SIMPANG LIMO BENGKULU

AvatarTempat berbagi cerita tentang Bengkulu. Berharap menjadi salah satu sumber informasi mengenai daerah ini. Selamat membaca...

Rantau

Oleh: Yansen

Mungkin kita kadang berpikir mengapa Bengkulu tak terkenal. Walaupun popularitas itu relatif, tapi saya yakin satu dua kita pernah bertemu orang-orang yang bertanya dimana Bengkulu. Atau, apa ciri khas Bengkulu yang dapat diperkenalkan dengan orang luar, seperti yang menjadi diskusi di milist kita ini baru-baru lalu. Tapi, pentingkah menjadi terkenal? Mungkin.

Namun tak perlu kecil hati, saking luasnya negara ini, kita pun kalau ditanya daerah Indonesia yang lain belum tentu tahu. Kita tahu Majene, misalnya, karena kecelakaan Adam Air tahun lalu. Tanpa ada kejadian itu, kita rasanya tak akan kenal. Lalu, kita pun jadi tahu bahwa ada propinsi baru yang namanya Sulawesi Barat, dimana Majene berada. Bengkulu diingat orang karena ada gempa bumi. Namun, ingatan ini tak berjangka lama, dan seringkali tak positif. Mungkin nama-nama propinsi yang berasosiasi dengan nama pulau lebih mudah diingat. Jadi, karena propinsi kita tak berasosiasi dengan Sumatera, orang jadi tak mudah ingat. Tak apalah. Atau, dalam konteks yang lebih luas, saya baru saja tahu ada negara yang bernama Tuvalu, Tokelau, Wallis & Futuna, dan Solomon Island misalnya. Ya, mereka adalah tetangga pasifik kita. Ada juga Maldives Island di Lautan Hindia, tak sekalipun terdengar namanya. Seorang teman lalu berkata, Maldives itu Bahasa Indonesianya Maladewa.

Saya jadi tersentak, Pelajaran Geografi sebenarnya pelajaran yang penting. Dalam konteks kenegaraan, pelajaran ini sebenarnya sangat menunjang semangat cinta tanah air dan memunculkan wawasan kebangsaan. Kalau Benedict Anderson mengatakan bahwa masyarakat bangsa adalah “komunitas imajiner.” Sebagai peneliti nasionalisme di Asia Tenggara, Ben Anderson mengatakan bahwa basis utama nasionalisme adalah “perasaan bersaudara yang diimajinasikan.” Karena ini imajinasi, maka ia harus terus dipelihara. Saya membaca buku Komunitas Imajiner Ben Anderson ini ketika masih kuliah di UNIB, tanpa meresapi secara mendalam maknanya. Namun setelah bertemu dengan saudara-saudara setanah air di perantauan, saya lebih merasa sebagai orang Indonesia. Imajinasi saya terbangun menjadi realitas bahwa saya yang Sumatera memang bersaudara dengan orang Jawa, Sulawesi, Kalimantan, dan yang lainnya, bahkan dengan orang Papua. Bahkan, ketika bertemu seorang aktivis Papua merdeka, saya masih merasa ia adalah saudara saya. Walaupun saya merasakan pancaran kekecewaan sekaligus kemarahan di matanya. Sepertinya ia tak begitu merasa bersaudara dengan saya.

Kembali ke keterkenalan tadi. Kalau kita ambil contoh di Sumatera, maka Sumatera Barat dan Sumatera Utara mungkin paling terkenal. Tapi, apa sebabnya. Mungkin kita akan menjawab warung makan Padang ada dimana-mana. Atau, di setiap kantor pengacara, institusi kejaksaan dan kehakiman pasti ada orang Bataknya. Tentu jawaban ini tak salah. Tapi, mengapa ada orang Minang dan Batak ada dimana-mana? Tentu karena mereka adalah para perantau ulung.

Ternyata disinilah kuncinya kalau menurut saya. Para perantau secara tak langsung merupakan aset daerah yang tak ternilai. Tentu kita tak perlu menyebutkan ratusan orang minang yang telah merantau dari sejak pra-kemerdekaan. Akhirnya mereka pun menjadi tokoh nasional dalam semua bidang: politik, ekonomi, sastra, maupun ilmuwan. Demikian juga orang Batak. Tak lengkap rasanya menceritakan periode sastra Indonesia tanpa memasukkan berpuluh-puluh orang dengan marga Batak. Mengagumkan memang.

Karena itu, saya melihat semangat teman-teman di milist blogger Bengkulu, dimana sebagiannya adalah perantau, merupakan hal yang sangat positif. Teruslah berkarya. Keberhasilan teman-teman semua, langsung tak langsung akan berdampak pada Bunda Bengkulu yang menjadi garis takdir kita. Namun, juga harus diacungkan jempol untuk teman-teman yang menetap dan berkiprah di Bengkulu.

