari papan atau pelupuh
- Peran : balok-balok bagian atas yang menghubungkan
- Tiang-tiang bagian atas
- Kap : kerangka untuk menempel kasau
- Kasau : untuk mendasi reng
- Reng : untuk menempel atap
- Listplang, suyuk, penyunting
- Bubungan limas

- Bubungan limas
- Bubungan haji (bubungan Sembilan)
- Bubungan jembatan

- Bubungan gabungan lima dan jembatan
Bagian tengah, terdiri atas:
- Kusen, kerangka untuk pintu dan jendela
- Dinding : terbuat dari papan atau pelupuh
- Jendela : bentuk biasa dan bentuk ram
- Pintu : bentuk biasa dan bentuk ram
- Tulusi (lubang angin) : ventilasi, biasanya di atas pintu dan jendela, dibuat dengan berbagai ragam hias
- Tinag penjuru
- Piabung : tiang penjuru hal
- Tiang tengah
- Bendu : balok melintang sepanjang dinding
Bagian bawah, terdiri dari :
- Lantai, dari papan, bamboo, atau pelupuh
- Geladak, dari papan 8 dim dengan lebar 50cm dipasang sepanjang dinding luar di atas balok
- Kijing, penutup balok pinggir dari luar, sepanjang keliling dinding
- Balok (besar), kerangka untuk lantai yang memanjang ke depan
- Tailan : balok sedang yang berfungsi sebagai tempat menempelkan lantai
- Blandar : penahan talian, melintang
- Bedu : balok diatas sebagai tempat meletakkan rel
- Bidai, bamboo tebal yang dipasang melintang dari papan lantai, untuk mempertahankan dari tusukan musuh dari bawah rumah
- Pelupuh kamar tidur, sejajar dengan papan lantai (di atas bidai)
- Lapik tiang, batu pondasi tiang rumahtiang rumah
- Tangga depan dan belakang
SUSUNAN RUANG
Rumah tempat tinggal memilki fungsi dalam kehidupan. Adapun susunan dan fungsi ruang pada rumah adat melayu Bengkulu ini adalah:
Tempat menerima tamu yang belum dikenal, atau tamu yang hanya menyampaikan suatu pesan (sebentar). Selain itu juga dipergunakan untuk relax pada pagi atau sore hari. Bagi anak-anak, berendo juga sering dipergunakan untuk bermain congkak, karet, dll.
2. Hall
Ruang untuk menerima tamu yang sudah dikenal baik, keluarga dekat, atau orang yang disegani. Ruangan ini juga digunakan untuk tempat cengkrama keluarga pada malam hari, ruangan belajar bagi anak-anak, dan sewaktu-waktu ruang ini digunakan untuk selamatan atau mufakat sanak family.
3. Bilik gedang
Bilik gedang atau bilik induk merupakan kamar tidur bagi kepala keluarga (suami istri) serta anak-anak yang masih kecil.
4. Bilik gadis
Biasanya terdapat pada keluarga yang memiliki anak gadis, merupakan kamar bagi si anak gadis. Selain untuk tidur juga digunakan untuk bersolak. Bilik gadis biasanya berdampingan dengan bilik gedang, demi keamanan dan kemudahan pengawasan terhadap anak gadis mereka.
5. Ruang tengah
Biasanya dikosongkan dari perabot rumah, dan di sudutnya disediakan beberapa helai tikar bergulung karena fungsi utamanya adalah untuk menerima tamu bagi ibu rumah tangga atau keluarga dekat bagi si gadis. Di samping itu juga sering dipakai sebagai tempat belajar mengaji. Bagi keluarga yang tidak memilki kamar bujang tersendiri, kadang-kadang dipakai untuk tempat tidur anak bujang.
6. Ruang makan
Tempat makan keluarga. Pada rumah kecil biasanya tidak terdapat ruang makan, mereka makan di ruang tengah. Bila ada tamu bukan keluarga dekat, maka untuk mengajak tamu makan bersama digunakan hal, bukan di ruang makan.
7. Garang
Tempat penyimpanan tempayan air atau gerigik atau tempat air lainnya, juga dipakai untuk tempat mencuci piring dan mencuci kaki sebelum masuk rumah atau dapur
8. Dapur
Ruangan untuk memasak
9. Berendo belakang
Serambi belakang, tempat relax bagi kaum wanita pada siang atau sore hari, melepas lelah setelah mengerjakan tugas, tempat mengobrol sambil mencari kutu.
