SIMPANG LIMO BENGKULU

AvatarTempat berbagi cerita tentang Bengkulu. Berharap menjadi salah satu sumber informasi mengenai daerah ini. Selamat membaca...

Bahasa Bengkulu campur-campur

oleh: Herman

Kalau diperhatikan, sebenarnya propinsi Bengkulu memiliki bahasa daerah yang banyak. Itulah sebabnya, menurut guru Antropologi saya waktu di SMUN 5 dulu, Pemerintah Daerah tidak menetapkan satu bahasa daerah ini yang menjadi muatan lokal pelajaran “Bahasa Daerah” di sekolah.

Kalau teman saya dari Bekasi, Bandung, atau Garut bisa mendapatkan pelajaran bahasa Sunda sebagai satu mata pelajaran wajib bermuatan lokal waktu masa-masa sekolah dulu, tidak demikian yang saya alami di Bengkulu. Mau belajar bahasa daerah yang mana kalau nyaris di setiap kecamatan memiliki bahasanya sendiri-sendiri.

Saya, karena berasal daerah paling ujung selatan Propinsi Bengkulu, kemudian hidup berpindah-pindah di seputar Bengkulu Selatan hingga Kota Bengkulu, memahami beberapa bahasa yang ada. Emak berasal dari Alas (sekarang Kabupaten Talo) dan Bapak dari Kaur. Saya lahir di Kaur. Dari kedua orang tua saya itu, saya bisa memahami bahasa Alas dan bahasa Kaur.

Selain bahasa Kaur dan bahasa Alas, meski kurang lancar, saya bisa berbahasa Padang Guci, Kedurang, Manna, Tais, Bahasa Tanjung Agung dan Sekitarnya, bahasa Bengkulu Kota yang hampir sama dengan bahasa Palembang-Sumatera Selatan itu, serta Bahasa Bengkulu Pantai. Masih ada beberapa bahasa yang sama sekali saya tidak mampu memahami, karena saya memang belum pernah tinggal di daerah itu, yakni bahasa Kepahyang dan bahasa Bengkulu Utara. Bayangkan, bahasa mana yang mau diajarkan kepada anak-anak sekolahan di Bengkulu?

Sewaktu masih di Yoyga, sesekali saya menjenguk saudara sepupu yang nyantri di Mu’allimat Muhammadiyah. Ada dua orang, Betty dan Icha. Kedua adik saya ini memiliki bahasa yang berbeda. Mereka berdua saudara sepupu. Icha yang tinggal di Kota Bengkulu jelas terbiasa menggunakan bahasa Bengkulu Kota. Juga memahami bahasa Alas dimana kedua orang tuanya berasal. Betty berasal dari Seginim, daerah di bagian selatan Propinsi. Uniknya, Betty tidak bisa berbahasa Bengkulu Kota dan berbahasa Alas. Ia hanya mampu berbahasa Seginim dan bahasa Indonesia seperti yang dia dapatkan di sekolah. Icha dan Betty berkomunikasi dalam bahasa Indonesia.

Kalau berbicara dengan Icha saya menggunakan bahasa Bengkulu Kota sembari sesekali diselingi bahasa Alas. Dengan Betty saya terpaksa berbicara dalam bahasa Indonesia dan menggunakan beberapa kosa kata bahasa Seginim.

Nyaris setiap kecamatan memiliki bahasa yang berbeda. Kalau satu kecamatan dengan kecamatan di sebelahnya mungkin masih bisa mengerti bahasan masing-masing. Namun jika letak satu kecamatan dengan kecamatan lain sudah diselingi oleh dua kecamatan atau lebih, penduduknya kadang saling tidak memahami bahasa satu dengan lainnya. Satu contoh dalam perbedaan bahasa ini adalah untuk kata “tidak” dalam bahasa Indonesia, bisa berarti de (Kaur), dide (Padang Guci dan Seginim), nido (Alas), ido (Tais), idak (Kota), col (Tanjung Agung), atau coa (Kapahyang).

Keragaman bahasa ada di masyarakat merupakan kekayaan budaya bangsa Indonesia. Sebagai sebuah hasil proses budaya yang berjalan ratusan hingga ribuan tahun, maka bahasa-bahasa daerah ini harus kita lestarikan. Dalam satu artikel yang pernah saya baca di majalah new internationalist, disebutkan bahwa setiap harinya ada 2 bahasa masyarakat di bumi ini punah melalui proses globalisasi yang berlangsung. Anak-anak muda lebih sering belajar menggunakan bahasa asing atau bahasa yang lebih global untuk berkomunikasi sembari melupakan bagaimana berkomunikasi dalam bahasa yang digunakan oleh kakek-neneknya.