Ke-Bengkulu-an mungkin bisa kita jadikan semangat kemajuan. Dan tentu saja spirit ini tak hanya terbatas Bengkulu sebagai tempat kelahiran atau tumbuh berkembang, tapi lebih luas dari itu. Ke-Bengkulu-an adalah ikatan nilai bagi siapa saja yang berkeinginan untuk bersumbangsih dan berbuat untuk kemajuan daerah ini.

Cak mano kecek sanak galonyo?

6 komentar:

Senin, Agustus 11, 2008 12:25:00 PM Suharyanto mengatakan...

Memang, Bengkulu sepertinya kalah terkenalnya dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Indonesia.Sekalipun daerah tersebut merupakan daerah baru.

Tidak terkenalnya Bengkulu bukan semata-mata "kesalahan" Bengkulu yang tidak memiliki kekhasan untuk disandingkan dengan daerah lain. Bengkulu sebenarnya sudah cukup memiliki "sesuatu" yang bisa dijual untuk dikenal oleh orang lain, seperti bunga raflesia, Benteng Marlborough, dll. Tapi Mungkin ini belum cukup menarik buat orang lain untuk mengenal Bengkulu.Hal ini bisa kita lihat dari novel Ayu Utami yang judulnya SAMAN. Di novel tersebut pengarang menggambarkan adanya bunga Raflesia, tetapi tumbuhnya di tanah melayu (semenanjung)... Prihatin sekali ketika saya membaca itu. Saya pikir orang sekaliber Ayu Utami pasti akan membaca bahwa bunga raflesia ada di Bengkulu, kenapa harus Malaysia (walaupun mungkin saja di sana tumbuh bunga tsb tapi kenapa tidak mengangkat Bengkulu-nya).. ternyata dia tidak membaca.

Adahal lain lagi cerita Bengkulu yang kurang terkenal. Orang sering bertanya Bengkulu itu dimana? Ketika di Bogor, saya pernah juga ditanya begitu. Jika yang bertanya mahasiswa atau orang terpelajar maka saya jawab "Bengkulu ada di kawasan Kalimantan". Jika yang bertanya orang awam, saya jawab dengan sejelas-jelasnya tentang Bengkulu. Menurut saya sangat bodoh seorang terpelajar tidak tahu Bengkulu. Saya dulu SMP saja sudah tahu dimana letak provinsi-provinsi di Indonesia. Jadi orang yang seperti ini adalah orang "ngesok".

Apalagi sekarang sering muncul berita tetang Bengkulu walau dalam hal bencana (gempa dan tsunami). Jadi tidak ada alasan bagi orang untuk tidak tahu Bengkulu di mana. Tapi fakta mengatakan lain,jadi masih perlu kerja keras semua pihak untuk memperkenalkan Bengkulu lebih jauh.... (http://Suharyanto.wordpress.com)

Senin, Agustus 11, 2008 3:20:00 PM Herman mengatakan...

He he he. Komandan, jangan terlalu sering menimpakan kesalahan pada pihak luar.

Dulu, sekitar 10 tahun lalu saat diskusi mengenai pemikiran Islam di Indonesia, Greg Berton yang menulis disertasi tentang Sejarah Islam Liberal di Indonesia berpendapat, pemikir-pemikir Islam di tanah air ini luar biasa bisa jadi rujukan dunia. Hanya saja tulisan mereka kebanyakan berbahasa Indonesia. Tapi kan itu dulu, saat Pak Kuntowijoyo masih hidup. Saat ini segala macam pemikiran Islam di tanah air malah sudah bisa dibaca dalam banyak bahasa dunia.

Dalam hal Bengkulu, kenapa belum begitu terkenal? Ya karena orang Bengkulu yang menulis tentang Bengkulu masih sedikit. Coba hitung, sekian banyak orang Bengkulu yang kuliah sampai ke negeri-negeri orang, ada berapa jumlah tesis atau tulisan di jurnal ilmiah yang menggambarkan Bengkulu?

Untuk yang sederhana saja, kito blogger Bengkulu ini kalau banyak menulis tentang daerah kito, insya Allah Bengkulu akan semakin dikenal. Google akan mengenali tags yang kito tulis. Jugo, jadi orang tu gaul dikit, biar kito biso mengenalkan diri sebagai orang Bengkulu.

Kawanku yang aktivis Imparsial kaget saat tahu aku orang Bengkulu. "Pantai Panjang Bengkulu itu bagus banget loh..." cak itu katonyo. Kini, tinggal kito menulis tentang selain Pantai Panjang. Biar orang tahu hal-hal lain tentang Bengkulu.

Duo pekan lalu ikutan satu diskusi bareng Ayu Utami. Biaso baelah, jangan terlalu menganggap orang secara berlebihan. Masing-masing punyo kelebihan dan kekurangan.