Sebenarnya, selain rumah adat melayu Bengkulu, di Bengkulu juga terdapat rumah adat yang lain seperti rumah Umeak Potong Jang (rumah buatan rejang) yang merupakan umeakan (rumah kuno ) asli Rejang (salah satu suku di Bengkulu), Rumah Tradisional Kubung Beranak milik bangsawan Rejang Pesisir, rumah Patah Sembilan yang merupakan rumah tradisional rakyat biasa suku bangsa Rejang Pesisir, dll.
(Sumber : Achmad, Ramli dkk. 1992, Koleksi Miniatur Rumah Tradisional Suku Bangsa Rejang Dan Melayu Bengkulu Museum Negeri Provinsi Bengkulu. Depdikbud Propinsi Bengkulu)
Baca selengkapnya....
Bengkulu Kota Parkir?
oleh: Sev Pascal
Ini bukan keluhan sempit apalagi pemikiran sempit, dan ini juga bukan berarti bahwa aku tak peduli atas apa yang sudah menjadi kebijakan pemerintah. Ya bicara mengenai parkir dan biaya parkir seakan menjadi sebuah inpirasi baru bagiku dalam mengeluarkan uneg-uneg dan ganjalan yang selama ini aku rasakan di kota ini.
Bagi pemerintah daerah biaya pungutan parkir merupakan sumber PAD yang cukup lumayan dan memang perlu guna membiayai pembangunan daerah yang bersangkutan, Hal ini lumrah menurutku dan wajar di kota manapun juga begitu. Namun yang jadi persoalan adalah jika biaya parkir ini diajadikan komodity oleh sebagian pihak tertentu dalam mencari keuntungan pribadi atau sebagai sarana baru mencari pendapatan dengan mudah yakni hanya dengan modal pluit atau tanda pengenal yang entah resmi atau buatan sendiri, karena aku sendiri pernah melihat seorong tukang parkir dengan lagaknya dan dengan tanda pengenal di kalungkan dilehernya di memaksa agar membayar pungutan parkir pada setiap kendaraan yang meskipun hanya sekedar parkir sesaat untuk duduk-duduk di pingir jalan, rupanya setelah kudekati dan kulihat lebih dekat tanda pengenal itu bertuliskan "PANITIA LOMBA JALAN SANTAI BLA BLA BLA BLA" lengkap dengan cap dan tanda tangan panita dan sektika itu juga dia membalikkan tulisan itu agar menghadap ke arah bajunya sehingga tak bisa di baca orang. ya ironis memang, jadi apa tujuannya, mungkin dia ingin merubah image bahwa dia sekaan-akan tukang parkir asli dan legal (mungkin..)........?
Kenapa aku biacara hal ini? ya karen aku merasa di Kota Bengkulu ini hampir di setiap sudut jalan dan depan pertokoan bahkan di tempat bersantai saja selalu ada saja yang menarik pungutan parkir, persoalannya bukan pada biaya parkirnya saja tapi pada pemungut parkirnya itu sendiri yang menjadi persoalan. Ternyat alangkah mudahnya sesorang untuk menarik pungutan parkir tanpa identitas jelas apakah orang itu menarik pungutan parkir resmi atau fiktif, dan atau apakah uang yang didapat itu masuk ke kas pemda atau kantong pribadi. Hal inilah yang menjadi perhatian aku selaku warga kota Bengkulu yang sedikit banyak harus memarkirkan kendaraan di tempat umum.
Pernah suatu sore di tahun 2006 aku pergi ke tempat wisata tapak paderi untuk bersantai dan menungu sun set menjelang. AKu duduk sendiri di dekat tugu tabot yang memang bisa dibilang cukup jauh dari tepi pantai dan arena wisata tetapi tiba-tiba seorang anak muda dengan tampang agak sedikit preman dengan bermodal pluit meminta agar aku membayar biaya parkir dengan tiba-tiba, aku berkeras "kenapa kamu minta duit parkir sementara aku saja belum beranjak dari tempat ini". Jawabannya cukup mengelikan karena dia bilang dia harus buru-buru pulang karena belum mandi. Aneh memang, namun akau tak mau berdebat dan ambil pusing maka aku serahkan sebuah uang receh lima ratus rupiah, namun tiba-tiba dia menolak karena katanya untuk kendaraan roda dua harus bayar 100 rupah, aku berfikir "lho bukannya kendaraan roda dua itu menurut PERDA biaya parkir hanya 500 rupiah saja?" Tapi dia tak peduli dan dengan sedikit memaksa diapun meminta agar aku memberinya 1000 rupiah. Meskipun hatiku agak sedikit tak rela tapi apa boleh buat daripada ribut (karena pada intinya aku peace lover dan bukan tak berani ribut tapi sebisa mungkin aku menghindari keributan) aku kasih saja lalu dengan santainya diapun menuju ke sebuah warung dan membeli rokok lalu pergi entah ke mana.
