SIMPANG LIMO BENGKULU

AvatarTempat berbagi cerita tentang Bengkulu. Berharap menjadi salah satu sumber informasi mengenai daerah ini. Selamat membaca...

Filosofi Hidup Orang Bengkulu

oleh: Herman


Orang Bengkulu asli, terutama di kota Bengkulu, memiliki filosopi hidup yang unik. Sederhana tapi juga menarik, serta mengandung pandangan hidup yang dalam. Beginilah bunyinya:

Ikan sejerek
Bere secupak
Rokok Gudang Garam sebatang
Madar...


Ikan sejerek maksudnya adalah ikan hasil tangkapan (biasanya memancing di sungai, rawa, atau di laut), diikat dengan tali wi (rotan) yang masih kecil (seukuran lidi kelapa). Ikan pertama diikat dengan salah satu ujung wi dari lubang insang dan keluar dari mulutnya. Ikan-ikan lainnya disusun dengan cara memasukkan ujung wi satu lagi dari lubang insang menembus ke mulutnya. Lalu sejerek ikan itu terlihat susunan ikan yang dibawa dengan seutas tali wi. Jerek ini sebenarnya tidak hanya menggunakan wi, namun bisa juga dengan sebuah lidi nau (aren), dahan kecil semak-semak yang ditemui atau lainnya yang bisa menjerek ikan.

Bere adalah beras. Huruf e pertama diucapkan seperti melafazkan kata "belajar" atau "senjata". Huruf e kedua berbunyi seperti kita mengucapkan kata "ekologi" atau "pepes".

Cupak adalah ukuran yang setara dengan satu setengah liter. Secupak berarti satu setengah liter.

Dahulu, Gudang Garam merupakan salah satu merek dagang rokok yang diakrabi oleh kelompok masyarakat yang perokok. Untuk itulah ia menjadi salah satu merek yang diinginkan untuk dinikmati oleh kelompok masyarakat itu.

Madar berarti istirahat. Dalam bahasa Kaur atau Bintuhan berarti tulik. Atau tidur. Tapi madar ini memiliki makna beristirahat, melepas lelah, namun betul-betul melepaskan beban hidup setelah seharian menjalani dan menikmati.

Bagi saya, filosopi hidup ini menggambarkan kesederhanaan orang Bengkulu dalam menjalani hidup. Hidup selalu mengambil segala sesuatu dari alam secukupnya, tidak melebihi dari ukuran yang menjadi kebutuhan. Ikan sejerek menggambarkan orang mengambil kekayaan alam berupa ikan hanya sekedar untuk makan sekeluarga. Sejerek ikan jamak hanya sekitar lima sampai belasan ikan ukuran sedang (tak lebih besar dari telapak tangan orang dewasa).

Untuk ukuran keluarga batih, bere secupak cukup untuk makan dua tiga hari. Maka bere sebanyak itu cukuplah untuk menjalani hidup.

Bagi perokok, makna sebatang rokok bisa merupakan ungkapan bahwa dengan hanya merokok sebatang dalam sehari sudah terasa cukup. Tidak perlu menjadi perokok berat yang menghabiskan tidak kurang dari satu bungkus setiap harinya.

Setelah mendapatkan ikan sejerek, bere secupak, dan sebatang rokok, rasanya sudah cukup pencarian rezeki hari ini. Sehingga, selanjutnya adalah madar, beristirahat, atau memanfaatkan waktu untuk bercengkrama dengan orang di sekelilingnya.

Betapa sederhananya hidup. Tidak perlu ngotot bekerja membanting tulang mati-matian serta mengeksploitasi kekayaan alam tanpa henti dan tanpa hati nurani, namun demikian hidup ini bisa begitu indah dijalani. Apa yang diperoleh segera dinikmati. Jika memang ada lebihnya, maka itu bisa disimpan untuk beberapa hari kedepan. Dengan demikian pengelolaan penghasilan juga ada, memisahkan yang untuk dinikmati hari ini serta ada pula yang perlu disimpan (saving ). Tidak ada perilaku eksploitatif di dalamnya. Tidak pula ada keserakahan. Sangat sederhana bukan?

Mungkin sebagian besar orang akan menilai orang Bengkulu yang masih memegang filosofi hidup di atas adalah manusia-manusia primitif. Bertentangan dengan kehidupan orang moderen yang serba akumulatif dalam pencapaian (terutama dalam materi), selalu memacu percepatan, serta habiskan yang ada kalau perlu sampai tandas. Persaingan adalah satu sumber energi yang luar biasa dalam upaya memperoleh sebanyak-banyaknya. Tidak peduli kanan kiri, yang ada hanya memikirkan diri sendiri. Tak ada waktu untuk membangun relasi secara lebih intim, yang ada adalah relasi kepentingan dimana orang selalu politis dalam mengembangkan pergaulan terutama untuk kepentingan ekonomi.

Wajar saja ketika angka tekanan hidup (stres) masyarakat yang disebut moderen jauh lebih tinggi daripada mereka yang dinilai berada pada arah pendulum mendekati primitif. Masyarakat moderen terasosiasikan pada kota dan masyarakat primitif terasosiasikan pada masyarakat desa. Sayangnya,keserakahan orang kota dan moderen itu telah menimbulkan dampak buruk pula pada masyarakat primitif dan desa. Pembangunan vila-vila di pegunungan telah menyebabkan banjir dan longsor, kebijakan menekan harga beras di pasaran untuk orang kota telah menyebabkan petani tak mampu memetik keuntungan bertani karena harga produksi lebih tinggi daripada harga jual, ataupun gaya hidup orang kota yang dipaksa ditiru oleh orang-orang desa lewat tayangan-tayangan televisi yang menyerbu dari ruang-ruang keluarga.

