Persatuan Warga Kaur (PWK) Palembang dan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek) mengajak adik sanak warga Kaur di perantauan untuk mudik bersama ke Kaur dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri 1434H.
Hari Minggu, 11 Agustus 2013 pukul 09.00 Wib atau reraye ke-4 akan ada kumpul-kumpul di Gedung Pendopo TM BINEKA desa Sekunyit Bintuhan. Pukul 19.00 Wib malam hari, akan ada pagelaran kesenian Kaur.
Mari balik ke Kaur. Kita bersilaturrahim sekaligus merayakan Idul Fitri tahun ini di Kaur.
Informasi ini disampaikan oleh Pak Son Iswandy dari PWK Palembang.
Informasi lebih lanjut dapat menghubungi beliau di no telepon genggam 0812 782 0344.
Orang Kaur Mudik Bersama
Menikmati Masakan Khas Bengkulu
Oleh: Saherman
Kalau sedang bertugas ke daerah-daerah di Indonesia, teman-teman saya selalu mengagendakan aktivitas makan makanan khas daerah setempat. Bagi saya pribadi, hal ini masih tergantung pada ketersediaan waktu dan juga uang di kantong. Jika keduanya bersatu padu, maka mencicipi masakan khas setempat merupakan satu hal yang sangat berharga bagi saya.
Sebagai orang Bengkulu, saya harus mengakui kalau selama ini saya tak begitu hirau dengan nama-nama masakan dari dapur orang Bengkulu. Saya hanya mengingat bahannya serta rasanya. Sejak kecil, ibunda di rumah sangat memanjakan saya dan saudara-saudara dengan segala masakan khas orang kito di Bengkulu ini. Yang jelas, dari sekian masakan itu, ikan merupakan masakan paling saya sukai. Sampai-sampai dulu ayahanda berkelakar saat saya akan merantau ke Yogyakarta, "Nanti kalu ngah lah de agi di 'umah, siape nihan yang makan palak ikan ni.... " (Nanti kalau ngah sudah tidak ada di rumah, siapa lagi yang akan menyantap kepala ikan ini). Ngah adalah panggilan adik-adik untuk kakak nomor 2 bagi orang-orang Bengkulu suku Kaur). Yup, kepala ikan merupakan bagian dari ikan yang sangat saya sukai. Itu sebabnya, meski jauh dari Bengkulu, saya masih terus menikmati kepala ikan kakap, ikan patin, dan ikan-ikan lainnya. Dan betapa bersyukurnya saya ketika tahun lalu berada di Balikpapan dan Banjarmasin saya dapat menikmati kepala ikan patin dan ikan ghuan (gabus). Rasanya sunggu enak, berbeda dengan makan ikan cakalang atau ekor kuning kalau sedang berada di Maluku.
Berada di Bengkulu untuk tugas kantor bersama teman-teman dari Jakarta awal Oktober lalu semakin menyenangkan karena saya dapat menikmati masakan khas Bengkulu langsung di tanah kelahiran saya ini. Ayuk Susi, teman dari LSM Pendidikan untuk Perempuan dan Anak (PUPA), mengajak teman-teman dari Jakarta untuk merasakan masakan khas orang sini. Petang hari di tanggal 2 Oktober, kami pergi makan di rumah makan Marola yang letaknya di pantai panjang. Letaknya tak jauh dari hotel Grage Horizon tempat kami menginap. Saya pun sesungguhnya belum pernah menikmati masakan-masakan Bengkulu di rumah makan yang menyediakan masakan khas Bengkulu sendiri. Sebagai orang Bengkulu, inilah saat pertama kali saya menikmati masakan Bengkulu di rumah makan khas Bengkulu dan di Bengkulu pula.
Baca selengkapnya....
Kolam Renang Pemandangan Pantai
Oleh: Saherman
Dokumen Tertulis Adat Istiadat di Bengkulu
Oleh: Saherman
Saya dan dua teman lainnya dari Jakarta mewawancarai beberapa tokoh masyarakat, termasuk Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Seluma dan Kota Bengkulu. Selain itu, kami pun mengumpulkan beberapa dokumen tertulis mengenai adat istiadat yang berlaku di daerah bekas jajahan Inggris ini. Bertemulah kami dengan dua dokumen yang sangat berarti, Koempoelan Oendang - Oendang Adat Lembaga dari Sembilan Onderafdeelingen dalam Gewest Benkoelen dan Adat Kota Bengukulu. Buku pertama merupakan kumpulan Oendang - Oendang Adat di Kota Bengkulu, Seluma, Manna, Kaur, Kroe, Rejang, Lebong, Lais, Muko-Muko, Serta Undang-Undang Simboer Tjahaja Bangkahoeloe. Dokumen ini sangat berharga karena merupakan dokumen tertulis mengenai adat istiadat di daerah yang pernah menjadi bagian propinsi Sumatera Selatan ini. Sementara dokumen kedua berupa Peraturan Daerah Kota Bengkulu Nomor 29 tahun 2003 tentang Pemberlakuan Adat Kota Bengkulu. Sebenarnya dokumen terakhir sudah saya miliki sejak sekitar 3 tahun lalu atas kebaikan hati teman dekat saya yang bekerja di kantor Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. Sayangnya buku ini terselip entah dimana diantara tumpukan buku yang masih belum rapih sejak kepindahan domisili saya dan keluarga setahun terkahir.
Baca selengkapnya....
Mencari Keluarga, hanya foto ini petunjuknya
Sanak,
dari group LEMBAK Community di facebook, seorang sanak kito asal Bengkulu yang saat ini bermukim di Malaysia sedang mencari keluarganya. Ia hanya memiliki foto ini, yang menurut informasinya merupakan gambar yang diambil pada tahun 1980-an. Jika ada diantara sanak-sanak yang membaca blog ini mengetahui keberadaan sanak di Bengkulu yang dimaksudkan, sudi kiranya menginformasikan ke:
Ali Azwan
nawza_ila@yahoo.com
Telp +60 13378 2847
fb: Ali "gaban" Azwan
----------
Hari Rabu, 16 Maret 2011, Pak Ansar Ali pertama kali mengabarkan informasi ini melalui LEMBAK Community di facebook:
Assalamualaikum ww
Ade sanak kite wang Bengkulu Malaysia jak Sungai Choh nalak keluarganye di Bengkulu, terputusnye komunikasi dan terbatasnye informasi singgonye beliau kesulitan nak nemu ke keluarganye to.
Cuma ade photo ikak yg nye punye sebagai petunjuk, beliau mohon pertulungan adik sanak segalenye. Seandainye adik sanak LC kak ade nang kenal atau tahu ngan keluarganye yg ade di photo itu sudilah kirenye untuk menghubunginye di alamat yg tertera di photo tsb. Baca selengkapnya....
Joran Pancing Lidi Nau
Oleh: Saherman
Inilah alat mengail (memancing) ikan penduduk di dusun Air Langkap, Kaur Tengah, kabupaten Kaur, Propinsi Bengkulu. Jorannya terbuat dari lidi Nau (lidi dari pohon aren). Lidi sepanjang lebih kurang 1,5 meter ini disambung dengan buluh (bambu) sebesar ibu jari orang dewasa. Panjang buluh disesuaikan dengan kebutuhan panjang joran untuk mengail. Seperti joran pancing umumnya, tentu ada tali atum (tali pancing) dan mata kail (mata pancing/hook) untuk mengait ikan yang memakan umpannya. Ujung tali atum yang memiliki mata kail di salah satu ujung lainnya diikatkan pada ujung lidi nau.
Buluh yang digunakan untuk mengail ini adalah buluh Temiang atau buluh Kapal. Buluh ini dianggap paling pas untuk disambung dengan lidi Nau.
Lidi Nau yang dipilih mengail adalah lidi yang sudah tua, dari daun Nau (yang mirip dengan daun kelapa) yang sudah tua sehingga merupakan lidi yang kuat. Lidi yang dipilih lalu diletakkan di atas Lantai. Lantai dalam bahasa Air Langkap adalah tempat meletakkan bumbu-bumbu masak, panci dan lainnya di atas tungku perapian memasak. Dengan demikian, lidi yang disimpan di atasnya mengalami pengasapan setiap hari. Proses ini dinilai membuat lidi nau menjadi lebih kuat namun tetap lentur.
Meski menggunakan lidi nau, joran pancing ini bisa dipakai untuk menangkap ikan dengan berat hingga 2 kilogram. Joran ini pun bisa dipakai untuk mengail di sungai, pinggir laut/pantai, air payau, kolam atau sawah.
Umpan yang dipakai untuk mengail adalah umang-umang. Hewan sejenis siput ini hidup di pinggir laut atau pasir pantai. Ukuran umang-umang ini kecil hingga sekitar kelingking orang dewasa. Umang-umang ini biasa dipakai untuk memancing di pantai Air Langkap.