Kalu idak kito yang mengenalkan Bengkulu, siapo lagi?

Selasa, Agustus 12, 2008 3:08:00 PM Suharyanto mengatakan...

Benarlah, kito ni lah yang harus memperkenalkan Bengkulu. Tapi bukan berarti kita selalu menyalahkan diri sendiri terus, kasihan jugo, idak elok menyalahkan diri sendiri terus. Dan, juga bukan berarti menyalahkan pihak lain.

Apo yang saya tulis itu hanya salah satu contoh, betapa sesuatu yang menjadi simbol Bengkulu (Raflesia) saja, yang selalu didengung-dengungkan kemano-mano, eh ternyata belum juga diketahui oleh orang yang menurut saya orang besar semisal Ayu Utami. Padahal, dalam novel tersebut AYu Utami mengeksplorasi Prabumulih, Palembang dan sekitarnya. Yang menurut saya sudah sangat dekat dengan Bengkulu. Sekali lagi ini bukan untuk menyalahkan Ayu Utami atau pihak lain, apa lagi mengecilkan Ayu Utami.

Analoginya begini, coba,seandainya ada orang yang tidak tahu Monas itu dimana. Saya yakin bukan monasnya yang tidak terkenal, melainkan orang tersebut yang belum membaca. Memang, Raflesia atau Bengkulu tidaklah seterkenal Monas. Cuma untuk kalangan tertentu pasti sudah selayaknya tahu.

Tapi sayang, ternyata masih banyak yang belum tahu. Bahkan dulu (ketika gempa 2000) ada seorang menteri menyebutkan Bengkulu sebagai Kabupaten Bengkulu... cape deh....

Lagi-lagi kito memang perlu kerjo keras lagi....

Sabtu, Agustus 16, 2008 8:04:00 PM endah mengatakan...

saya sering sekali mengalami orang salah menyebutkan asal daerah saya, misalnya pas mau lebaran pasti ditanya kapan pulang ke lampung atau kapan pulang ke palembang, jarang banget ada yang ngomongnya benar (kecuali keluarga dari mertua) tapi saya dengan sabar selalu mengingatkan bahwa saya dari Bengkulu lama-lama akhirnya orang tau juga karena itu, saya pasti ngetop dimanapun berada karena orang pasti inget....ibu Endah adalah Ibu yang dari Bengkulu....

Sabtu, Agustus 16, 2008 10:21:00 PM Taneak Jang Tanah Rejang Rejang Land mengatakan...