Kakek dan nenek kami dulu sangat sedih kalau kami, cucu-cucunya, tidak bisa berbahasa daerah sebagaimana yang mereka pakai sehari-hari. Sekarang saya memaklumi mengapa demikian. Kalau tidak terbiasa menggunakan, maka bahasa moyang kita dahulu lambat laun tentu akan hilang. Dalam hal ini saya berpendapat, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris itu penting, namun kita juga harus membiasakan berbahasa daerah di mana kita dilahirkan. Begitulah salah satu cara untuk melestarikan budaya.

Saya menulis ini dalam bahasa Indonesia, terus terang, karena saya kebingungan akan menggunakan bahasa Bengkulu yang mana yang terasa enak dibaca. Bahasa Bengkulu saya terasa campur-campur: Alas, kaur, kota dan lainnya. Tetapi, kalau diantara Anda mengajak saya berbahasa Bengkulu yang mana saja, Insya Allah masih pacak, masih bisa, ndang khawatir sanak.

7 komentar:

Rabu, Desember 19, 2007 11:50:00 AM yuminti mengatakan...

pernah baca tentang Empat Petulai...??
aku kok nggak percaya yah, bahwa asal-usul org Bengkulu itu dari Majapahit, lha bahasanya aja werno-werno gitu, dan nggak ada jawa-jawanya sedikitpun...??
please give me pencerahan....

Jumat, Januari 04, 2008 10:05:00 AM lebong mengatakan...

Saya sebagai orang lebong masuk dalam salah satu empat petulai tsb. Awalnya juga meragukan hal tsb dan sampai sekarang juga belum belum menemukan jawaban yg memuaskan, tapi kalau dilihat dari suku di tetanggganya minangkabau (orang padang) sendiri ada hubungan dengan majapahit, yang mendirikan pagaruyung adityawarman asal bapaknya majapahit.. check di wikipedia untuk lebih jelas..

Rabu, April 14, 2010 6:02:00 PM dwi mulyanto mengatakan...

kak bisa kirimkan kosa kata bahasa bengkulu terutama daerah kepayang misal kata2 seperti:
1.apa kabarnya
2.saya asli bengkulu
3.saya tidak suka makanan itu
4.kamu bersala dari mana
5. kamu maw kemana...
mungki itu dulu

kirim via emai q di :Dmy_anto@ymail.com erimaksih sebelumnya....

Senin, April 25, 2011 9:55:00 AM Samsuri Wahid mengatakan...

Sama dengan kami Bengkulu Malaysia. Ada 2 bahasa Bengkulu Utama, Serawai dengan Bulang (Lembak). Tapi dalam Serawai pun ada perbezaan juga walaupun sedikit. Serawai yang ditutur di kawasan Behrang berbeza sedikit dengan Serawai yang di tutur di Gemas/Sg. Merab/ Sg. Kembung. Tapi alhamdulillah masih boleh faham. Saya juga boleh faham dan bertutut dalam bahasa Serawai dan Bulang (Lembak) walaupun agak jauh beza kedua2 bahasa itu. Mbak perangguan: ughang kito galo (uang kite gale)

Sabtu, Maret 10, 2012 9:14:00 AM Else Juita Evayani mengatakan...

mohon info ttg bahasa dan aksara bengkulu

Rabu, April 11, 2012 10:57:00 PM Donga Dang mengatakan...

beranekaragam bahasa itulah yang dinamakan bahasa bengkulu. uniknya bengkulu, meskipun ada banyak suku dan bahasa, tapi merupakan salah satu provinsi paling aman dari konflik di indonesia.

Selasa, Desember 11, 2012 1:06:00 PM Dang Bedalak mengatakan...

nido pacak bekato-kato lagi selain salam sanak bagi jemo bengkulu umummo dan bagi jemo serawai khususo
update terus budayo kito tanah bengkulu

Poskan Komentar

Silahkan memberikan komentar, tetapi yang relevan dengan posting yang ingin Anda komentari. Jangan pernah menjadikan ruang komentar ini untuk beriklan.

 

Mailing List Blogger Bengkulu

Sebelum mendaftar, silahkan membaca dulu persyaratannya di sini.