Ada satu cerita menarik mengenai cara memancing orang Air Langkap ini. Pada tahun 2003 lalu, dalam rangka ulang tahun Tentara Nasional Indonesia (TNI), Koramil Kaur Selatan menyelenggarakan lomba memancing. Peserta memancing jumlahnya puluhan dan berasal dari seluruh propinsi Bengkulu. Pemenang lomba memancing adalah ia yang paling banyak mendapatkan ikan. Setelah lomba selesai, ikan tersebut ditimbang oleh panitia.
Lomba memancing berlangsung di dermaga Linau Kaur Selatan, sebuah pelabuhan alam dengan banyak karang di pantai-pantai dekat pelabuhan itu. Waktu memancing ditentukan lamanya dan dalam rentang waktu itu semua peserta harus berlomba mendapatkan ikan sebanyak-banyaknya supaya bisa menjadi pemenang.
Tamsir (38 tahun) berasal dari dusun Air Langkap berhasil mengumpulkan ikan terbanyak diantara peserta yang lainnya. Dengan joran khas Air Langkap dan umpan umang-umang ia memenangkan lomba memancing tersebut.
Menurut cerita Tamsir, ada peserta lainnya yang ia tegur saat lomba berlangsung. Peserta tersebut membawa ikan di dalam kantong plastik hitam. Ikan laut dari membeli di pasar itu hendak ia serahkan ke panitia untuk ditimbang sebagai hasil tangkapan mata kailnya. Tamsir sudah mengingatkan kalau panitia tidak sebodoh yang ia bayangkan. Panitia memeriksa ikan-ikan hasil tangkapan. Mungkin karena hasil perlombaan jauh lebih segar hingga berbeda dengan ikan dari pasar, panitia akhirnya mengetahui ada peserta yang berbuat curang. Ikan yang bukan hasil tangkapan perlombaan itu diserahkan panitia kepada peserta yang curang tesebut. "Ikan ini kau bawa ke ibumu untuk dimasak!" kata panitia.
Sebagai pemenang, Tamsir mendapatkan piala dan sejumlah hadiah lainnya. Alat mengailnya yang terbuat dari buluh Temiang/Kapal yang disambung dengan lidi Nau diminta panitia sebagai kenang-kenangan penyelenggara lomba. Alat memancing itu menyedot perhatian banyak orang karena tidak lumrah dan unik.
Orang Air Langkap sudah sejak lama menggunakannya. Dengan joran pancing lidi Nau Tamsir berhasil mengalahkan peserta lainnya yang menggunakan joran pancing yang bagus-bagus, mahal dan katanya alat pancing yang lebih modern.
Pesta Blogger 2009
Sanak,
Pesta Blogger 2009 sudah membuka pendaftaran bagi semua blogger yang tertarik untuk mengikuti. Silahkan mendaftar di sini atau klik logo Pesta Blogger 2009 di sebelah kanan blog iko.
Ingin rasonyo ketemu dengan sanak-sanak segalo, tapi entah kapan. Beberapo kali aku berdiskusi dengan beberapo kawan di mailing list untuk ngadokan pertemuan, ruponyo masih sulit untuk diwujudkan. Barangkali ado di antara sanak-sanak ko yang ikut pesta blogger tu, cak mano kalu kito manfaatkan momen ini untuk ketemuan. Sekedar bertatap muko, tukaran nomor kontak, atau ndak bikin rencana-rencana ke depan, tentu idak ado salahnyo, kan? Bisa hubungi aku di nomor 021-30697575 (mobile).
Salaam,
Herman (Pemelihara blog Simpang Limo Bengkulu)
Tari-Tarian dari Rejang Lembak
oleh: Herman
Tari adalah salah satu seni dan merupakan produk kebudayaan yang ada di dalam masyarakat. Suku Rejang adalah salah satu suku terbesar yang ada di propinsi Bengkulu. Jika Anda sedang berkunjung atau berwisata ke Bengkulu, tak ada ruginya untuk menikmati hasil kebudayaan daerah ini yang tak kalah bagusnya dibanding yang berasal dari daerah lain, dan ikut memperkaya kebudayaan Nusantara. Berikut ini adalah daftar tari-tarian yang dimiliki oleh suku Rejang yang berada di daerah Rejang Lembak:
a. Tari Senjang
b. Tari Layang-Layang
c. Tari Kain
d. Tari Piring 40
e. Tari Piring 12
f. Tari Tari Pisau/Siwar
g. Tari Sabung
h. Tari Selasih
i. Tari Cerai Kasih
j. Tari Lingkung Tanjung
k. Tari Satu Dua
l. Tari Mak Inang
m. Tari Payung
n. Tari Jin Kambas
o. Tari Ujan Panas
p. Tari Silampari
q. Tari 4 Saudara
r. Tari Terkukung
s. Tari Srilala
t. Tari Rakrai
u. Tari Ribu-Ribu
v. Tari 3 Serangkai
w. Tari Nasib Serawak
x. Tari Indung-indung
y. Tari Turak (Penyambutan)
z. Tari Balai (Tari Adat)
Pengurutan tari-tarian di atas sesuai dengan sumbernya, yakni dokumen Notulen Lokakarya Pembakuan Tari Adat dan Busana Adat Resmi Kabupaten Rejang Lebong, Sabtu 03 Desember 2005 lalu.
Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong bekerjasama dengan Badan Musyawarah Adat (BMA) Kabupaten Rejang Lebong adalah panitia pelaksana dari kegiatan lokakarya yang berlangsung sejak pukul 09.00 - 20.00 WIB itu. Metode yang digunakan dalam acara ini berupa:
Peserta lokakarya adalah mereka yang masuk dalam unsur tokoh-tokoh adat kabupatan Rejang Lebong, BMA Kecamatan, serta seniman dan budayawan yang ada di kabupaten ini.
Catatan:
Terima kasih untuk Henny Trianingsih Chandra, yang melalui orang tuanya telah melobi Bupati Rejang Lebong untuk mendapatkan dokumen sumber serta mengirimkannya ke saya lebih dari setahun lalu.
CRYSIS, CRYSIS & CRYSIS OH MY POOR CITY
oleh: Sev Pascal
Ketika Kemajuan yang didamba menjadi kemunduran, apalah arti sebuah perubahan. Perubahan ternyata malah kearah kemunduran. Memang berubah tapi ternyata perubahan yang berbalik perubahan yang terlihat megah hanyalah sekedar kamoflase yang penuh kebobrokan. oh Malangnya nasib kota ini.
Bengkulu kini, (sampai detik tulisan ini dibuat) ternyata semakin berubah menjadi Kota Bengkulu yang full of crysis.
Mungkin pembaca mau tahu kenapa aku menulis postingan macam ini. Alasannya sederhana tapi sungguh menjengkelkan bagiku. Bagaimana tidak, dari hari kehari ternyata kota ini semakin mengalami krisis di berbagai bidang. contoh sederhana dari mulai kekurangan air bersih akibat pasokan air PAM yang sudah hampir seminggu ini di wilayah Sawah Lebar dan sekitarnya yang tidak mengalir bahkan di sukamerindu di rumah kakakku air dari PDAM telah berbulan-bulan sulit mengalir hal ini sangat memaksaku benar-benar kerepotan karena kurangnya air bersih krisis air ini juga diperparah dengan aliran listrik yang selalu mati hampir setiap hari. Benar-benar membuatku sangat kecewa pada kinerja PLN di sini apa mungkin akan seperti PLN di Bengkulu Selatan khusunya Kota Manna yang sudah terbukti amat jarang hidupnya daripada matinya? Padahal kita ketahui bersama bahwa Listrik dan air ini merupakan kebutuhan yang mendasar dewasa ini, bukan itu saja yang merepotkan kadang-kadang aliran listriknya hidup tapi tegangannya melorot hingga dibawah ambang batas, tentu saja hal ini membuat banyak peralatan elektronik menjadi rusak. Terutama aku yang hampir tiap hari tak pernah lepas dengan benda kesayanganku " komputer 'PC' ku" sehingga kerjaan ku yang berhubungan dengan ketik mengetik dan cetak mencetak menjadi amburadul tak tentu arah.