sedikit mengkomentari, menurut saya masalahnya BUkan terkenal apa tidak, tapi di kenal apa tidak, apalagi yang banyak tak kenal ini adalah nama propinsi, bukan hanya nama sebuah kota.
Menurut pengalaman saya pribadi selama merantau, sebabnya memang Bengkulu minim publikasi ke luar, hingga sekarang. Sumatera untara, dan sumatera barat, terkenal memang dua propinsi ini paling gencar berpublikasi, bahkan sejak tahun 80 an mereka telah menerbitkan buku guide turis khusus destination dan penjelasan yang sangat detail dalam berbagai bahasa, Inggris, Belanda, German, perancis dll. Selain itu kekentalan budaya di dua propinsi ini dilestarikan dengan serius hingga hari ini. Saya pernah tinggal di ke dua prop ini, bahkan untuk sumatera utara mungkin saya tahu lebih banyak karena kebetulan ortu angkat dari Tapsel, sementara sumatera barat dahulu serings aya kunjungi karena memang sering saya menempuh jalan darat lintas tengah menuju ke sumut. Kadang mampir bermalam atau memang sengaja berlibur. Publikasi di media nasional dan Internasional bertahun tahun, buku buku yang di terbitkan, peran Pemda, Blogger, Alumni alumni dari ke dua propinsi itu, dll sangatlah membantu ingatan publik.
Turis turis yang datang juga banyak menulis kedua propinsi ini, bahkan tari perang Nias dan piring dari sumbar telah lebih 2 dekade menghias promo mereka di layar sekelas CNN, CNBC, dan asian news, bahkan pernah pula lebih setahun masuk Channel ABC. Intinya publikasi, itulah yang membuat suatu daerah di kenal.
Bila di rantau, memang banyak sekali tak tahu Bengkulu dimana, kadang saya tembak langsung, dengan menjawab dulu belajar geografi tidak, jawaban yang tidak santun memang, tapi kemudian saya memberi penjelasan secara ringkas tentang Bengkulu.
Mengenai Rafflesia Arnoldi, saat Bengkulu dengan percaya dirinya menyebutkan Bunga ini hanya tumbuh di Bengkulu di erah 80 an, silakan tengok Karyu Pos Indonesia yang terbit di awal 90an, di manakah bunga Raffledia itu di Potret, jutaan copy photo Rafflesia Arnoldi yang di Cetak ulang sebagai promowisata tidak ada satupun mewakili Bengkulu, sumatera hanya di wakili sumut, sumbar, lampung dan jambi, Nama jam bi mencuat sebagai tempat habitat Rafflesia Arnoldii karena memang di kartu pos itu bunga di Photo di propinsi Jambi di Taman Nasional Krinci Seblat, kartu post yang hanya sehelai itu cukup menghilangkan nama Bengkulu sebagai Habitat terbesar Bunga Rafflesia Arnoldii.
Saat itu gak ada inisiatip pemda Bengkulu untuk mencoba Berpromosi, gaungnya hanya di kandang saja (dlm Propinsi), padahal nyata nyata logo rafflesia ada di lambang kabupaten dan propinsi. Nama Jambi sangat terkenal di dunia hampir dua dekade setelah sumatera barat, lampung dan aceh sebagai habitat rafflesia, lah hingga sekarang saja, saya pribadi lebih gampang menemukan photo photo Rafflesia arnoldii dari luar propinsi Bengkulu, sementara dari Bengkulu hanya segelintir Blogger yang mulai memasukkan nya ke blog. Minim publikasi bukan?
Saat saya kuliah, saya banyak berbaur dengan mahasiswa asal semenanjung malaya dan bbrp dari singapura, mereka lebih banyak mengenal bengkulu, karena sejarah negeri mereka, terutama peristiwa traktat london. Anak anak malaysia dan singapura tahu letak bengkulen dimana, dan bbrp sejarah bengkulu di jaman inggris, kesimpulannya, pendidikan sejarah di dua negara ini cukup membuat ingatan orang orang tentang bengkulu, walau yang di ingat adalah bengkulen.
Bicara tabot, untuk sekarang sudah bagus promosi besarnya, tapi melihat traffik kunjungan wisatawan luar, apakah pesta tabot Bengkulu bisa menandingi pesta Tabuik sumbar? ada data statistiknya gak buat tahun lalu?
Menurut saya, agar jadi di kenal adalah, publikasi yang berulang ulang, semakin sering kata Bengkulu di sebut semakin sering orang ingat, semakin banyak media yang berperan, makin banyak orang ingin tahu.
Masa sih, sejarah bengkulu sumbernya banyak di luar, terus letak bengkulu yang benar juga banyak di kenal oleh warga negara asing yang berkunjung ke Indonesia? Mereka tahu karena mereka membaca. Media blogger salah satu jalan buat kita kita ini berinteraksi dan berinisiatip mengenalkan Bengkulu dengan isinya.
Ada hal yang pernah saya alami, begitu orang thailand dan manila berkenalan dengan saya, begitu saya menyebut nama bengkulu, mereka langsung mengalihkan obrolah tentang singapura, karena mereka kira saya dari S pore, Nama hotel, jalan jalan, restoran yang terkenal dengan nama Bengkulu memenag ada di Singapura. nah loh, bila ada yang bertanya, bangkulu ada dimana? di sumatera atau singapura yah hehhehehhehe

Senin, September 08, 2008 3:08:00 AM ade ferianty mengatakan...

setuju dengan Taneak Jang: bukan terkenal-nya tp dikenal atau tidak. seperti pengalamannya Endah juga, dari sekian kalinya saya ditanya teman2 (sewaktu kuliah di jogja: kapan mudik?) mungkin 90% nanyanya salah: 'kapan mudik ke lampung? atau kapan mudik ke palembang?
Dan setiap kali juga saya menjelaskan: bukan lampung, bukan palembang, tp BENGKULU.
Dulu sering bete, apalagi kalo ada yg nanya: bengkulu tu di sulawesi ya? :( aku balik nanya: gak pernah belajar geografi atau sejarah ya? ternyata...memang Begkulu itu TDK BANYAK tercatat (baik di buku/ catatn sejarah formal yg diajarkan di sekolah2, maupun catatan2 kontemporer/ etnografis seperti yg kita lakukan di blog2).


Waktu ke perpus beberapa waktu yg lalu, nyari2 buku ttg bengkulu: ada, tp cuma beberapa buah, dan itupun sudah tahun lama banget.
Liat buku ttg sulses (bugis-makassar) kok ada banyak? dan lebih up to date?
jadi ngiri...
Ya, tdk menyalahkan siapa2 sih... karena sebagai orang bengkulu sendiri aku blm berbuat banak untuk lebih 'mengenalkan bengkulu' ke orang2 luar bengkulu.
mudah2an blog ini bisa sedikit menambah catatan ttg bengkulu.

salam,
ade

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar, tetapi yang relevan dengan posting yang ingin Anda komentari. Jangan pernah menjadikan ruang komentar ini untuk beriklan.

 

Mailing List Blogger Bengkulu

Sebelum mendaftar, silahkan membaca dulu persyaratannya di sini.