Kejadian seperti ini sebenarnya bukan hanya sekali dan sering terjadi di tempat lainnya dan dengan berbagai macam alasan mereka meminta uang parkir sesuka hati mereka tanpa memandang apakah tempat tersebut layak untuk dipungut bayaran parkir atau tidak.
Selain menjamurnya tukang parkir di hampir setiap sudut kota, yang tak kalah serunya adalah para tukang parkir itu kadang meminta parkir sekehendak perutnya saja misalnya ketika pada acara festival tabot, para tukang parkir itu meminta uang parkir yang nominalnya amat jauh dari apa yang telah diperdakan, seperti Roda Dua Rp2000, Roda Empat Rp5000. Kemanakah uang itu larinya? apa ke kas Pemda apa ke Kas pribadi. Jawabannya ada pada anda pelakunya.Halo Pemda yang mengurusi Parkir, halo...halo...halo...
Malam Tahun Baru di Kota Manna
oleh: Sev Pascal
Ini cerita tentang perjalananku ke Kota Manna, kota Kenangan alias Bumi Sekundang Setungguan Kabupaten Bengkulu Selatan, aku menginjakkan kaki di sana tepatnya tiga hari sebelum malam tahun baru 2008, atau hari Sabtu 29 Desember 2007. Bicara tentang kota ini bagiku memberikan kenangan tersendiri karena sekitar 9 tahun yang lalu ketika aku menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di provinsi Bengkulu ya di kota inilah aku transit sebelum melanjutkan perjalanan ke kota Bengkulu yang memakan waktu sekitar 4 jam (+/-200 Km) perjalanan darat atau hampir mirip jarak Jakarta-Sukabumi . Aku ingat ketika itu bulan Juli tahun 1998 kami berhenti tepat di depan tulisan SMPN 1 Kota Manna, saat itu aku mengira aku sudah sampai di kota Bengkulu rupanya ketika ku tanyakan pada kakakku yang lebih dulu tinggal di kota Bengkulu katanya belum sampai dan menyisakkan waktu beberapa jam lagi. Dan ketika aku kembali melihat papan tulisan itu aku seakan merasakan sebuah rendezvous pada kenangan sekitar 9 tahun lalu.
Ketika aku kembali ke kota ini, aku merasakan banyak sekali perbedaan dan perubahan dari mulai jalan yang sedang ditata dan diperbaiki hingga semakin banyak gedung-gedung baru yang muncul beserta lampu-lampu hias yang semakin menyemarakkan kota , aku menilai kota ini sedang berbenah, cuma aku berpendapat sedikit mengenai jalan dua jalur. Dengan menjadikan jalan di kota Manna menjadi dua jalur aku melihat ada dua segi positif dan negatif yang muncul. Segi positifnya kendaraan bermotor lebih tertib dan terarah sehingga bisa meminimalisir kecelakaan lalu lintas akibat mencuri jalur, namun segi negatifnya yang kulihat adalah semakin menyempitnya ruas jalan karena pembagi dua jalurnya banyak memakan badan jalan dan diperparah bahu jalan yang tidak rata membuat pengendara bermotor harus lebih waspada. Disamping itu juga aku belum melihat urgensi atas pembagian jalan menjadi dua jalur di kota ini sehubungan volume kedaraan yang melawati jalan-jalan protokol di kota ini juga belum begitu banyak dan mayoritas yang melewatinyapun hanyalah kendaraan roda dua.