Di lain pihak fasilitas umum seperti jalan dan jembatan dari hari kehari bukannya semakin baik tapi tambah parah. lihat saja jalan-jalan yang ada di kota Bengkulu ini rata-rata kerusakkannya amat sangat parah dan tidak sebanding dengan perbaikan jalan yang menurutku sebatas tambal sulam sebagai contoh jalan Sawah Lebar hingga simpang Panorama menurutku adalah jalan yang amat sangat parah kerusakkannya terutama depan Bank Safir Bengkulu, kerusakan ini ternyata bukan hanya karena kualitas jalan atau aspalnya saja yang jelek melainkan memang diperparah dengan kendaraan yang melewatinya yang beratnya di luar ambang batas tonase jalan itu sendiri. Akibat dari jalan yang buruk ini sudah barang tentu adalah kecelakaan bagi pengguna jalan itu sendiri, seperti beberapa hari terakhir banyak sekali kendaraan terguling ketika hujan turun, dan banyak seklai kendaraan roda dua yang masuk ke dalam lobang seperti halnya yang pernah aku alami di tahun 2008 yang lalu ketika kendaraanku terperosok ke dalam lobang jalan yang ada di dekat Simpang Bandar Raya-Rawa Makmur hingga terpaksa aku tak dapat beraktifitas untuk sekian waktu karena tulang bahu ku mengalamai cedera. Perlukah korban-korban lainnya berjatuhan? lalu ke mana anggaran perbaikan jalan yang ada? Aku tak tahu yang jelas bagiku pembangunan itu bukan sekadar membangun Ruko, bukan sekadar membangun jogging track atau sebatas mempercantik pesisir pantai atau bukan juga sekedar mengganti nama kota dari Bengkulu menjadi Bencoolen tapi bagiku pembangunan adalah juga memperbaiki sarana dan prasarana yang langsung berhubungan dengan kepentingan rakyat kecil seperti aku ini.
Sesungguhnya bukan aku ingin menjelek-jelekkan kota dimana aku tinggal tapi ini murni ungkapan perasaan seorang rakyat kecil macam aku yang melihat dari kacamata seorang rakyat kecil. Ternyata bengkulu benar-benar berubah.
Baca selengkapnya....
Perlukah Bengkulu menjadi Bencoolen?
Beberapa hari ini usulan pergantian nama Bengkulu menjadi Bencoolen menjadi topik hangat di mailing list Blogger Bengkulu. Karena mailing list ini bersifat tertutup, maka hanya anggotanya saja yang dapat berpartisipasi di dalam diskusi. Perdebatan hangat ini, saya pikir perlu dinikmati oleh sanak-sanak lain dari Bengkulu atau mereka yang pernah memiliki kenangan tersendiri terhadap Bengkulu. Silahkan menanggapi. | herman
03/30/2009 09:27 AM
Rezi:
Kepada semua sanak bengkulu,
malam tdi ketika membaca running text di tv one, saya kaget krna ada berita bahwa nama bengkulu berubah menjadi bencoolen, saya penasaran juga krn hanya running text aja, sampai akhirnya pagi ini menemukan artikel di sini mungkin bisa jadi referensi
Ada berbagai macam pendapat yang muncul, bagaimana dengan sanak semuanya...
03/30/2009 02:55 PM
Suharyanto:
Yah seperti kebanyakan komentar, rasanya kurang kerjaan dengan mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Kalo kita kaji dari berbagai aspek, Bencoolen hanyalah sebutan untuk Bengkulu, sama dengan Netherlan = Holand = Belanda, dll. Kalo memang merujuk kepada nama asli, semestinya BANGKAHULU, atau pakai aja namo kerajaan besar di Bengkulu tempo dulu, SILEBAR misalnnya.
Jika logikanya sama dengan Ujung Pandang menjadi Makassar tidaklah tepat, soalnya Makasar memang nama salah satu etnis di kota tersebut dan memang ada kerajaan Makasar. Yang jelas tidak diganti menjadi Maccassar (ucapan orang bule). Jika menggunakan logika "pejabat" kota Bengkulu tsb, maka Jawa bisa menjadi Jawadwipa, Kalimantan menjadi Borneo, Sulawesi menjadi Celebes, Maluku menjadi Molucas dan ha ha ha... lucu.
Bencoolen, terus melafalkannya apa. Bengkulen, atau ben-cu-len, atau beng-cu-lun... ha ha ha bisa-bisa kita dianggap sebagai orang "culun"...(just kidding).
Saya rasa ini memang kurang kerjaan....
03/30/2009 03:26 PM
H. Musiardanis:
(Tulisan saya ini sudah dimuat di Harian Bengkulu Ekspress beberapa minggu yang lalu dan karena jengkel dengan kekerasan kepala para pejabat Kota Bengkulu, maka Insya Allah besok tulisan saya yang berjudul "Lagi-lagi Bencoolen" akan dimuat lagi).
----------
Beberapa hari ini kita membaca polemik hangat mengenai satu gagasan luar biasa mengenai nama Kota Bengkulu. Salah satu dinas di kota Bengkulu mempunyai keinginan untuk mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Alasan yang dikemukakan untuk melakukan perubahan itu antara lain karena nama Bencoolen lebih dikenal di manca negara ketimbang Bengkulu, dan ini dapat dijadikan wahana untuk mempromosikan wisata di daerah ini.
Ironis, sungguh sesuatu yang menyedihkan apabila kita lebih menghargai nama yang diberikan oleh orang asing (British) daripada nama yang diberikan oleh nenek moyang kita sendiri. Seseorang yang pernah mempelajari bahasa Inggris seharusnya tahu bahwa ada satu norma dalam bahasa tersebut dalam memberi nama bagi sebuah kaum, suku atau bangsa. Biasanya dalam melakukan ini orang Inggris menambahkan suku kata -an, ian, -er atau -nese di ujung nama asli tempat suku itu berdiam, misalnya : Sundanese untuk orang Sunda; Javanese untuk orang Jawa; Chinese untuk orang Cina; Washingtonian untuk orang Washington; New Yorker untuk orang New York, dan sebagainya.
Norma bahasa ini juga tampaknya dilakukan oleh kolonial Inggris terhadap orang Bengkulu, ketika mereka berada di Bengkulu pada abad ke 18 dan 19. Menurut norma tersebut “orang Bengkulu” akan mereka sebut dengan kata “BENGKULUAN”. Kata ini kemudian dalam tulisan mereka tertera menjadi “BENKULUAN”, kemudian karena pengucapan kata tersebut di lidah mereka keluar dengan bunyi “BENKULUEN” maka lama kelamaan kata itu berubah total, baik dalam bunyi maupun dalam tulisan, menjadi “BENCOOLEN”. Nah, dari sini jelas bahwa kata Bencoolen lebih mengacu pada sebutan untuk orang atau suku Bengkulu (ingat juga kata Singaporean untuk orang Singapura).
Nama Bengkulu sendiri memang belum begitu jelas berasal dari benda atau peristiwa apa. Ada beberapa versi yang mencoba menjelaskan asal muasal nama Bengkulu. Ada yang mengatakan bahwa nama tersebut berasal dari peristiwa berdarah ketika Bengkulu terlibat perang dengan kerajaan Aceh. Kata sumber ini, saking banyaknya orang yang tewas dalam pertempuran, bangkai-bangkai manusia berserakan sampai ke hulu sungai. Dari sini muncul kata “Bangkai ke Hulu” yang akhirnya menjadi
Bangkahulu. Sumber lain menyatakan bahwa nama Bengkulu adalah pemberian Demang Lebar Daun (Petinggi Kerajaan Palembang) yang melihat bahwa keindahan pantai Bengkulu sama persis dengan keindahan pantai di pulau Bangka. Berdasarkan itu Demang Lebar Daun kemudian mengatakan bahwa daerah ini adalah “BANGKA DI HULU”, yang kemudian berubah menjadi BANGKAHULU.
Terlepas dari sumber mana yang lebih layak kita percaya, kita semua pantas menganggap bahwa nama BANGKAHULU atau BENGKULU adalah nama yang benar dan asli dari kota/daerah ini, bukan BENCOOLEN. Kata Bencoolen hanyalah sebutan orang-orang Inggris terhadap penduduk asli atau suku yang tinggal di Bengkulu pada saat itu dan nama Bengkulu sendiri pasti sudah lama ada, jauh sebelum bangsa Inggris datang. Kembali, mengapa kita harus lebih memilih kata Bencoolen? Sedangkan saat ini kata Bencoolen hanyalah sebuah jalan kecil tak dikenal di kota Singapura (Bencoolen Street).
Sepatutnyalah kita berhati-hati, janganlah terlalu mudah melemparkan gagasan perubahan apabila hal itu belum terlalu mendalam kita fahami. Sama halnya dengan keinginan mengubah nama Bumi Rafflesia menjadi Bumi Merah-Putih. Semua orang tahu Rafflesia pertama kali diketemukan di Bengkulu, sehingga wajar apabila daerah ini disebut Bumi Rafflesia. Kalau daerah/kota ini diubah menjadi Bumi Merah-Putih, daerah/kota-kota lain akan tersenyum, dan mungkin juga marah, karena dari Sabang sampai ke Merauke semuanya adalah Bumi Merah-Putih!
Bengkulu, 15 Februari 2009.