Ah... filosofi hidup itu, masih adakah yang kukuh teguh menjalankannya?


Keterangan:
Orang Bengkulu kota, terutama di pesisir pantai, mengucapkan hurup r dengan sumber suara dari pangkal tenggorokan. Orang-orang di sini menyebutnya r berkarat. Untuk lebih jelasnya, silahkan unduh (download) file contoh lafalnya disini.

4 komentar:

Minggu, Mei 04, 2008 3:26:00 PM Anonim mengatakan...

maaf sebelumnya, sehubungan dengan tulisan anda ini sayay yakin anda menilanya hanya dari satu segi mengenai filosofi ornag bengkulu ini, tapi coba anda juga pikirkan dari segi lainnya yakni dari cara pandang kemajuan. pola pikir macam ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa ini adalah pola pikir monoton dan tak ada kemauna untuk maju, akibatnya apa? ya akibatnya adalah ketertinggalan dalam berbagai hal karena berfikir terlalu simpel dan tak mau berusaha lebih jauh sehingga seakan-akan cepat menyerah, dan atak ada inisaiatif untuk berkembang mencapai kemajuan. coba tengok bangsa2 maju di dunia mereka bisa maju berkembang pesat dan bisa mencapai kemajuannya seperti sekarang ini karen mereka berpikir maju dan terus berupaya mmeperbaharui keadaan supaya lebih baik. maksud aya alangkah baiknya pola pikir tersebut jangan dijadikan sebagai acuan karena hal ini akan membuat rakyat bengkulu yang belum maju semakin terpuruk. semoga kita semua mengambil hikmah dari setiap pemikiran dan tindakan. terimakasih

Rabu, Mei 07, 2008 5:48:00 PM Herman mengatakan...

Terima kasih untuk tanggapan Saudara yang tak bernama (anonim).

Kata "maju" atau "modern" merupakan dua konsep yang seharusnya bisa dipahami secara "lain" oleh kita. Jangan sampai kita terjebak pada skenario globalisasi yang justru menghancurkan bangsa kita sendiri. "Maju" dan "modern" bukanlah berarti ada shopping mall, kemacetan jalan raya macam di Jakarta, atau pesta pora menyambut tahun baru. Bagi saya, "maju" dan "modern" adalah pola pikir yang semakin membuat kita menjalani hidup lebih manusiawi, bukan mesin atau robot yang dikendalikan oleh kapitalis. "Maju" dan "modern" haruslah semakin mendekatkan kita pada sisi humanisme.

Memang ada budaya buruk seperti jam karet. Tetapi "bergegas" adalah suatu budaya yang juga tidak boleh diarahkan untuk menjauhkan kita dari sisi humanis seperti "bersenda gurau" atau bertegur sapa dengan tetangga. Saya sudah mengalami kondisi dimana kata "maju" dan "modern" telah menyebabkan orang di Jakarta saling curiga dan saling tidak peduli pada sekelilingnya. Hidup yang humanis, yang manusiawi, adalah hidup yang melandaskan kebahagiaan bukan pada akumulasi materi yang diperoleh, tetapi lebih pada kebaikan-kebaikan pada sesama manusia bahkan pada alam sekitar kita (rahmatan lil 'alamin).

Artikel yang ditulis Ferdi Thajib Yogya yang Cepat dan Semakin Cepat dan Perlahan adalah Kecepatan yang Baru mungkin bisa sedikit membantu Anda memahami kenapa saya menulis artikel ini.

Saya juga baru memulai membaca buku hasil penelitian Naomi Klein berjudul The Shock Doctrine: The Rise of Disaster Capitalism. Sebelumnya, ia juga menulis buku No Logo yang cukup menggemparkan, yang kabarnya buku ini terlah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Mizan Bandung. Kedua buku itu menganalisis bagaimana Kapitalisme merangsek negara-negara berkembang bahkan negara miskin namun kaya sumber daya alam seperti Indonesia.

Tulisan saya berpijak pada fenomena globalisasi yang tidak ramah pada humanisme. Mungkin saya yang terlalu percaya diri bahwa orang seperti Anda akan lebih mudah memahami fenomena ini. Ada banyak referensi mengenai ini, dan kalau Anda telah tune in pada topik ini, saya akan dengan senang hati punya teman diskusi sepeti Anda.

Sekedar catatan: Bisakah Anda jelaskan pada bagian mana orang Bengkulu itu tidak maju? Jangan bicara soal gedung bertingkat atau banyaknya kendaraan bermotor ya, karena itu bukan ukuran untuk menilai maju tidaknya suatu masyarakat. Saya juga memahami ada banyak sisi yang harus kita perbaiki dari masyarakat Bengkulu. Karenanya blog Simpang Limo ini ada untuk tempat curah gagasan demi kajuan.

Kamis, Agustus 28, 2008 1:37:00 AM Epat mengatakan...

bro ijin pinjem fotonya untuk posting di blog ambo. bolehkan? thx :-D

Kamis, Agustus 28, 2008 10:22:00 AM Perawat Simpang Limo mengatakan...

Silahkan Epat, tapi kasih link ke sini yo.

Poskan Komentar

Silahkan memberikan komentar, tetapi yang relevan dengan posting yang ingin Anda komentari. Jangan pernah menjadikan ruang komentar ini untuk beriklan.