Ada satu hal yang menarik di persimpangan jalan-jalan protokol di kota ini yakni dipasangnya lampu lalu lintas lengkap dengan penunjuk time counter-nya seperti yang ada di kota Bengkulu, namun sayang aku bahkan melihat para pengendara mayoritas tidak mengindahkannya sehingga dengan santainya menerobos lampu lalulintas yang sedang menyala merah. Meskipun demikian aku masih memakluminya karena memang jumlah kendaraan yang melintas belum begitu banyak sehingga mungkin di pikiran para pengguna jalan tersebut adalah, "Buat apa menunggu lampu merah berganti lampu hijau dimana nyata-nya tidak ada kendaraan yang melintas di depan jadi ya laju saja...,"
Seperti halanya di kota Bengkulu dan mungkin kota-kota dalam provinsi Bengkulu lainnya yang juga berada di tepian pantai di sinipun rupanya isyu gempa dan tsunami tanggal 23 Desembber 2007 (baca di sini) sama-sama mebuat warga kota Manna resah, sehingga banyak penduduk yang mengungsi ke tempat lain yang dianggap lebih tinggi. Memang isyu ini seakan menjadi suatu komoditas yang dihembuskan individu atau kelompok tertentu untuk memancing di air keruh, tapi disini aku melihatnya bukan dari segi negatif saja melainkan segi positifnya yaitu selalu waspada atas bencana yang mungkin menimpa pada seluruh masyarakat utamanya masyarakat yang memang tinggal di dekat pantai. Entah ada kaitannya dengan Isyu bencana atau tidak namun yang jelas tenaga listrik dari PLN yang ada di kota ini selalu byar-pet (istilah jawa) alias hidup mati tak tentu waktu, bahkan kadang-kadang listrik hidup tapi voltasenya melorot dari 220 V hingga 150 volt jelas membuat banyak alat elektronik cepat rusak, tapi apapun itu yang penting kota ini masih terbebas dari segala bencana. Alhamdulillah
Kembali ke cerita menjelang malam tahun baru di Kota Manna. Sebenarnya sore hari sebelum malam tahun baru aku mencoba jalan-jalan ke daerah pantai di kota Manna tepatnya di kawasan wisata pantai Pasar Bawah. Aku lihat meskipun isyu tsunami belum begitu reda tapi tidak membuat pengunjung takut datang dan melewati indahnya pantai meskipun jumlah pengunjung tidak ramai namun boleh dikatakan lumayan banyak untuk ukuran saat itu dan kebanyakan dari mereka adalah pasangan muda yang menghabiskan sore hari di pinggir pantai. Satu hal yang aku catat mengenai kondisi pantai saat itu yaitu gelombanganya lumayan tinggi dengan tiupan angin yang cukup kencang, namun hal yang menarik adalah ketika lautan tersebut kulihat dari kejauhan tampak seakan laut tersebut terbagi kedalam tiga warna yakni dari mulai laut yang paling dangkal yang paling dekat pinggiran pantai warna laut tersebut adalah coklat dibaluri oleh buih-buih laut berwarna putih semakin ketengah warna laut menjadi biru tua dan semakin jauh dari pandagan mata warna laut adalah biru muda sunguh indah untuk diabadikan namun sayang aku terlupa membawa kamera digital kesayanganku sehingga momen ini terabaikan begitu saja.
Malam tahun baru di sana lumayan meriah meskipun tanpa ada acara khusus hanya sekedar acara-acara yang spontan diadakan oleh anggota masyarakat di kota ini dari mulai karaokean, organ tunggal dan band anak muda yang di pentaskan di tepi jalan-jalan protokol kota Manna, hal ini membuat banyak warga kota Manna yang sengaja keluar menghabiskan malam tahun baru dengan cara berkeliling kota sehingga sekitar pukul 20 ke atas keramaian sepanjang jalan protokol di warnai oleh banyaknya kendaraan bermotor yang menyesakkan jalan dan diperparah banyakanya pengendara sepeda motor dan pejalan kaki yang berhenti dan bergerombol sepanjang pinggir jalan menyaksikan pentas hiburan organ tunggal atau band anak muda namun untunglah aparat kepolisian banyak berjaga malam itu sehingga kesemrawutan jalan masih bisa terkendalai. Kemeriahan malam tahun baru di kota Manna ini juga disemarakkan oleh munculnya kembang api dan petasan yang di sulut oleh warga sekitar sehingga membuat suasana semakin riuh. Setealah aku coba berkeliling-keliling hingga lumayan larut malam tibalah detik-detik yang ditunggu oleh warga di sini yakni malam pergantian tahun 2007-2008. Dengan suara gemuruh petasan, cuaca yang sangat bersahabat meskipun malam-malam biasanya turun hujan tapi malam tahun baru itu hujan tidak menyapa meskipun sebelumnya ada sedikit "gerimis mengundang" dengan suhu udara yang relatif sejuk membuat masyarkat sekitar yang menunggu tahun baru semakin betah berlama-lama berada di pinggir jalan.
Pada hari senin tepatnya tanggl 1 Januari di tahun yang baru dimasuki ini yakni 2008, aku kembali pulang ke kota dimana aku menghabiskan aktifitas sehari-hari ya Kota Bengkulu Kota Semarak alias kota Selengek. Ketika melintas kembali di pusat kota Manna sekitar pukul 1 siang aku merasa terkejut, alangkah sepinya hari ini toko-toko sepanjang pinggir jalan banyak yang tutup dan kendaraan bermotor yang melintaspun bisa dihitung dengan jari saja itupun termasuk aku sendiri yang sedang melintas menuju kota Bengkulu "Ah mungkin masih banyak yang tertidur karena malamnya begadang itu yang ada di benakku". Farewell....