03/31/2009 06:43 AM
H. Musiardanis:
Menyimak berita-berita koran beberapa hari terakhir ini saya benar-benar prihatin dan bersedih. Menurut berita, salah satu dinas di Kota Bengkulu masih tetap ngotot ingin mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen. Sudah banyak tanggapan yang diberikan oleh berbagai orang dari latar belakang yang berbeda tentang hal ini, rata-rata mereka tidak setuju kita mengubah nama kota Bengkulu menjadi kota Bencoolen! Mengapa kita masih tetap ingin mengubah itu?
Secara sederhana saja, coba kita fikirkan bagaimana kita melafadzkan kata Bencoolen. Apakah Bencoolen kita ucapkan dengan bunyi Bencoolen (huruf C di tengah), atau berbunyi Benculin (juga dengan huruf C di tengah), atau berbunyi Benkulen (seperti bahasa Belanda). Begitu juga agar keseimbangan dalam tata bahasa tetap terjaga, apakah kita menyebut Kota Bencoolen atau Bencoolen City ? Ingat kata Bencoolen berasal dari pengucapan bahasa Inggris terhadap kata BENGKULUAN, yang
artinya Orang Bengkulu.
Saya fikir untuk apa kita mengubah nama asli yang telah diberikan oleh para pendahulu kita, dengan nama yang diberikan oleh orang-orang asing, yang datang belakangan. Alasan untuk lebih marketable juga tidak bisa diterima, selama ini kita sudah gencar mempromosikan Bengkulu dengan kata Bengkulu, bukan Bencoolen! Pergantian nama ini akan membawa dampak kita harus mulai dari awal lagi dalam memperkenalkan Provinsi dan Kota yang kita cintai ini. Nama Bencoolen di jaman kini lebih tidak dikenal dari pada nama Bengkulu.
Hal lain yang lebih prinsip dan mutlak harus dipertimbangkan adalah masalah aspek hukum tata-negara. Nama Provinsi Bengkulu dan Kota Bengkulu itu ditetapkan berdasarkan Undang-Undang NKRI, yakni dalam Undang-Undang tentang Pembentukan Provinsi Bengkulu. Kalau ingin mengubah nama Kota Bengkulu, ubah dulu bunyi Undang-Undang tersebut, tidak cukup hanya dengan mengajukan Perda baru. Mengubah undang-undang negara bukan wewenang daerah tapi adalah wewenang pemerintah Republik
Indonesia!
Sudah selayaknya kita menghimbau pemerintah Kota Bengkulu agar tidak usah mengubah nama Bengkulu, yang betul-betul trade-mark bangsa kita sendiri. Banyak tugas-tugas lain yang lebih penting dan bermanfaat yang perlu mendapatkan perhatian. Misalnya soal Warung Remang-Remang, soal jalan dalam kota yang rusak, soal Pedagang Kaki-Lima, soal penghijauan dan juga soal pengembangan taman-taman yang dapat berfungsi sebagai paru-paru kota. Prioritaskan dulu kegiatan pada hal-hal yang bermanfaat langsung terhadap warga kota, tunda dulu kegiatan-kegiatan yang terkesan hanya sensasional dan kurang bermanfaat secara langsung bagi kehidupan warga.
Bengkulu, 30 Maret 2009.
03/31/2009 09:05 AM
Ade Ferianty:
Salut Pak Danis,
Tulisan Bapak sudah memberikan informasi yang cukup mendalam. Dari awal mendengar isu perubahan nama ini, saya pribadi merasa tidak setuju, walaupun dengan alasan yg tidak "ilmiah" seperti yang diuraikan Pak Danis (saya merasa kata bencoolen kok terlalu mirp bahasa gaulnya Debby Sahertian :D)...dan setelah saya baca tulisan Pak Danis, memang sepatutnya kita menghimbau pemerintah kota Bengkulu untuk tidak mengganti nama Bengkulu menjadi Bencoolen.
Masih banyak hal lain yang jauh lebih perlu diperhatikan dan diurus oleh pemda Bengkulu seperti yang pak Danis uraikan.
Semoga pemda Bengkulu juga akses blogger ini dan membaca masukan dari putra-putri Bengkulu.
Wassalam,
Ade.
03/31/2009 09:36 AM
Suharyanto:
Saya sangat setuju dengan pak Danis. Kita lihat, apakah para petinggi pemkot benar-benar mau mewujudkan mengubah nama Bengkulu menjadi Bencoolen. Jika iya, saya pikir kita semua orang Bengkulu wajib menolaknya. Buat "petisi keberatan". Kita orang Bengkulu, bukan orang Bencoolen.
Orang Rumah
oleh: Herman
Inilah ungkapan dalam masyarakat Jawa mengenai posisi perempuan: Awan thèklèk, mbengi lèmèk. Terjemahannya secara harfiah lebih kurang berarti "Siang hari sebagai alas kaki, malam hari sebagai alas tidur." Kita pun lebih sering mendengar ungkapan konco wingking, yang berarti mahluk yang hanya berada di belakang. Tidak pernah berada di depan sebab itu hanya posisi laki-laki atau sang suami. Budayawan dan sastrawan Umar Kayam menceritakan dengan baik kisah perempuan Jawa sebagai konco wingking dalam novelnya Para Priyai.
Lain lagi di masyarakat Batak. Di sini ada ungkapan parsonduk bolon atau partalaga. Parsonduk bolon berarti sendok besar, yang menunjuk pada peran perempuan yang menyendokkan nasi, menyediakan makan buat keluarga. Partalaga sendiri mengandung makna duduk dekat tungku dapur, yang berarti siap melayani.
Di Bengkulu, di masyarakat di mana saya dilahirkan dan mengenyam nilai-nilai sosial sekitar sejak lahir hingga masa remaja, ada pula ungkapan yang bermakna sama. Istri dikenal sebagai "orang rumah" yang memiliki pengertian mahluk yang hanya di rumah, melayani suami, mengurus anak-anak dan tidak memiliki akses yang baik terhadap dunia luar.
Ketika bertemu dengan teman-teman lama dari Bengkulu, saya sering mendapat pertanyaan, "orang rumah apo kegiatannyo?" atau "orang rumah kerjo dimano?". Terus terang, saya agak terganggu dengan pertanyaan ini, meski ia sulit dihilangkan sebab sudah menjadi budaya yang melekat dalam alam bawah sadar siapa saja yang sudah sekian lama menyerapnya. Meski demikian, baik ungkapan konco wingking, parsonduk bolon atau partalaga, apalagi "orang rumah" bukanlah sesuatu yang tak dapat dirubah bahkan dihilangkan demi lebih menghargai perempuan.
Dalam satu tulisan di the Jakarta Post (JP) tahun lalu (saya tak berhasil melacaknya di dokumen imel komputer), menceritakan bagaimana seorang lelaki mengasuh anak sementara istri sibuk bekerja. Istri memang memiliki kesibukan yang lebih daripada suami. Namun suami tidak pernah merasa terbebani ketika mengerjakan pekerjaan-pekerjaan domestik seperti memasak, mengasuh anak, bahkan mencuci pakaian.
Cerita mengenai suami melakukan pekerjaan domestik bukanlah hal baru bagi saya. Sejak kecil saya perhatikan bagaimana bapak bisa memasak. Saat mak (ibu) pulang ke dusun di Bengkulu selatan sana, ia bahkan mencuci pakaian kami. Waktu itu kami anak-anaknya masih kecil-kecil dan adik saya yang bungsu belum lagi lahir. Kami lima bersaudara dan yang bungsu lahir di tahun '85. Juga, sejak kecil saya terbiasa membantu orang tua mencuci piring, mencuci pakaian, menggosok (menyetrika), menemani mak memasak, bahkan membersihkan rumah. Pun, saya perhatikan tetangga kami biasa melakukan itu semua. Karena itulah, artikel di JP yang kalau tidak keliru ditulis oleh Julia Suryakusuma--sekali lagi--bukanlah hal baru.
Kembali ke soal "orang rumah". Saya merasakan betul hebatnya istri saya mengasuh anak kami. Metode parenting yang begitu bagus ia tunjukan sebagai bukti ia seorang guru profesional hampir sepuluh tahun terakhir yang bekerja untuk sekolah mahal meski gajinya kecil. Ia juga berpenghasilan yang sama dengan penghasilan saya bekerja. Dalam keagamaan, ilmu agamanya jauh lebih baik daripada saya sebab ia jebolan pesantren yang cukup disegani di selatan kota Solo. Ibadahnya lebih tekun. Saya menimba banyak hal dari dia. Ketidakpandaiannya memasak sesuai selera saya sebagai orang Sumatera tidaklah dapat membuat saya meremehkannya begitu saja. Ia adalah perempuan yang selain istri juga merupakan teman yang begitu baik. Lantas, pantaskah ia disebut "orang rumah"?
Saya yakin, bahkan di Bengkulu sendiri perempuan yang bekerja tidaklah sedikit. Kalaupun di rumah, cukup banyak dari mereka mengenyam pendidikan tinggi namun memilih di rumah untuk, misalnya, berkonsentrasi pada perkembangan anaknya. Ada pula perempuan lebih sering di rumah namun dengan bantuan teknologi internet menyebabkan mereka memiliki jaringan yang luas di luar sana. Berdagang secara online, misalnya. Apakah mereka masih pantas kita sebut sebagai "orang rumah"?
Ah, sayo rindu mak di Bengkulu.
Mempertahankan bahasa (Bengkulu)
Oleh: Yansen
Ketika berkenalan dengan seorang dari Zambia, Afrika, karena mengetahui saya dari Indonesia, ia kemudian bertanya, “Do you speak Dutch?” “No, why should I speak Dutch” saya jawab. “I speak Bahasa,” saya tambahkan lagi. Loh, kan Indonesia dijajah Belanda ratusan tahun, kok Bahasa Belanda tidak menjadi Bahasa nasional. “Itulah hebatnya Indonesia,” saya berbangga. “Sisa-sisa kolonialisme sudah kami buang semua. Kami tak ingin punya keterikatan dengan bangsa yang pernah menjajah kami,” tegas saya lagi.
Memang persoalan bahasa seperti ini jadi 'agak' aneh di Benua Afrika. Sejarah kolonialisme masih meninggalkan bekas, paling tidak bahasa. Banyak negara jajahan Inggris, semisal Afrika Selatan, Zimbabwe dan Zambia, menjadikan Bahasa Inggris sebagai bahasa resmi. Jajahan Perancis, semacam Pantai Gading dan Mali, menjadikan Bahasa Perancis sebagai bahasa kenegaraan. Atau Mozambique yang berbahasa Portugis. Sebagian lagi di Afrika bagian utara berbahasa Arab sebagai imbas dari perluasan kekhalifahan Islam abad pertengahan.
Ketika merdeka, Timor Leste juga mengalami masalah bahasa yang pelik. Ketika mereka menjadikan Bahasa Portugis sebagai bahasa resmi, masalah tak selesai begitu saja. Waktu menjadi bagian dari Indonesia, sebagian besar generasi muda mereka tak mengenal lagi Bahasa Portugis yang dikuasai oleh orang-orang seangkatan Ramos Horta. Alhasil, dokumen resmi di Timor Leste, saat ini dibuat dalam 4 bahasa: Tetum, Indonesia, Portugis dan Inggris.
Ternyata bahasa bisa saling membunuh. Globalisasi bahasa ditenggarai menjadi ancaman bahasa-bahasa lokal. Hasil riset menunjukkan ada banyak bahasa lokal dunia yang telah punah atau terancam punah. Bahasa Indonesia pun tak terhindari juga melakukannya. Ada banyak bahasa daerah yang terancam punah, terutama yang digunakan hanya oleh komunitas kecil.
Bengkulu pun tak urung juga setidaknya mengalami masalah serupa. Kita beruntung memiliki Bahasa Melayu Bengkulu, yang entah bagaimana asalnya dipakai sebagai lingua franca secara umum di provinsi ini. Namun tak urung lingua franca lokal ini juga sedikit banyak mempengaruhi eksistensi bahasa-bahasa lokal lainnya. Kepahiang dan Curup, misalnya, yang sebenarnya merupakan salah satu Kota Rejang tak menjadikan Bahasa Rejang sebagai bahasa percakapan ‘pasaran’.
Mungkin ini terlalu menggeneralisasi keadaan. Namun, saya yakin ada pergeseran-pergeseran yang tak mungkin terhindari. Ini kemudian berimbas pada kemampuan generasi selanjutnya mewarisi kekayaan khazanah intelektual kebahasaan yang dimiliki suku tertentu.
Akulturasi budaya memang hal yang tak terhindari. Pernikahan dua orang dari suku dengan dua bahasa berbeda saja melahirkan kompromi terhadap ‘bahasa resmi’ yang akan dipakai dalam komunikasi keluarga. Keluarga saya mengalami hal seperti ini. Bak yang Rejang dan Mak yang dari Suku Serawai sepertinya membutuhkan komitmen tertentu dalam berbahasa. Namun, apakah sebuah keputusan yang dibicarakan atau hanya bersifat alami, akhirnya Bak dan Mak memutuskan membuat variasi. Dari enam anaknya, tiga yang tertua berbahasa Rejang sebagai bahasa pengantar komunikasi di rumah. Sedangkan tiga yang kecil, termasuk saya, menggunakan ‘Bahasa Bengkulu pasaran’ sebagai pengantar berkomunikasi dengan orang tua.
Saya bisa berbahasa Rejang sangat lancar, demikian juga Bahasa Serawai. Namun, entah mengapa, saya merasa ‘kadar ke-Rejang-an’ saya tidaklah seperti tiga kakak tertua saya yang memang berbahasa Rejang sebagai pengantar. ‘Kadar ke-Serawai-an’ kami pun cuma terasa ketika berkumpul dengan saudara dari pihak ibu.
Disini saya menyetujui hipotesis bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, namun lebih jauh lagi ia adalah identitas. Bahasa menunjukkan struktur pikiran masyarakat dan perkembangan peradaban masyarakat itu sendiri. Ketika saya tak diajak berkomunikasi dalam Bahasa Rejang oleh bapak, maka sesungguhnya ‘identitas ke-Rejang-an’ juga tak menurun alami dan total ke diri saya. Jika menginginkan identitas tersebut, saya harus menemukannya sendiri. Inilah juga yang saya simpulkan ketika mendengarkan Puan Maharani, putri Megawati, yang mencoba ber-ambo-ambo ketika berkampanye untuk ibunya di tahun 2004. Tapi, rasanya kok kurang membumi ke-Bengkulu-annya.
Ini pun bukan hanya masalah internal, tapi juga eksternal. Secara subjektif, komunitas saudara Rejang saya lebih mengakui ke-Rejang-an kakak saya daripada saya. Memang tak secara langsung, namun dapat dirasakan, walaupun saya berbahasa Rejang dengan mereka. Namun, ada sisi positifnya: perasaan entitas Bengkulu sebagai sebuah agregat bisa lebih dimaknai.
Maka, perjuangan menyelamatkan bahasa-bahasa lokal, menurut saya, bukanlah sebuah perjuangan sederhana. Lebih jaub dari itu, ini merupakan perjuangan penyelamatan identitas. Penurunan bahasa-bahasa suku setidaknya merupakan bagian penting dari pengikatan secara maknawi generasi selanjutnya. Walaupun, ditengah-tengah arus globalisasi saat ini, seakan terasa 'jadul' (out of dated) menurunkan bahasa primordial kepada anak. Namun itulah tantangannya: menjadi warga Indonesia dan dunia tanpa kehilangan akar primordial.
Ini hanya sebuah pandangan subjektif, termasuk pilihan menggunakan Bahasa Indonesia, bukan Malayu Bengkulu, sebagai pengantar posting. Cak mano kecek sanak galonyo?
Namang
oleh: Herman
Nama adalah doa. Demikian Islam mengajarkan umatnya untuk memberikan nama yang baik pada anak yang baru lahir. Dengan nama yang baik itu, orang tua dan siapapun yang memanggil, telah mendoakan kebaikan bagi sang anak sesuai dengan namanya. Sebagai contoh, nama Yusuf, merupakan nama yang diberikan oleh orang tua untuk anaknya dengan harapan si anak kelak akan saleh seperti nabi Yusuf. Tak hanya itu, kalau perlu secara fisik si anak akan tampan seperti salah satu dari 25 orang nabi dan rasul yang terkenal itu.
Orang Kaur, daerah paling selatan propinsi Bengkulu, hampir seratus persen merupakan pemeluk agama Islam. Mungkin karena orang di sepanjang pulau Sumatera merupakan bagian dari rumpun besar bangsa Melayu yang budayanya dipengaruhi Islam secara kental, sebab penyebaran Islam di tanah Sumatera bergerak dari Pasai si sebelah paling Utara (Aceh) hingga paling selatan (Lampung).Selain menentukan nama sesuai dengan ajaran Islam, sebelum anak lahir, orang tua telah memikirkan kepada siapa si anak kelak akan memanggil Tamang atau "namang".
Tamang adalah panggilan seorang cucu laki-laki kepada kakeknya. Kepada neneknya, sang cucu memanggil "Bini". Sebaliknya, cucu perempuan akan memanggil kakeknya dengan sebutan "Bini" dan memanggil neneknya dengan sebutan "Tamang". Panggilan ini merupakan panggilan biasa menurut aturan dalam budaya orang Kaur. "Namang" adalah adat yang lainnya. Panggilan Tamang akhirnya tidak hanya ditujukan kepada Tamang kandung.
Orang yang "di-Tamang" oleh anak yang baru lahir tetaplah harus memiliki pertalian darah dengan anak yang baru lahir. Tamangnya ini bisa merupakan saudara dari Tamang atau bini kandung.
Untuk bisa menamangkan anak kepada seseorang, maka anak yang baru lahir harus diberi nama yang memiliki minimal satu suku kata yang diambilkan dari satu suku kata orang yang ditamangkan. Misalnya, Herman, memiliki satu suku kata "Man" yang mengikatkan hubungan dengan Tamangnya yang bernama "Manaf". Manaf sendiri adalah adik kandung dari Tamang (kakek) kandung Herman dari pihak Bapak. Demikian pula dengan Midi, yang memiliki satu suku kata "Di" yang terdapat pada nama Tamangnya, yang kebetulan merupakan Tamang (kekek) kandung sendiri "Karadi".
Adat "menamangkan" sendiri memiliki tujuan penting, yakni semacam penghargaan orang tua anak yang baru lahir kepada orang yang ditamangkan. Menguatkan kembali pernyataan serta sikap bahwa diantara anak yang baru lahir dengan yang ditamangkan masih memiliki pertalian keluarga. "Namang" adalah tali pengikat dan penguatnya.
Bagi orang yang ditamangkan, ia akan merasa mendapatkan penghormatan yang lebih dari keluarga yang baru dikaruniai anak. Kadang, ada pula orang tua yang berharap supaya anak dari keponakannya yang baru lahir mau menamangkan ia. Si orang tua anak yang baru lahir pun juga tak mau dikatakan sombong tak menamangkan anaknya kepada orang tertentu. Tak jarang pula ada yang menilai ada anggota keluarganya yang tidak menamangkan keturunan mereka kepadanya karena merasa dirinya berlatar belakang ekonomi yang "kurang". Fungsi adat "namang" tetaplah untuk semakin mengikat dan menguatkan pertalian keluarga dan rasa persaudaraan.
Sebenarnya, ada pula yang mengaitkan nama anak yang namang dengan dan nama orang yang ditamang tidak dengan suku kata, namun cukup dengan hanya bunyi yang ditimbulkan dari penyebutan nama anak dan Tamangnya. Misalnya pada nama Marfendri. Ia lahir pada bulan Maret, dan namang ke Fandi, saudara dari Bini (nenek) kandungnya. Kedua nama itu tidak memiliki kesamaan suku kata sedikitpun. Keduanya hanya sama-sama memiliki bunyi "i" pada pelafalan nama mereka.
Namang langsung ke Tamang kandung merupakan hal yang langka. Namun tetap saja ada. Misalnya pada Midi. Sekarang pun, Anak ketiga Midi yang perempuan diberi nama Dhiya Shadrina (artinya: penerang hati kita), Namang kepada Tahaya. Tahaya adalah Mak (ibu) kandung Midi, yang berarti Tamang kandung bagi Dhiya.
Setelah ditamangkan, biasanya orang yang ditamangkan, istri atau suaminya, juga anak-anaknya merasa bahwa anak yang baru lahir itu adalah bagian dari keluarga inti (keluarga batih) mereka sendiri. Si Tamang dari hasil Namang ini kadangkala memiliki rasa kasing sayang yang lebih daripada Tamang kandung si anak itu sendiri. Jika memiliki harta (materi), si anak yang baru lahir ini akan mendapat "fasilitas" hidup yang baik dari "Tamang baru" beserta keluarganya itu.
Adat "Namang" ini hanya terdapat pada orang Kaur Asli, yakni mereka yang berbahasa Kaur/Bintuhan. Secara geografis, letak tempat tinggalnya mulai dari paling Utara adalah daerah Nusuk, Hawat Mate, atau daerah Kinal, yang berbatasan dengan Kecamatan Kaur Utara (yang lebih dikenal dengan Padang Guci) hingga daerah Way Hawang, daerah paling ujung Selatan, yang merupakan wilayah perbatasan Propinsi Bengkulu dengan propinsi Lampung.
Keterangan:
Foto "Tunggu(k)an" berasal dari blog Vibriyanti. Tunggu(k)an adalah kayu bakar dalam bahasa Kaur. Seperti tampak pada foto, dikumpulkan untuk kemudian di bawa ke dapur guna memasak.
Mandala di langit Bengkulu
oleh: Neng Dalil
Mandala airlines, salah satu maskapai penerbangan tertua di Indonesia akan membuka jalur penerbangan Jakarta - Bengkulu - Jakarta mulai tanggal 21 September 2008. Maskapai ini mencoba ikut meramaikan lalu lintas udara setelah Kartika Air, Lion Air, Sriwijaya Air,dan Batavia Air telah mendahului membuka jalur penerbangan ke Bengkulu.
Meski penerbangan akan dimulai 21 September, penjualan tiket Mandala telah dimulai sejak awal bulan ini. Untuk pengangkutan penumpang mudik lebaran, mulai dari penerbangan pertama sampai 25 September dengan rute Jakarta - Bengkulu telah habis terjual.
Mandala Air menggunakan pesawat jenis Airbus seri A319 dengan muatan yang lebih banyak dibanding dengan pesawat jenis Boeing yang biasa digunakan oleh maskapai lain yang berlabuh di bandara Fatmawati Bengkulu.
Tiket yang dikeluarkan Mandala Air berupa electronic ticket. Anda yang ingin menjajal pesawat Airbus dapat memesan tiket Mandala untuk melakukan perjalanan dari dan ke Bengkulu.
Rantau
Oleh: Yansen
Mungkin kita kadang berpikir mengapa Bengkulu tak terkenal. Walaupun popularitas itu relatif, tapi saya yakin satu dua kita pernah bertemu orang-orang yang bertanya dimana Bengkulu. Atau, apa ciri khas Bengkulu yang dapat diperkenalkan dengan orang luar, seperti yang menjadi diskusi di milist kita ini baru-baru lalu. Tapi, pentingkah menjadi terkenal? Mungkin.
Namun tak perlu kecil hati, saking luasnya negara ini, kita pun kalau ditanya daerah Indonesia yang lain belum tentu tahu. Kita tahu Majene, misalnya, karena kecelakaan Adam Air tahun lalu. Tanpa ada kejadian itu, kita rasanya tak akan kenal. Lalu, kita pun jadi tahu bahwa ada propinsi baru yang namanya Sulawesi Barat, dimana Majene berada. Bengkulu diingat orang karena ada gempa bumi. Namun, ingatan ini tak berjangka lama, dan seringkali tak positif. Mungkin nama-nama propinsi yang berasosiasi dengan nama pulau lebih mudah diingat. Jadi, karena propinsi kita tak berasosiasi dengan Sumatera, orang jadi tak mudah ingat. Tak apalah. Atau, dalam konteks yang lebih luas, saya baru saja tahu ada negara yang bernama Tuvalu, Tokelau, Wallis & Futuna, dan Solomon Island misalnya. Ya, mereka adalah tetangga pasifik kita. Ada juga Maldives Island di Lautan Hindia, tak sekalipun terdengar namanya. Seorang teman lalu berkata, Maldives itu Bahasa Indonesianya Maladewa.
Saya jadi tersentak, Pelajaran Geografi sebenarnya pelajaran yang penting. Dalam konteks kenegaraan, pelajaran ini sebenarnya sangat menunjang semangat cinta tanah air dan memunculkan wawasan kebangsaan. Kalau Benedict Anderson mengatakan bahwa masyarakat bangsa adalah “komunitas imajiner.” Sebagai peneliti nasionalisme di Asia Tenggara, Ben Anderson mengatakan bahwa basis utama nasionalisme adalah “perasaan bersaudara yang diimajinasikan.” Karena ini imajinasi, maka ia harus terus dipelihara. Saya membaca buku Komunitas Imajiner Ben Anderson ini ketika masih kuliah di UNIB, tanpa meresapi secara mendalam maknanya. Namun setelah bertemu dengan saudara-saudara setanah air di perantauan, saya lebih merasa sebagai orang Indonesia. Imajinasi saya terbangun menjadi realitas bahwa saya yang Sumatera memang bersaudara dengan orang Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan yang lainnya, bahkan dengan orang Papua. Bahkan, ketika bertemu seorang aktivis Papua merdeka, saya masih merasa ia adalah saudara saya. Walaupun saya merasakan pancaran kekecewaan sekaligus kemarahan di matanya. Sepertinya ia tak begitu merasa bersaudara dengan saya.
Kembali ke keterkenalan tadi. Kalau kita ambil contoh di Sumatera, maka Sumatera Barat dan Sumatera Utara mungkin paling terkenal. Tapi, apa sebabnya. Mungkin kita akan menjawab warung makan Padang ada dimana-mana. Atau, di setiap kantor pengacara, institusi kejaksaan dan kehakiman pasti ada orang Bataknya. Tentu jawaban ini tak salah. Tapi, mengapa ada orang Minang dan Batak ada dimana-mana? Tentu karena mereka adalah para perantau ulung.
Ternyata disinilah kuncinya kalau menurut saya. Para perantau secara tak langsung merupakan aset daerah yang tak ternilai. Tentu kita tak perlu menyebutkan ratusan orang minang yang telah merantau dari sejak pra-kemerdekaan. Akhirnya mereka pun menjadi tokoh nasional dalam semua bidang: politik, ekonomi, sastra, maupun ilmuwan. Demikian juga orang Batak. Tak lengkap rasanya menceritakan periode sastra Indonesia tanpa memasukkan berpuluh-puluh orang dengan marga Batak. Mengagumkan memang.
Karena itu, saya melihat semangat teman-teman di milist blogger Bengkulu, dimana sebagiannya adalah perantau, merupakan hal yang sangat positif. Teruslah berkarya. Keberhasilan teman-teman semua, langsung tak langsung akan berdampak pada Bunda Bengkulu yang menjadi garis takdir kita. Namun, juga harus diacungkan jempol untuk teman-teman yang menetap dan berkiprah di Bengkulu.
Ke-Bengkulu-an mungkin bisa kita jadikan semangat kemajuan. Dan tentu saja spirit ini tak hanya terbatas Bengkulu sebagai tempat kelahiran atau tumbuh berkembang, tapi lebih luas dari itu. Ke-Bengkulu-an adalah ikatan nilai bagi siapa saja yang berkeinginan untuk bersumbangsih dan berbuat untuk kemajuan daerah ini.
Cak mano kecek sanak galonyo?
Kalau kentut, dicukik
oleh: Herman
SEKITAR tahun 1988, Bak (bapak) membawa kami pindah domisili ke Tanjung Jaya, sebuah desa yang terletak di pinggiran kota Bengkulu. Disini saya rasakan bahasa sehari-hari yang berbeda yang digunakan masyarakatnya jika dibandingkan dengan kebiasaan kami menggunakan bahasa campur-campur dari daerah Bengkulu bagian selatan. Sebelumnya, kami biasa menggunakan bahasa Alas/Talo, Manna, atau lebih sering bahasa Kaur. Di daerah Tanjung Jaya dan sekitarnya benar-benar memiliki bahasa yang sama sekali baru untuk kami saat itu. Yansen Toha, seorang dosen Universitas Bengkulu yang saat ini sedang menyelesaikan sekolah di Australia membuat saya mengetahui kalau ternyata daerah Tanjung Jaya, Tanjung Agung, Semarang, Surabaya, Dusun Besar, hingga desa Pekan Sabtu dan sekitarnya adalah daerah suku Lembak. Masyarakat di sini memiliki kebudayaan yang agak berbeda dengan suku-suku lain di propinsi Bengkulu.
Saat pindah sekolah ke sebuah SMP di daerah desa Semarang, baru beberapa hari di sana kakak saya membawa pulang sebuah pengalaman yang lucu. Ia ceritakan, di sekolahnya ada anak yang dicukik (Cukik: Jitak) beramai-ramai oleh teman-teman di sekelilingnya. "Kasihan sekali ia," pikir kakak saya. Anak-anak yang menghajarnya dengan buku jari tengah yang tulangnya begitu menyakitkan kepala itu baru berhenti setelah si anak bersiul. Kok bisa? Ternyata, anak yang dicukik itu tadinya kentut. Setelah ketahuan, teman-temannya men-cukik secara beramai-ramai.
Ada kebiasaan di sini, kalau ada yang kentut, maka ia akan dicukik. Rasanya tentu sakit sekali. Sejak tahu itu, saya berusaha untuk tidak ketahuan kalau sedang atau ingin kentut. Mungkin maksudnya berkaitan dengan sopan santun saja. Kentut di tengah-tengah orang banyak tentulah tidak sopan. Entah itu menghasilkan bau yang tidak sedap ataupun suaranya yang tidak enak didengar sebab suara berasal dari "bagian bawah".
Saya tidak tahu apakah kebiasaan yang saya jumpai sekitar 20 tahun lalu itu masih ada atau tidak di masyarakat sini. Juga, apakah mencukik orang yang kentut berlaku untuk semua lapisan usia, ataukah di kalangan anak dan remaja saja. Saya tidak bisa membayangkan kalau orang-orang tua yang tengah berkumpul dalam satu hajatan, lalu salah seorang di antaranya kentut, dan akhirnya dicukik beramai-ramai oleh orang di sekelilingnya.
Tari Penyambutan Suku Rejang
The traditional welcoming dance of Rejang Tribe
oleh: Tanah Rejang
Present to celebrate the Adipura arrival in Tempel Rejo Village, as border line Rejang-Lebong district and Kepahiang district. Photo by Arga 07-06-2008Berikut rekaman tari penyambutan di even yang berbeda oleh sanggar Dulang Mas kabupaten Rejang-Lebong
Tari Penyambutan di Inspirasi Tari Kejai yang sakral dan Agung di Tanah Rejang
Tari Penyambutan adalah Tari Kreasi Baru yang diatur sedekat mungkin dengan Tari Kejai. Terinspirasi oleh tari Kejai karena Suku Rejang sendiri jaman dahulu tidak mempunyai Tari Penyambutan, di jaman dahulu penyambutan tamu dilakukan dengan upacara adat. Tari Kejai adalah tarian sakral dan agung, sehingga sangat pantas untuk di persembahkan untuk Penyambutan Tamu, seperti Pejabat Tinggi Negara, Menteri, Bupati yang berkunjung ke Tanah Rejang, atau pada even-even lain yang bersifat ceremonial, seperti pada acara penyambutan piala Adipura yang tiba di Kota Curup tanggal 7 juni lalu.
Jumlah Penari
Jumlah penari tidak dibatasi,sesuai dengan tempat,bisa putra bisa pula putri, bisa juga berpasangan. Di Rejang Lembak Tari Penyambutan disebut Tari Kurak, namun dalam pembahasan disepakati menggunakan Tari Penyambutan yang telah dibakukan.
Musik yang mengiringi Tari Penyambutan
Di inspirasi oleh tarian sakral dari Tanah Rejang, musik dan alat musik Tari Penyambutan memakai alat musik khas tradisional Suku Rejang, yaitu gong dan kalintang, yang dari jaman dahulu kala di pakai pada musik pengiring tarian sakral dan agung Suku Rejang yaitu Tari Kejai.
Pada umumnya dipakai irama lagu Lalan belek dan Tebo Kabeak.
Gerakan Sembah (Penghormatan):
1. Sembah Tari : Tangan diangkat diatas bahu
2. Sembah Tamu : Tangan diangkat diatas dada
3. Penyerah Siri setengah jongkok dan setengah berdiri pada saat berada diluar rumah
4. Khusus busana yang menyerahkan siri ( wanita ) mengenakan pakaian / baju kurung / renda penutup dada
Baca selengkapnya....
Pendaftaran Mailing List Blogger Bengkulu
Saat ini, ada banyak blog yang isinya bercerita tentang Bengkulu. Daftar yang ada di sidebar blog ini hanya beberapa diantaranya. Blog-blog itu menggunakan layanan blog engine gratisan seperti Multiply, blogger (blogspot), atau wordpress. Ada juga beberapa yang hosting sendiri. Blog-blog ini merupakan media informasi yang memiliki jangkauan yang lebih luas serta pembaca yang lebih beragam daripada media konvensional. Inilah alternatif sumber informasi bagi mereka yang ingin mengetahui kabar Bengkulu.
Blog Simpang mencoba memfasilitasi blogger Bengkulu untuk berbagi informasi dan berdiskusi dalam sebuah mailing list "Blogger Bengkulu". Selama ini, diantara blogger hanya saling merespon lewat lembar komentar pada setiap posting di blog lainnya. Atau, yang paling mudah adalah dengan menuliskan pesan di shoutbox yang terpasang di blog. Seringkali, ada banyak hal yang bisa didiskusikan secara lebih serius dan tentunya tidak cukup di dalam lembar komentar karena tentunya belum terbiasa. Atau lebih parahnya, ada komentar panjang lebar tentang sebuah posting di dalam shoutbox. Kenapa tidak mendiskusikannya dalam sebuah mailing list?
Jika Anda blogger asal Bengkulu dan tertarik untuk berdiskusi tentang Bengkulu, kami mengundang Anda untuk bergabung di dalam mailing list ini. Caranya dengan mengirim imel ke admin di simpanglimo@gmail.com. Atau Anda bisa mendaftar kesini. Karena mailing list ini bersifat tertutup, maka sebaiknya menggunakan cara pertama. Syaratnya sederhana, Anda harus memiliki sebuah blog, sebab karenanya Anda disebut sebagai "Blogger".
Asrama Pelajar Bengkulu di Jogja dinilai Liar
Saya minta maaf memposting artikel ini, karena saya beranggapan semoga Simpang Limo bisa jadi penghubung, atau mungkin ada pejabat Bengkulu yang berwenang yang membaca artikel ini bisa mengambil solusi yang terbaik.
Menuntut ilmu dan merantau, adalah hal penting yang harus kita galakkan, tapi ternyata anak-anak yang membawa nama Bengkulu tetap saja tidak menjaga nama baik daerah yang dibawanya, saya sangat prihatin sekali sampai-sampai hal ini dibawa ke media forum jogja, yang membaca akan melahirkan image yang sangat negatif terhadap orang-orang Bengkulu, dimana kenyataannya saat ini tidak banyak anak-anak terutama pelajar Bengkulu diperhitungkan di tanah rantau karena ulah komunitas kita sendiri.
Sanak-sanak disilakan baca di forum diskusi ini tentang Asrama Liar mahasiswa Bengkulu, semoga bisa cepat diselesaikan.
Alamat forum, Asrama mahasiswa bengkulu liar berada di bawah ini, ini adalah web yang sangat populer terutama di Jogjakarta, pasti sudah banyak sekali yang membaca, tapi mereka hanya diam saja karena merasa bukan orang Bengkulu! Dan nama Bengkulu makin coreng-morenglah di perantauan. Mengenai masalah ini, silahkan baca disini.
Himbauan untuk sanak-sanak di rantau, bila membawa nama daerah tolong dijaga baik-baik. Kalau tidak bisa menjaganya, mending bawa nama personal saja.
Baca selengkapnya....
Petisi Menolak Pembongkaran
oleh: Herman
Saya coba merespon komentar dari Geulugoo pada posting "Heritage Bengkulu Dalam Ancaman", baik yang ada pada kolom komentar posting di blog Simpang Limo Bengkulu maupun yang ada pada Shout Box di sana.
Saya pikir tidak ada salahnya kalau kita mau melayangkan petisi penolakan pembongkaran Monumen Thomas Parr. Pertama, monumen ini merupakan situs yang menyangkut sejarah perjuangan rakyat Bengkulu terhadap penjajahan Inggris awal abad ke-19. Bukankah bangsa yang besar adalah bangsa yang mau menghargai perjuangan para pahlawannya? Kedua, situs ini merupakan simbol perlawanan pada kesewenang-wenangan manusia pada sesama yang harus lenyap dari muka bumi. Penjajahan, dalam bentuk apapun adanya, merupakan pelanggaran pada kemanusiaan. Ketiga, ia merupakan aset wisata yang patut dilestarikan.
Pengajuan petisi adalah salah satu cara menyalurkan aspirasi. Contoh terdekat yang saya ikut terlibat adalah Petisi Menolak Roy Suryo, yang beberapa waktu lalu menuduh Blogger Indonesia berada di balik pembobolan celah keamanan beberapa website lembaga pemerintah dan salah satu organisasi partai politik di tanah air. Pada Petisi itu disebutkan siapa saja blogger yang ikut (tentu saja dengan nama jelas), juga alamat blognya (disebut blogger tentunya karena memiliki blog, kan?). Untuk kasus Rencana Pembongkaran monumen Thomas Parr, saya pikir bisa mempertimbangkan beberapa hal sebelum mengajukan petisi. Pertama, jika ini memang akan menamakan suara blogger Bengkulu, ada berapa blogger yang merupakan orang Bengkulu sendiri? Menurut saya, karena sedikit jumlahnya, maka akan lebih baik kalau menyatakan diri sebagai blogger Bengkulu yang didukung oleh blogger Indonesia.
Kedua, seingat saya ada kelompok pecinta situs-situs bersejarah yang sangat membenci kebijakan pemerintah yang membongkari situs-situ itu. Padahal banyak diantara situs itu nilai sejarahnya akan lenyap begitu saja ketika diganti dengan bangunan yang baru. Pembongkaran situs bersejarah, meski saya tidak tahu persisnya, pernah terjadi di Yogyakarta untuk rumah-rumah di kawasan Kotabaru, serta Jakarta Kota di daerah Glodok dan sekitarnya (maaf, data persisnya perlu ditelusuri kembali, dan saya akan sangat berterima kasih kalau ada yang membantu memberi informasi lengkap mengenai ini). Kebijakan pembongkaran oleh pemerintah sesungguhnya lebih banyak dilatari oleh kepentingan ekonomi pihak tertentu. Untuk itulah, Petisi menolak pembongkaran monumen Thomas Parr harus pula mendapatkan dukungan dari kelompok pecinta situs-situs peninggalan sejarah itu.
Ada pula mailing-list LISI (Lingkar Ilmuan Sosial Indonesia). Terdapat banyak ilmuan sosial terkenal di Indonesia yang ikut di dalam mailing-list ini. Mungkin akan lebih baik kalau ada diantara mereka yang bisa memberikan pendapatnya tentang masalah pembongakaran situs-situs bersejarah dan bagaimana dampaknya bagi masyarakat kita. Tentunya perspektif ilmuan sosial perlu pula menjadi pertimbangan bagi kita sebelum mengajukan Petisi.
Ketiga, seperti komentar Geulugoo di blog Simpang Limo, sangat penting mengajak para tetua, pemuka masyarakat, dan petinggi adat di Bengkulu untuk bersama-sama mengajukan petisi. Tak lupa pula mengajak siapapun yang mau ikut bergabung, terutama tenaga pengajar (guru, dosen), mahasiswa dan pelajar, tokoh pemuda, juga perkumpulan masyarakat adat seperti Yayasan Lembak Bengkulu. Semakin banyak yang ikut mengajukan petisi, maka akan semakin kuat petisi ini untuk mendapat perhatian dari Pemerintah dan masyarakat luas.
Orang Rejang (tun jang) yang memposting masalah ini di blog Simpang Limo, juga teman-teman yang lain terutama yang tinggal di Bengkulu, perlu melengkapi informasi mengenai rencana pembongkaran mounumen Thomas Parr. Apa tujuan pembongkaran, apakah tidak ada cara lain yang bisa ditempuh pemerintah selain membongkar? Atas dasar apa pembongkaran ini, apakah SK Gubernur, SK Walikota, atau apa? Perlu juga memaparkan perdebatan mengenai masalah ini dari isi media massa lokal yang ada di Bengkulu, sudah sampai sejauh mana perdebatannya dan siapa sajakah yang terlibat dalam perdebatan? Siapa atau kelompok mana saja yang sudah menyatakan menolak rencana ini?
Bagi Anda yang membaca tulisan ini, jika ingin ikut memberikan masukan atau mendiskusikannya, silahkan tulisa di bagian komentar artikel atau kirim imel ke simpanglimo@gmail.com. Jangan lupa menyertakan nama jelas dan alamat blog atau imel Anda.
Pembaruan 28 Mei 2008:
Saya baru mendapatkan informasi dari Edi Hermanto, seorang teman yang bekerja di bagian pembangunan Pemda Kota Bengkulu. Menurutnya, Tidak ada informasi bahwa akan ada pembongkaran Monumen Thomas Parr melalui rencana pembuatan terowongan di bawah monumen itu. Memang ada rencana pembangunan terowongan dari Rumah Dinas Gubernur yang dekat dengan Monumen, dan terowongan itu akan melewati bawah tanah tempat di mana monumen berada. Terowongan itu sendiri, menurut Edi, merupakan sebuah tempat wisata bersejarah. Zaman dulu, pernah ada terongan itu, lalu sekarang hendak diperbaiki dan dijadikan tempat wisata. Kebijakan pembangunan ini berasal dari Pemda Propinsi.
Di Bengkulu sendiri, keramaian merespon pembangunan terowongan, terjadi bukan karena ada informasi pembongkaran aset sejarah itu, namun lebih karena pedagang di sekitar monumen merasa terganggu kalau pembangunan berlangsung lama. Makanya, pedagang menuntut supaya pembangunan tidak sampai mengganggu aktfitas ekonomi mereka.
Monumen Thomas Parr adalah situs bersejarah. Ia termasuk benda yang dilindungi oleh Undang-Undang No. 5 tahun 1992 tentang Benda Cagar Budaya. Tentunya adalah perbuatan "tercela" kalau pemerintah sampai merusaknya. Anda yang ingin membaca Undang-Undang mengenai Cagar Budaya itu, dapat melihatnya di sini.
Kembali ke informasi mengenai pembongkaran. Sesungguhnya, belum ada data yang detil mengenai rencana pembangunan itu. Atau paling tidak, sayalah yang belum memperolehnya. Tetapi, sejauh yang saya tahu, informasi mengenai pembongkaran Monumen Thomas Parr memang belum jelas. Tulisan Tun Jang di blog Simpang Limo mungkin perlu mendapatkan asupan informasi yang lebih baik dari pembaca sekalian. Kita selaku orang Bengkulu tentu akan sangat menyayangkan kalau pembongkaran itu betul-betul terjadi. Lebih sayang lagi kalau ada orang Bengkulu dan masyarakat luas lebih tidak peduli pada persoalan ini.



